Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Jalan Inggris Meleleh saat Panas, India Justru Tetap Kokoh?
ilustrasi perbaikan jalan (pexels.com/Rodolfo Gaion)
  • Gelombang panas ekstrem di Inggris menyebabkan jalan melunak karena aspal dirancang lentur untuk menghadapi musim dingin, bukan suhu tinggi sekitar 40 derajat Celsius.
  • India menggunakan bitumen keras seperti VG-30 dan VG-40 dengan agregat besar agar jalan tetap kokoh menghadapi suhu di atas 45 derajat Celsius dan lalu lintas padat.
  • Perbedaan ketahanan jalan Inggris dan India berasal dari prioritas rekayasa sesuai iklim lokal: fleksibilitas untuk cuaca dingin versus kekentalan tinggi untuk panas ekstrem.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Gelombang suhu tinggi yang memecahkan rekor di sejumlah wilayah Eropa membuat permukaan jalan di Inggris mulai melunak dan rusak ketika suhu menyentuh sekitar 40 derajat Celsius. Kondisi ini memicu perbandingan dengan India, yang rutin mengalami suhu musim panas di atas 45 derajat Celsius tanpa mengalami kerusakan jalan secara luas.

Perbedaan daya tahan tersebut bukan disebabkan oleh kualitas infrastruktur salah satu negara yang lebih buruk. Melansir laporan NDTV, para insinyur di kedua negara merancang konstruksi jalan untuk menghadapi kondisi cuaca normal yang biasa terjadi di wilayah masing-masing, bukan untuk cuaca ekstrem yang langka.

1. Jalan Inggris dirancang lentur demi bertahan di musim dingin

ilustrasi jalan di musim dingin (pexels.com/Magda Ehlers)

Konstruksi jalan di Inggris secara tradisional difokuskan untuk bertahan dari musim dingin yang panjang dengan siklus pembekuan dan pencairan yang berulang. Guna mencegah keretakan saat suhu turun di bawah nol derajat, jalanan di sana membutuhkan tingkat fleksibilitas yang tinggi.

Oleh karena itu, Inggris menggunakan Hot Rolled Asphalt (HRA) dan beton aspal padat. Campuran ini menggunakan jenis bitumen (aspal cair) yang lebih lunak serta agregat (material pasir/batu) yang lebih halus. Sifatnya yang lentur membuat jalan dapat mengembang dan menyusut tanpa mudah retak saat dingin. Namun, karakteristik fleksibel inilah yang menjadi kelemahan utama saat menghadapi gelombang panas.

2. Jalan India menggunakan material keras untuk melawan suhu tinggi

ilustrasi jalan tahan panas (pexels.com/Yigithan Bal)

Sebaliknya, India menghadapi tantangan iklim yang berbeda, yaitu paparan sinar matahari yang menyengat selama berbulan-bulan dan volume lalu lintas yang padat. Jalan di negara tersebut tidak diprioritaskan untuk menghadapi periode pembekuan yang lama, melainkan untuk menjaga kekuatan struktur saat musim panas.

Untuk mengatasinya, India menggunakan bitumen kelas keras dengan tingkat kekentalan tinggi, seperti Viscosity Grade 30 (VG-30) dan VG-40, serta campuran beton aspal dengan agregat berukuran lebih besar. Kombinasi material ini membuat permukaan jalan di India tetap stabil, kokoh, serta resisten terhadap deformasi atau amblas akibat beban kendaraan berat di tengah cuaca panas.

3. Karakteristik bitumen menentukan ketahanan terhadap perubahan cuaca

ilustrasi perbaikan jalan (pexels.com/Tom Shamberger)

Pada akhirnya, perbedaan performa jalan ini murni masalah prioritas rekayasa teknik berdasarkan iklim lokal. Dilansir India Today, Inggris mengutamakan kelenturan material aspal agar jalan tidak pecah akibat membeku, sementara India mengutamakan viskositas tinggi agar aspal tidak meleleh akibat radiasi panas matahari.

Suhu mendekati 40 derajat Celsius yang menjadi tantangan langka dan ekstrem bagi aspal lunak di Eropa, merupakan kondisi musim panas biasa yang sudah siap dihadapi oleh material keras pada jalanan di India setiap tahunnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article