Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Anak Jepang makin Banyak Mogok Sekolah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Anak Jepang makin Banyak Mogok Sekolah, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
ilustrasi anak-anak di Jepang sedang bermain (pexels.com/Artem Zhukov)
Intinya Sih
  • Jumlah anak Jepang yang mogok sekolah meningkat meski populasi menurun, menunjukkan masalah mendalam di balik sistem pendidikan yang tampak disiplin.
  • Faktor utama meliputi bullying, kelelahan sosial, sistem belajar kaku, serta hubungan tidak sehat dengan guru yang memicu tekanan emosional berat bagi siswa.
  • Banyak anak memilih berhenti sekolah bukan karena malas, tapi untuk melindungi diri dari tekanan mental dan mencari ruang belajar yang lebih aman serta fleksibel.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kalau kamu melihat Jepang sebagai negara dengan sistem pendidikan disiplin dan tertata, fenomena makin banyaknya anak mogok sekolah tentu terasa mengejutkan. Di tengah jumlah anak yang terus menurun, angka siswa yang menolak datang ke sekolah justru terus naik.

Dilansir The Japan Times, di beberapa kelas sekolah dasar di Prefektur Miyagi, rata-rata ada satu sampai dua anak yang gak hadir secara rutin, sementara di SMP jumlahnya bisa mencapai dua sampai tiga anak per kelas. Kondisi ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar soal malas belajar, melainkan ada tekanan yang jauh lebih dalam.

Supaya kamu lebih paham, ada beberapa alasan utama kenapa makin banyak anak Jepang memilih menjauh dari sekolah.

1. Tekanan dari teman sebaya makin berat

ilustrasi bullying (pexels.com/Mikhail Nilov)
ilustrasi bullying (pexels.com/Mikhail Nilov)

Salah satu pemicu terbesar anak mogok sekolah adalah masalah hubungan dengan teman sekelas. Data survei kementerian pendidikan Jepang tahun 2021 menunjukkan lebih dari 25 persen siswa SD dan SMP mulai enggan sekolah karena konflik dengan teman, termasuk bullying dan pelecehan.

Angka ini memperlihatkan bahwa ruang kelas yang terlihat normal dari luar belum tentu terasa aman bagi semua anak. Bagi sebagian siswa, komentar kasar kecil yang terjadi setiap hari bisa berubah menjadi luka psikologis besar.

Kasus seperti yang dialami Minato memperlihatkan betapa seriusnya dampak bullying. Ia terus menerima hinaan dari teman-temannya sejak tahun pertama SMP, bahkan sampai mendengar ucapan menyakitkan seperti dirinya sebaiknya mati.

Meski sudah mencoba bercerita ke wali kelas, masalah itu gak dianggap serius. Akibat tekanan yang terus menumpuk, ia akhirnya memilih berhenti sekolah setelah mengalami titik terendah dalam hidupnya.

Situasi serupa juga terlihat pada Mika, siswi SD di Sendai. Setelah masuk kelas empat, suasana kelas yang tadinya nyaman berubah drastis. Meja dan kotak pensilnya dicoret, buku pelajaran disembunyikan, sampai rasa takut itu mulai memengaruhi kondisi fisiknya.

Luka emosional seperti ini sering tumbuh diam-diam sampai akhirnya anak merasa rumah adalah satu-satunya tempat aman.

2. Kelelahan sosial bikin anak kehilangan energi

ilustrasi anak perempuan di Jepang
ilustrasi anak perempuan di Jepang (pexels.com/shigeko eguchi)

Gak semua anak yang mogok sekolah mengalami bullying terang-terangan. Ada juga yang lelah karena terus merasa harus menjaga citra di depan teman dan guru.

Tekanan untuk selalu terlihat ceria, ramah, dan bisa mengikuti ekspektasi lingkungan ternyata bisa menguras energi mental secara perlahan. Untuk anak yang sensitif, aktivitas sosial di sekolah bisa terasa seperti pekerjaan emosional yang gak pernah selesai.

Ria, siswi SMP tahun kedua di Sendai, mengalami hal ini. Setiap hari ia memaksakan diri tersenyum, selalu menerima ajakan teman, bahkan memikirkan setiap pesan di aplikasi Line dengan sangat hati-hati.

