Minim Perawatan Medis, Lebih dari 300 Tahanan Tewas di Penjara Sudan

- Wabah kolera merebak di dalam penjara.
- Pasukan RSF juga dituduh kerap meninggalkan jenazah tahanan yang meninggal di dalam sel bersama tahanan lainnya dalam waktu yang lama.
- Puluhan warga sipil tewas di el-Fasher setiap minggunya
Jakarta, IDN Times - Lebih dari 300 orang dilaporkan tewas dalam 2 bulan terakhir di sebuah penjara yang dikelola oleh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di negara bagian Darfur Utara, Sudan. Kematian mereka disebabkan oleh kondisi kesehatan yang memburuk dan kurangnya akses terhadap perawatan medis dasar.
The Popular Resistance, sebuah organisasi sukarelawan di Sudan, mengatakan bahwa buruknya kondisi medis di penjara Shala di wilayah barat daya el-Fasher telah memicu wabah infeksi yang parah, terutama di kalangan warga sipil yang terluka akibat pengeboman.
Penjara tersebut telah berada di bawah kendali RSF sejak akhir Oktober 2025 dan diperkirakan menampung sekitar 9 ribu warga sipil dalam kondisi yang mengenaskan, dilansir dari Sudan Tribune.
1. Wabah kolera merebak di dalam penjara

Pasukan RSF juga dituduh kerap meninggalkan jenazah tahanan yang meninggal di dalam sel bersama tahanan lainnya dalam waktu yang lama. The Popular Resistance menggambarkan tindakan tersebut sebagai pelanggaran mencolok terhadap martabat manusia.
Kelompok itu juga memperingatkan adanya wabah kolera yang merebak di Penjara Shala. Sebanyak 5-10 tahanan dilaporkan meninggal setiap minggu akibat penyebaran penyakit tersebut serta minimnya upaya pencegahan dan pengobatan.
2. Puluhan warga sipil tewas di el-Fasher setiap minggunya

The Popular Resistance juga menuduh RSF melakukan pembunuhan di luar proses hukum. Mereka mengatakan bahwa pekan lalu, sedikitnya 15 orang dieksekusi di sebuah asrama universitas setelah dituduh tergabung dalam Joint Force, sebuah koalisi kelompok bersenjata yang mendukung militer Sudan.
Organisasi sukarelawan itu menyebut situasi kemanusiaan di el-Fasher sebagai katastrofis, dengan puluhan warga sipil tewas setiap minggu akibat pembunuhan, kelalaian medis, kelaparan, dan wabah penyakit.
Mereka pun mendesak pemerintah untuk segera merebut kembali Darfur Utara dan menyerukan organisasi internasional serta lembaga kemanusiaan untuk segera turun tangan guna menyelamatkan warga sipil dan tahanan dari pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlanjut.
3. RSF eksekusi, perkosa dan jarah warga sipil

El-Fasher dikuasai oleh RSF pada Oktober 2025 setelah pengepungan selama lebih dari 550 hari. Awal Februari, Dokter Lintas Batas (MSF) melaporkan bahwa sebagian besar kota tersebut telah hancur, dengan sedikit warga sipil yang tersisa.
Dilansir dari MEE, mereka yang berhasil melarikan diri dari el-Fasher mengungkapkan bahwa banyak warga sipil dieksekusi, diperkosa, dan dijarah oleh pasukan RSF. Kelompok pemberontak tersebut juga dilaporkan menargetkan warga dengan disabilitas dan menjebak orang-orang di parit sebelum akhirnya menembaki mereka.
Sekitar 260 ribu orang tinggal di el-Fasher sebelum kota tersebut dikuasai oleh RSF. Namun, pada Desember 2025, hanya ada 70 ribu - 100 ribu orang yang diperkirakan masih terjebak di dalam kota, menurut Program Pangan Dunia (WFP).


















