Sederet Dampak yang Dipicu Gelombang Panas Ekstrem di Eropa
- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, menewaskan puluhan orang akibat tenggelam dan sengatan panas, terutama di Prancis yang mencatat 40 korban sejak pertengahan Juni.
- Suhu tinggi mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi di Prancis, memicu pembatalan perjalanan kereta, penyesuaian jam operasional wisata, serta lonjakan permintaan alat pendingin.
- Negara-negara seperti Spanyol, Italia, Inggris, dan Belgia menerapkan langkah darurat seperti membuka tempat penampungan ber-AC dan memindahkan kegiatan sekolah demi melindungi warga dari heatwave.
Jakarta, IDN Times - Gelombang panas ekstrem melanda sebagian besar wilayah Eropa, menyebabkan puluhan kematian akibat paparan udara panas dan kecelakaan di air. Situasi darurat ini memaksa pemerintah di sejumlah negara segera mengaktifkan protokol keselamatan tingkat tinggi.
Suhu udara di kawasan itu diperkirakan masih akan terus meningkat hingga akhir pekan. Menurut laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), suhu di Eropa memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata pemanasan global.
1. Korban tewas akibat cuaca panas ekstrem di Prancis

Di Prancis, angka kematian di perairan meningkat seiring naiknya suhu udara. Banyak warga, terutama anak muda, tenggelam saat berenang di tempat yang tidak diawasi petugas demi menghindari panas.
Selain itu, suhu ekstrem juga menyebabkan dua balita berusia dua dan empat tahun meninggal di dalam mobil yang terparkir di Kota Carpentras. Kejaksaan setempat menduga kematian itu murni akibat sengatan panas.
Pemerintah Prancis segera menggelar rapat darurat untuk mengoordinasikan langkah-langkah penyelamatan warga.
"Terjadi bencana tenggelam yang sangat tragis. Data terbaru yang kami terima menunjukkan 40 kematian sejak 18 Juni, dan sebagian besar korbannya adalah anak muda," ujar Perdana Menteri Prancis, Sébastien Lecornu, dilansir The Guardian.
2. Dampak buruk terhadap aktivitas sosial dan ekonomi

Tingginya suhu udara mulai menghambat produktivitas kerja dan mengganggu layanan transportasi umum di Prancis. Sejumlah perjalanan kereta cepat terpaksa dibatalkan karena infrastruktur rel terdampak panas ekstrem.
Beberapa tempat wisata populer, termasuk Menara Eiffel, juga memperpendek jam operasional mereka. Di sektor perdagangan, stok kipas angin listrik di sebagian besar toko habis akibat tingginya permintaan warga.
Asosiasi Pengusaha Prancis (MEDEF) berusaha menyesuaikan kondisi kerja demi melindungi keselamatan para karyawan di berbagai sektor.
"Prancis bergerak lebih lambat dari biasanya. Sebisa mungkin, perusahaan-perusahaan mengikuti panduan yang ada demi melindungi karyawan mereka," kata Kepala MEDEF, Patrick Martin.
3. Antisipasi krisis iklim di negara tetangga

Selain Prancis, negara-negara seperti Spanyol, Italia, dan Inggris juga menerima peringatan bahaya tingkat tinggi dari badan cuaca setempat. Pemerintah di negara-negara itu mulai mengaktifkan fasilitas perlindungan sosial.
Kota Madrid di Spanyol telah membuka beberapa tempat penampungan ber-AC untuk warga miskin dan tunawisma. Langkah ini diprioritaskan untuk mencegah kematian akibat serangan heatstroke.
Sementara itu di Belgia, sebuah sekolah dasar memindahkan ujian akhir murid-muridnya ke dalam gedung gereja. Hal ini dilakukan untuk menghindari ruang kelas yang terlalu panas.


















