Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Gelombang Panas Maut Hantam Eropa, Benua Biru Membara

Gelombang Panas Maut Hantam Eropa, Benua Biru Membara
ilustrasi gelombang panas (pixabay.com/Silence_Compass)
Intinya Sih
  • Gelombang panas ekstrem melanda Eropa dengan suhu mencapai 44°C, menyebabkan lebih dari 1.300 kematian berlebih dan menekan sistem kesehatan di berbagai negara seperti Prancis, Jerman, dan Spanyol.
  • Fenomena heat dome dan perubahan iklim memperparah frekuensi serta intensitas gelombang panas, memicu risiko kesehatan serius seperti heatstroke dan gagal organ terutama bagi kelompok rentan.
  • Pemerintah Eropa memperkuat adaptasi melalui perlindungan pekerja, pembangunan ruang hijau, serta sistem pendinginan ramah lingkungan untuk menghadapi ancaman suhu ekstrem yang diprediksi makin sering terjadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Gelombang panas ekstrem kembali melanda Eropa dengan intensitas yang semakin mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari terakhir, suhu di sejumlah negara menembus 40 derajat celsius, bahkan mencapai 44 derajat celsius di beberapa wilayah Prancis.

Cuaca panas berkepanjangan itu tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menyebabkan lonjakan angka kematian, membebani fasilitas kesehatan, hingga menguji kesiapan infrastruktur yang selama ini dibangun untuk menghadapi musim dingin, bukan suhu ekstrem.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sedikitnya 1.300 kematian berlebih (excess deaths) di Eropa sejak 21 Juni 2026. Istilah excess deaths merujuk pada jumlah kematian yang melebihi rata-rata normal pada periode yang sama, yang menurut para ahli sangat berkaitan dengan dampak gelombang panas.

Prancis menjadi negara dengan jumlah korban terbesar. Badan kesehatan masyarakat setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih sejak gelombang panas dimulai pada 20 Juni. Sementara itu, suhu hingga 40 derajat celsius juga tercatat di Jerman, Republik Ceko, dan Polandia, mengganggu layanan transportasi dan aktivitas warga.

Di tengah kondisi tersebut, WHO memperingatkan bahwa Eropa kini merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Infrastruktur yang ada dinilai belum siap menghadapi suhu setinggi yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, fenomena gelombang panas yang dahulu dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini berubah menjadi kejadian yang hampir berlangsung setiap tahun.

“Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang dulu terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun,” tulis Tedros melalui akun X, dikutip dari Al Jazeera Selasa (30/6/2026).

Ia juga mengingatkan Eropa memanas dengan laju dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global, sementara banyak infrastruktur di kawasan tersebut belum dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem.

1. Suhu tembus 44 derajat, ribuan orang kehilangan nyawa

Gelombang panas di Eropa barat.
ilustrasi serangan gelombang panas (pexels.com/Sean P. Twomey)

Dampak paling nyata dari gelombang panas terlihat dari meningkatnya angka kematian di sejumlah negara Eropa. Di Prancis, sebelum gelombang panas datang, angka kematian harian berada di kisaran 900 orang. Setelah suhu meningkat tajam, otoritas kesehatan mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih hanya dalam beberapa hari.

Sebagian besar korban merupakan warga lanjut usia berusia 65 tahun ke atas. Namun, otoritas kesehatan menegaskan panas ekstrem turut mempengaruhi kesehatan seluruh kelompok usia.

Di Spanyol, seorang perempuan berusia 90 tahun dilaporkan meninggal akibat heatstroke di sebuah panti jompo dekat Bilbao. Seorang pria berusia 68 tahun di Almeria juga dilaporkan meninggal karena kondisi serupa pada pekan lalu.

Jerman juga melaporkan sedikitnya tujuh kematian yang berkaitan dengan cuaca panas. Dua orang meninggal dalam insiden terpisah saat berenang di Berlin. Dalam kejadian lain, seorang pria ditemukan tidak sadarkan diri di Danau Jungfernheideteich setelah ditemukan oleh sekelompok warga yang sedang menggunakan perahu karet.

Di Prancis, sedikitnya 40 orang juga dilaporkan meninggal akibat tenggelam ketika berupaya mencari cara untuk mendinginkan tubuh di tengah suhu yang terus meningkat.

Para ahli menjelaskan, kematian akibat gelombang panas tidak selalu terjadi secara langsung karena suhu tinggi, melainkan karena panas memperburuk kondisi kesehatan yang sudah dimiliki seseorang atau memicu gangguan medis serius.

2. Mengapa gelombang panas kini semakin mematikan?

Gelombang Panas Maut Hantam Eropa, Benua Biru Membara
ilustrasi gelombang panas (pexels.com/Louis Laboratory)

Menurut para ahli meteorologi, gelombang panas kali ini dipicu oleh fenomena heat dome, yaitu area bertekanan tinggi yang menahan udara panas di suatu wilayah selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Fenomena tersebut diperkuat oleh pola cuaca yang dikenal sebagai omega block, dinamai berdasarkan bentuknya yang menyerupai huruf Yunani omega. Dalam kondisi normal, aliran jet stream membawa sistem cuaca bergerak dari barat ke timur. Namun ketika omega block terbentuk, aliran tersebut terganggu sehingga udara panas terperangkap dan terus menumpuk di wilayah yang sama.

Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat gelombang panas menjadi jauh lebih sering dan lebih ekstrem dibandingkan beberapa dekade lalu.

Pengajar Human Geography di Royal Holloway, University of London Laurie Parsons mengatakan, peluang terjadinya gelombang panas seperti sekarang meningkat drastis.

“Gelombang panas seperti yang kita lihat sekarang sekitar 30 kali lebih mungkin terjadi dibanding sebelum era perubahan iklim. Gelombang panas luar biasa seperti saat ini sebelumnya mungkin hanya terjadi sekali dalam 300 tahun, tetapi kini terjadi lebih sering daripada sekali dalam satu dekade,” kata Parsons.

Selain meningkatnya frekuensi, dampaknya terhadap kesehatan juga semakin serius.

Garyfallos Konstantinoudis dari Grantham Institute–Climate Change and the Environment menjelaskan, suhu tinggi dapat menyebabkan heat stress, yaitu kondisi ketika tubuh tidak lagi mampu mengatur suhu internal secara normal.

“Gelombang panas menimbulkan bahaya kesehatan yang serius, terutama dengan menyebabkan tekanan panas, ketika tubuh kesulitan mengatur suhunya. Kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan pada kasus yang berat menjadi heatstroke, yang merupakan kondisi darurat medis,” tuturnya.

Ia menambahkan heatstroke dapat menyebabkan suhu inti tubuh melampaui 40 derajat celsius.

Heatstroke menyebabkan gejala seperti suhu tubuh sangat tinggi, kebingungan, kehilangan kesadaran, detak jantung cepat, napas cepat, dan dapat menyebabkan kegagalan organ maupun kematian jika tidak segera ditangani,” ucap dia.

Menurutnya, tekanan panas juga dapat memicu serangan jantung, stroke, maupun gagal napas, terutama pada kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap pendinginan maupun air minum yang cukup.

3. Negara-negara Eropa berpacu melindungi warga dari suhu ekstrem

ilustrasi gelombang panas (unsplash.com/ Jeremy Bezanger)
ilustrasi gelombang panas (unsplash.com/ Jeremy Bezanger)

Gelombang panas yang kini semakin sering terjadi memaksa banyak negara Eropa mengubah cara mereka menghadapi musim panas.

Selama puluhan tahun, rumah-rumah di Eropa dirancang untuk mempertahankan panas saat musim dingin. Akibatnya, banyak bangunan justru menjadi sangat panas ketika suhu luar meningkat drastis.

Sejumlah pemerintah mulai memperkuat langkah adaptasi. Di Paris dan Denmark, berbagai program pemantauan terhadap warga lanjut usia diperluas untuk memastikan mereka mendapatkan bantuan ketika suhu meningkat.

Barcelona, Spanyol, bahkan membuka lebih dari 500 climate shelter atau tempat perlindungan berpendingin yang dapat digunakan masyarakat untuk berlindung dari panas ekstrem.

Perlindungan terhadap pekerja juga mulai menjadi perhatian. Konfederasi Serikat Buruh Eropa mendesak Komisi Eropa menetapkan aturan mengenai batas maksimum suhu kerja agar pekerja, khususnya yang bekerja di luar ruangan, memperoleh perlindungan hukum yang lebih jelas.

Sekretaris Jenderal European Federation of Food, Agriculture, and Tourism Trade Union, Enrico Somaglia, mengatakan perubahan iklim kini telah mengubah kondisi dunia kerja.

“Perubahan iklim sudah terjadi dan sangat memengaruhi dunia kerja, mengancam pekerjaan dan pendapatan di sektor kami. Kondisi ini menuntut tindakan segera melalui strategi mitigasi dan adaptasi,” tutur Somaglia.

Ia menambahkan regulasi baru tidak boleh lagi ditunda.

“Kami tidak bisa menerima musim panas berikutnya ketika para pembuat kebijakan kembali datang dengan langkah yang terlambat dan tidak memadai. Arahan Uni Eropa yang mengikat mengenai perlindungan pekerja dari panas sangat penting agar para pekerja tetap aman,” tuturnya.

Isu tersebut kini menjadi salah satu pembahasan Dewan Uni Eropa yang membidangi ketenagakerjaan, kesehatan, kebijakan sosial, dan perlindungan konsumen.

4. Tak cukup mengandalkan penyejuk udara, ahli minta solusi jangka panjang

Wanita muda Afrika-Amerika mendinginkan diri dengan ventilator di rumah, merasa tidak enak badan selama gelombang panas. (istockphoto.com/Dima Berlin)
Wanita muda Afrika-Amerika mendinginkan diri dengan ventilator di rumah, merasa tidak enak badan selama gelombang panas. (istockphoto.com/Dima Berlin)

Di tengah suhu yang semakin tinggi, sejumlah politisi mengusulkan perluasan penggunaan pendingin udara sebagai solusi cepat. Pemimpin partai National Rally Prancis, Marine Le Pen, misalnya, menawarkan program pemasangan pendingin udara secara besar-besaran di wilayah yang dihuni kelompok rentan apabila dirinya terpilih memimpin pemerintahan.

