Ilustrasi Perawat (pexels.com/Laura James)
Seorang perawat berusia 25 tahun di Benggala Barat, India, meninggal dunia pada Kamis (12/2/2026) setelah berjuang melawan komplikasi berat akibat infeksi virus Nipah. Pasien mulai menunjukkan gejala klinis sejak 31 Desember 2025 setelah kembali ke kediamannya di Katwa, distrik Purba Bardhaman. Karena kondisinya yang terus memburuk, ia sempat mendapatkan perawatan di fasilitas medis pemerintah sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit swasta di Barasat untuk penanganan intensif.
Kondisi pasien secara resmi didiagnosis sebagai infeksi virus Nipah pada 11 Januari 2026 berdasarkan hasil uji laboratorium di AIIMS Kalyani. Selama masa perawatan di Unit Perawatan Kritis, pasien mengalami penurunan kesadaran yang drastis dan harus bergantung sepenuhnya pada alat bantu pernapasan atau ventilator. Meski sempat menunjukkan sedikit perbaikan pada akhir Januari, kesehatan pasien kembali merosot tajam akibat munculnya infeksi paru-paru sekunder yang diperparah oleh kondisi sistem imun yang melemah.
Sekretaris Kesehatan Benggala Barat, Narayan Swaroop Nigam, menjelaskan bahwa penyebab utama kematian tenaga medis tersebut adalah kegagalan sistem kardiovaskular.
"Wanita tersebut, yang berada dalam kondisi kritis, meninggal dunia akibat henti jantung," katanya, dilansir The Straits Times.
Selain henti jantung, pihak rumah sakit mengungkapkan bahwa pasien juga mengalami komplikasi multi-organ yang kompleks, termasuk sepsis dan syok septik, sebelum mengembuskan napas terakhirnya.
Meskipun hasil tes virus terakhir menunjukkan hasil negatif, kerusakan organ yang dialami pasien sudah bersifat permanen dan fatal. Berbeda dengan kasus perawat tersebut, seorang rekan kerja laki-laki berusia 22 tahun yang juga terinfeksi dilaporkan telah pulih sepenuhnya dan diperbolehkan pulang. Saat ini, otoritas setempat memastikan proses pemulasaraan jenazah dilakukan dengan standar keamanan yang tinggi untuk mencegah risiko penularan lebih lanjut.