Penularan campak di Jepang pada awal tahun 2026 ini salah satunya dipicu oleh riwayat perjalanan luar negeri. Sekitar 18 persen dari total kasus teridentifikasi berasal dari individu yang bepergian ke negara-negara seperti Indonesia, Korea Selatan, Filipina, dan kawasan Eropa.
Fokus utama otoritas kesehatan saat ini juga mencakup transmisi lokal. Virus campak menular melalui udara (airborne) dan dapat bertahan lama di ruang tertutup. Warga yang tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri kini dilaporkan terpapar setelah beraktivitas di area publik atau pusat keramaian. Sebagai contoh, sebuah klaster penularan terjadi di sebuah restoran di Shinjuku, Tokyo, di mana sembilan karyawan pria berusia 20-an terinfeksi secara bersamaan tanpa riwayat perjalanan ke luar negeri. Hal ini menunjukkan tingginya potensi penularan virus di lingkungan ruang tertutup.
Penularan serupa juga ditemukan di institusi pendidikan. Di sebuah sekolah menengah di Aichi, 16 orang yang terdiri dari siswa dan guru terkonfirmasi positif campak. Kasus lainnya dilaporkan setelah acara kelulusan sekolah di Kagoshima yang mengakibatkan 13 orang terpapar virus.
"Saya berharap warga yang ingin bepergian ke daerah wabah segera memeriksa catatan vaksinasi mereka. Segeralah melengkapi vaksinasi jika memang diperlukan," imbau Tomimasa Sunagawa, dilansir The Japan Times.
Pemerintah juga menginstruksikan masyarakat untuk melakukan isolasi mandiri dan pemantauan kesehatan selama 21 hari jika memiliki riwayat kontak atau berada di lokasi yang sama dengan pasien terkonfirmasi, serta menghindari penggunaan transportasi umum.