Namun, para ilmuwan menilai langkah tersebut hanya memberikan perlindungan sementara dan justru berpotensi memperburuk krisis iklim.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memperkirakan sektor pendinginan dapat menyumbang sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca global pada 2050 apabila ketergantungan terhadap pendingin udara terus meningkat.

Selain membutuhkan listrik yang sebagian besar masih dihasilkan dari bahan bakar fosil, sejumlah pendingin juga menggunakan hidrofluorokarbon (HFC), gas sintetis yang memiliki potensi pemanasan hingga hampir 4.000 kali lebih besar dibandingkan karbon dioksida dalam periode 20 tahun.

Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP Martin Krause mengatakan kebutuhan terhadap pendinginan memang tidak bisa dihindari, tetapi sistem yang digunakan saat ini justru memperburuk persoalan.

“Pendinginan sangat penting bagi kesehatan dan kesejahteraan miliaran orang. Ironisnya, saat ini sistem pendinginan masih sangat mencemari lingkungan dan membutuhkan energi besar, sehingga justru memperburuk persoalan panas ekstrem dan menciptakan lingkaran yang terus berulang,” tutur Krause.

Direktur Riset Grantham Institute, Joeri Rogelj, menilai respons terhadap gelombang panas tidak boleh berhenti pada penanganan darurat.

“Gelombang panas yang kita alami didorong oleh pemanasan global yang meningkat pesat akibat emisi gas rumah kaca. Karena itu, respons harus mengatasi gejalanya sekaligus penyebab utamanya,” seru Rogelj.

Menurutnya, negara-negara Eropa perlu mulai membangun kota yang lebih sejuk dengan memperbanyak ruang hijau, pepohonan, dan area teduh, sekaligus mendesain bangunan yang mampu mengurangi penumpukan panas.

Ia juga mendorong pemerintah memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kapasitas layanan kesehatan, melindungi kelompok rentan, serta memperkuat infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, dan pembangkit listrik agar mampu bertahan menghadapi suhu yang terus meningkat.

“Namun tanpa mengatasi tren pemanasan global yang mendasarinya, langkah-langkah tersebut akan semakin tidak memadai. Prioritas utamanya tetap harus mengurangi polusi penyebab perubahan iklim hingga seminimal mungkin,” ucap dia.

Gelombang panas yang kini berulang hampir setiap tahun menjadi peringatan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan. Bagi Eropa, tantangannya kini bukan hanya menyelamatkan warga dari suhu ekstrem yang sedang berlangsung, tetapi juga menyiapkan kota, infrastruktur, dan kebijakan yang mampu menghadapi iklim yang terus berubah dalam jangka panjang.

5. Gelombang panas akan makin sering terjadi

Gelombang Panas Maut Hantam Eropa, Benua Biru Membara
Hyde Park dilanda gelombang panas pada pekan kedua bulan Agustus 2003 (commons.wikimedia.org/Stephen Craven)

Para ilmuwan menilai gelombang panas yang kini melanda Eropa bukan lagi peristiwa cuaca ekstrem yang terjadi sesekali. Seiring suhu global yang terus meningkat akibat perubahan iklim, kejadian serupa diperkirakan akan berlangsung lebih sering, lebih lama, dan dengan intensitas yang lebih tinggi pada tahun-tahun mendatang.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) mendorong negara-negara untuk mempercepat berbagai langkah adaptasi, mulai dari memperluas ruang hijau di perkotaan, menerapkan desain bangunan yang mampu mengurangi panas, hingga mengembangkan sistem pendinginan yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, pemerintah juga didorong membangun sistem peringatan dini untuk gelombang panas, memperkuat layanan kesehatan, serta memastikan pekerja yang beraktivitas di luar ruangan mendapat perlindungan yang memadai.

UNEP juga menilai infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, pembangkit listrik, hingga jaringan transportasi harus mulai disesuaikan dengan kondisi iklim yang terus berubah. Upaya tersebut dinilai penting agar layanan publik tetap dapat beroperasi ketika suhu ekstrem kembali melanda.

Direktur Riset Grantham Institute–Climate Change and Environment, Joeri Rogelj, menegaskan langkah-langkah adaptasi saja tidak akan cukup jika dunia gagal mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Namun tanpa mengatasi tren pemanasan global yang mendasarinya, langkah-langkah tersebut akan semakin tidak memadai. Prioritas utamanya tetap harus mengurangi polusi penyebab perubahan iklim hingga seminimal mungkin,” ucapnya.

Gelombang panas yang kini melanda Eropa menjadi pengingat dampak perubahan iklim sudah dirasakan secara nyata. Bagi negara-negara di kawasan itu, tantangannya bukan hanya menyelamatkan warga dari suhu ekstrem saat ini, tetapi juga membangun kota, infrastruktur, dan kebijakan yang mampu melindungi masyarakat dari ancaman cuaca panas yang diperkirakan akan semakin sering terjadi di masa depan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More