Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bendera india (unsplash.com/Naveed Ahmed)
bendera india (unsplash.com/Naveed Ahmed)

Intinya sih...

  • Perawat di Benggala Barat meninggal akibat komplikasi virus Nipah.

  • Gejala awal yang dialami oleh perawat.

  • Pemerintah India pastikan risiko penularan virus Nipah terkendali.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Seorang perawat di negara bagian Benggala Barat, India, meninggal dunia pada Kamis (12/2/2026), akibat komplikasi berat dari infeksi virus Nipah. Tenaga kesehatan tersebut mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan virus yang pertama kali terdeteksi pada akhir tahun lalu. Peristiwa tragis ini memicu perhatian serius dari otoritas medis setempat mengingat risiko penularan virus tersebut yang cukup tinggi.

Otoritas kesehatan segera melakukan langkah mitigasi darurat untuk memantau situasi epidemiologi di sekitar lokasi kejadian. Pemerintah berupaya keras mencegah terjadinya penularan baru, baik di lingkungan fasilitas kesehatan maupun di tengah masyarakat luas. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas kondisi kesehatan publik pasca meninggalnya tenaga medis tersebut.

1. Perawat di Benggala Barat meninggal akibat komplikasi virus Nipah

Ilustrasi Perawat (pexels.com/Laura James)

Seorang perawat berusia 25 tahun di Benggala Barat, India, meninggal dunia pada Kamis (12/2/2026) setelah berjuang melawan komplikasi berat akibat infeksi virus Nipah. Pasien mulai menunjukkan gejala klinis sejak 31 Desember 2025 setelah kembali ke kediamannya di Katwa, distrik Purba Bardhaman. Karena kondisinya yang terus memburuk, ia sempat mendapatkan perawatan di fasilitas medis pemerintah sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit swasta di Barasat untuk penanganan intensif.

Kondisi pasien secara resmi didiagnosis sebagai infeksi virus Nipah pada 11 Januari 2026 berdasarkan hasil uji laboratorium di AIIMS Kalyani. Selama masa perawatan di Unit Perawatan Kritis, pasien mengalami penurunan kesadaran yang drastis dan harus bergantung sepenuhnya pada alat bantu pernapasan atau ventilator. Meski sempat menunjukkan sedikit perbaikan pada akhir Januari, kesehatan pasien kembali merosot tajam akibat munculnya infeksi paru-paru sekunder yang diperparah oleh kondisi sistem imun yang melemah.

Sekretaris Kesehatan Benggala Barat, Narayan Swaroop Nigam, menjelaskan bahwa penyebab utama kematian tenaga medis tersebut adalah kegagalan sistem kardiovaskular.

"Wanita tersebut, yang berada dalam kondisi kritis, meninggal dunia akibat henti jantung," katanya, dilansir The Straits Times.

Selain henti jantung, pihak rumah sakit mengungkapkan bahwa pasien juga mengalami komplikasi multi-organ yang kompleks, termasuk sepsis dan syok septik, sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

Meskipun hasil tes virus terakhir menunjukkan hasil negatif, kerusakan organ yang dialami pasien sudah bersifat permanen dan fatal. Berbeda dengan kasus perawat tersebut, seorang rekan kerja laki-laki berusia 22 tahun yang juga terinfeksi dilaporkan telah pulih sepenuhnya dan diperbolehkan pulang. Saat ini, otoritas setempat memastikan proses pemulasaraan jenazah dilakukan dengan standar keamanan yang tinggi untuk mencegah risiko penularan lebih lanjut.

2. Gejala awal yang dialami oleh perawat

Ilustrasi Rumah Sakit (pexels.com/Pixabay)

Virus zoonosis yang dibawa oleh kelelawar buah ini dikenal sangat patogen karena mampu menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis yang fatal pada manusia. Penularan virus ini dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi atau melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita.

Gejala awal yang dialami oleh perawat tersebut mulanya menyerupai infeksi pernapasan akut, seperti demam tinggi dan nyeri tenggorokan. Namun, dalam waktu singkat, virus tersebut menyerang fungsi saraf yang menyebabkan penurunan kesadaran secara cepat. Dr. Rajeev Jayadevan, seorang pakar riset medis, menjelaskan bahwa agresi virus ini terhadap sistem saraf sangat berbahaya.

"Gejala awalnya adalah demam, nyeri tubuh, sakit kepala, namun pada orang yang mengalami infeksi otak setelah itu, mereka mungkin mengalami kejang, kelumpuhan, atau koma," ujar Jayadevan.

Kondisi pasien semakin memburuk akibat adanya kerusakan pada sel pembuluh darah yang memicu peradangan sistemik di seluruh tubuh. Infeksi tersebut juga mengganggu fungsi otonom yang mengatur detak jantung, sehingga menyebabkan kegagalan sistem kardiovaskular. Para ahli epidemiologi memperingatkan bahwa virus ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, yakni berkisar antara 40 hingga 75 persen, yang jauh melampaui tingkat fatalitas banyak penyakit menular lainnya.

Selain menyerang otak, virus Nipah sering kali menyebabkan gangguan paru-paru berat yang mempersulit proses pemulihan pasien. Tantangan terbesar dalam penanganan wabah ini adalah masa inkubasi virus yang bervariasi antara 4 hingga 45 hari, sehingga sulit dideteksi sejak dini.

3. Pemerintah India pastikan risiko penularan virus Nipah terkendali

Bendera India. (unsplash.com/aboodi_vm)

Pemerintah India segera mengaktifkan protokol respons wabah nasional melalui National Centre for Disease Control (NCDC), menyusul konfirmasi kematian seorang perawat akibat virus Nipah. Langkah utama yang diambil adalah melakukan pelacakan kontak secara luas terhadap 196 orang yang sempat berinteraksi dengan pasien. Berdasarkan hasil tes laboratorium terbaru, seluruh individu dalam daftar pelacakan tersebut dinyatakan negatif, sehingga otoritas kesehatan memastikan bahwa risiko penularan lebih lanjut saat ini sudah terkendali.

Sebagai langkah pencegahan primer, pemerintah Benggala Barat mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi buah-buahan yang memiliki bekas gigitan hewan, terutama kelelawar. Warga juga diingatkan untuk selalu mencuci buah dengan benar dan tidak mengonsumsi nira pohon palem dalam kondisi mentah. Sementara itu, beberapa negara tetangga seperti Thailand dan Singapura sempat memperketat pengawasan suhu tubuh di bandara bagi pelaku perjalanan dari wilayah terdampak guna mencegah adanya kasus serupa.

Saat ini, otoritas kesehatan memastikan tidak ada lagi kasus aktif virus Nipah yang terdeteksi di Benggala Barat. Kementerian Kesehatan India meminta masyarakat untuk tetap tenang dan hanya mempercayai informasi resmi guna menghindari kepanikan akibat berita bohong. Pengalaman penanganan wabah serupa pada masa lalu telah memperkuat kesiapan sistem kesehatan setempat dalam melakukan isolasi pasien dan manajemen keamanan biologis secara ketat untuk melindungi masyarakat luas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team