Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kekeringan Parah di Maharashtra, India Siapkan Bantuan Darurat
Ilustrasi Kekeringan (pixabay.com/Seaq68)
  • Pemerintah Maharashtra menetapkan 34 dari 36 distrik, sekitar 74 persen wilayahnya, terdampak kekeringan akibat defisit hujan dan jeda monsun panjang yang mengganggu pertanian serta pasokan air.
  • Defisit curah hujan Maharashtra mencapai 18,8 persen pada Juni–18 September 2026; sejumlah daerah Marathwada tak menerima hujan signifikan sejak Juli, memperparah kerusakan tanaman, ternak, dan kebutuhan air.
  • Pemerintah mengaktifkan Trigger-1, mendata kerusakan tanaman, serta menyiapkan restrukturisasi pinjaman, keringanan pajak dan listrik, penundaan tagihan, serta pasokan air, pangan, dan pakan ternak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Maharashtra, India, menetapkan 34 dari 36 distrik sebagai wilayah terdampak kekeringan pada Sabtu (26/9/2026). Penetapan tersebut mencakup sekitar 74 persen wilayah Maharashtra setelah defisit curah hujan dan jeda panjang monsun berdampak pada pertanian serta ketersediaan air.

Pemerintah mengaktifkan tahap pertama mekanisme penanganan kekeringan atau Trigger-1 untuk wilayah terdampak. Sejumlah langkah bantuan disiapkan, termasuk restrukturisasi pinjaman pertanian, keringanan pajak lahan, bantuan listrik untuk pompa pertanian, serta penyediaan air dan pakan ternak.

1. Tiga perempat wilayah Maharashtra terdampak kekeringan

Wilayah terdampak mencakup sejumlah kawasan di Marathwada, Vidarbha, Maharashtra bagian barat dan utara, serta sebagian Konkan. Beberapa daerah mengalami defisit hujan yang cukup besar. Di wilayah Chhatrapati Sambhajinagar, misalnya, curah hujan pada periode 1 Juni hingga 18 September tercatat 424,5 milimeter, sedangkan rata-rata normalnya mencapai 613,1 milimeter atau defisit sekitar 30,8 persen.

"Saya belum pernah melihat kekeringan separah ini. Kerusakan lahan pertanian sangat masif akibat kemarau panjang," ujar Menteri Kerja Sama Maharashtra, Babasaheb Patil, dilansir The Hindu.

Kondisi tersebut berdampak pada tanaman, ternak, serta kebutuhan air sehari-hari masyarakat di sejumlah wilayah pedesaan. Pemerintah kemudian meminta pejabat distrik melakukan pendataan kerusakan tanaman sebagai dasar penanganan lebih lanjut.

2. Defisit hujan memperburuk kondisi kekeringan

Kekeringan di Maharashtra terjadi setelah periode tanpa hujan yang cukup panjang pada 2026. Sejumlah wilayah di Marathwada, termasuk Dharashiv dan Beed, dilaporkan tidak mendapat hujan signifikan sejak Juli sehingga persediaan air dan kondisi pertanian semakin tertekan.

Data pemerintah menunjukkan Maharashtra mengalami defisit curah hujan sekitar 18,8 persen pada periode Juni hingga 18 September. Di sejumlah distrik, kekurangan hujan tercatat jauh lebih tinggi dan berdampak pada tanaman.

"Defisit air di waduk menunjukkan situasi yang sangat genting untuk keberlanjutan pertanian kita ke depan," kata pakar manajemen air, Madhav Chitale.

3. Bantuan dari pemerintah untuk wilayah terdampak kekeringan

Kondisi kekeringan meningkatkan risiko kerusakan tanaman kharif, termasuk kedelai, kapas, jagung, millet, tur, moong, dan urad. Pemerintah Maharashtra memerintahkan pejabat distrik melakukan pendataan kerusakan tanaman sebelum menentukan bantuan berdasarkan hasil penilaian lapangan.

Pemerintah juga mengumumkan sejumlah langkah bantuan bagi wilayah terdampak. Kebijakan tersebut mencakup restrukturisasi pinjaman pertanian, keringanan pajak lahan, penundaan penagihan pinjaman terkait pertanian, serta keringanan tagihan listrik untuk pompa pertanian.

"Pemerintah berdiri bersama para petani. Kami memastikan keluarga pedesaan menerima bantuan tepat pada waktunya," kata Kepala Menteri Maharashtra, Devendra Fadnavis.

Selain bantuan untuk petani, pemerintah menyiapkan pasokan air minum, pangan, dan pakan ternak di wilayah yang mengalami kekurangan air. Pemerintah juga dapat mengerahkan tangki air serta memberikan sejumlah keringanan bagi masyarakat di kawasan terdampak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article