Rumah yang seharusnya jadi tempat istirahat justru tetap terasa penuh tekanan karena notifikasi ponsel langsung mengingatkannya pada dinamika pertemanan di sekolah. Pada akhirnya, ia kehabisan tenaga untuk mempertahankan versi dirinya yang “sempurna”.

Saat guru menyarankan agar ia mencoba belajar bersama teman, saran itu justru terasa menyakitkan karena akar masalahnya gak dipahami. Respons emosional Ria setelah pulang menunjukkan bahwa kelelahan sosial bisa sama beratnya dengan bullying langsung. Dari luar mungkin terlihat sepele, tapi bagi anak yang mengalaminya, itu terasa sangat melelahkan.

3. Sistem belajar yang terlalu kaku gak cocok untuk semua anak

ilustrasi anak sekolah di Jepang
ilustrasi anak sekolah di Jepang (pexels.com/Tien Nguyen)

Alasan lain yang cukup besar adalah model pembelajaran sekolah yang terasa terlalu seragam. Semua siswa mengikuti jadwal sama, buku yang sama, dan ritme belajar yang sama. Padahal kemampuan dan rasa ingin tahu tiap anak berbeda. Ada anak yang merasa pelajaran terlalu sulit, tapi ada juga yang justru bosan karena materi terus diulang.

Minami menjadi contoh menarik soal ini. Ia sebenarnya suka belajar, akrab dengan teman, dan gak punya masalah dengan guru. Namun ia merasa jenuh karena harus mempelajari hal yang menurutnya sudah ia kuasai berulang-ulang. Ia lebih ingin mendalami hal-hal yang benar-benar membuatnya penasaran.

Menurut survei tahun 2023 dari organisasi nirlaba Tayona Manabi Project, 35,2 persen anak menyebut kelas gak sesuai dengan kebutuhan mereka sebagai alasan mogok sekolah. Ada yang merasa pelajaran membosankan, ada pula yang kesulitan membaca dan menulis. Artinya, sistem yang terlalu kaku bisa membuat anak dengan kebutuhan belajar berbeda merasa terjebak.

4. Hubungan dengan guru juga sangat berpengaruh

ilustrasi anak kecil jalan kaki sendirian
ilustrasi anak kecil jalan kaki sendirian (unsplash.com/PJH)

Selain teman, hubungan dengan guru punya dampak besar terhadap kenyamanan anak di sekolah. Dalam survei kementerian pendidikan Jepang tahun 2021, masalah dengan guru menjadi alasan paling umum pada siswa SD sebesar 29,7 persen, serta alasan ketiga terbesar pada siswa SMP sebesar 27,5 persen. Angka ini menunjukkan bahwa sosok guru yang seharusnya jadi tempat aman justru bisa menjadi sumber kecemasan.

Maki, siswi kelas tiga SD, mengalami rasa takut yang tumbuh dari suara keras wali kelasnya sejak kelas satu. Bahkan saat guru memarahi siswa lain, ia merasa kemarahan itu ditujukan kepadanya. Akibatnya, hari-harinya di kelas selalu diwarnai rasa tegang. Perasaan cemas yang terus menerus seperti ini lama-lama membuat anak kehilangan rasa aman.

Hal kecil pun bisa meninggalkan bekas besar. Saat pelajaran menggambar, Maki ingin mewarnai rumah dengan warna pink, tapi gurunya menyuruh memakai hijau tua. Ia menurut, meski sebenarnya gak suka. Dari situ rasa takutnya makin besar, sampai akhirnya ia lebih sering berada di ruang UKS lalu berhenti sekolah sepenuhnya dan pindah ke fasilitas belajar alternatif yang memberinya kebebasan berekspresi.

Fenomena anak Jepang yang makin banyak mogok sekolah ternyata berakar pada banyak hal, mulai dari bullying, kelelahan sosial, sistem belajar yang terlalu kaku, sampai hubungan yang gak sehat dengan guru. Dari kisah-kisah ini, kamu bisa melihat bahwa alasan anak berhenti sekolah sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar gak mau belajar.

Banyak dari mereka sebenarnya sedang berusaha melindungi diri dari tekanan mental yang tak terlihat orang dewasa. Karena itu, memahami perasaan anak dan memberi ruang belajar yang lebih fleksibel jadi langkah penting agar sekolah kembali terasa aman. Pada akhirnya, masalah ini bukan soal absensi, tapi soal bagaimana lingkungan pendidikan benar-benar mampu memahami kebutuhan emosional setiap anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More