Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kesalahan Umum Jemaah Haji Saat Berihram di Jeddah
Jemaah haji asal Indonesia tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Jumat (08/05/2026) dini hari (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)
  • Petugas Bimbad di Bandara Jeddah menemukan banyak jemaah laki-laki masih memakai pakaian berjahit di balik kain ihram, yang bisa memengaruhi keabsahan ibadah haji mereka.
  • Jemaah perempuan kerap melanggar aturan ihram dengan tetap mengenakan cadar atau sarung tangan, padahal wajah dan telapak tangan wajib terbuka setelah niat ihram dilafalkan.
  • Niat berihram harus dilakukan saat pesawat melintasi Yalamlam atau setibanya di Jeddah, karena sejak niat terucap seluruh larangan ihram langsung berlaku bagi jemaah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jeddah, IDN Times – Kesibukan di Terminal Haji Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, terus memuncak seiring derasnya kedatangan jemaah haji gelombang kedua. Berbeda dengan gelombang pertama, jemaah yang mendarat di Jeddah memikul tanggung jawab spiritual yang lebih besar sejak di dalam pesawat: mereka harus sudah siap secara lahir dan batin untuk melaksanakan umrah wajib.

Namun, di tengah hiruk-pikuk kedatangan, tim Bimbingan Ibadah (Bimbad) PPIH Arab Saudi menemukan fakta krusial di lapangan. Masih banyak jemaah yang tampak abai atau belum sepenuhnya memahami tata cara berihram yang benar sesuai syariat. Padahal, kesalahan kecil dalam berihram bisa berdampak pada keabsahan ibadah hingga kewajiban membayar denda (dam).

1. Waspada "baju tersembunyi" di balik kain ihram

Jemaah haji asal Indonesia tiba di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Jumat (08/05/2026) dini hari (IDN Times/Yogie Fadila/MCH 2026)

Kesalahan yang paling sering ditemukan petugas di Bandara Jeddah adalah jemaah laki-laki yang masih mengenakan pakaian berjahit di balik lilitan kain ihram. Petugas Bimbad, Anis Diyah Puspita, mengungkapkan bahwa dari pantauan sejak Jumat (08/05/2026) dini hari hingga pukul 06.00 WAS, masih banyak jemaah laki-laki yang kedapatan memakai pakaian dalam, celana panjang, hingga kaus kaki dan sepatu tertutup.

Bagi laki-laki, ihram berarti menanggalkan seluruh pakaian yang membentuk lekuk tubuh atau memiliki jahitan. "Kami cek satu per satu untuk memastikan mereka sudah tidak memakai celana dalam atau paka

2. Aturan cadar dan sarung tangan bagi jemaah perempuan

Kedatangan jemaah haji indonesia di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah (08/05/2026) (Dok. MCH2026)

Bagi jemaah perempuan, pakaian ihram memang lebih fleksibel karena boleh mengenakan pakaian biasa yang menutup aurat. Namun, ada batas tegas yang sering terlanggar: wajah dan telapak tangan. Petugas mencatat masih adanya jemaah perempuan yang tetap mengenakan cadar atau sarung tangan yang menutup telapak tangan saat tiba di Jeddah.

Saat sudah berihram, wajah jemaah perempuan harus terbuka dan tidak boleh ditutupi cadar. Begitu pula dengan telapak tangan yang tidak boleh tertutup sarung tangan. Jika jemaah merasa kedinginan di dalam pesawat sebelum mengambil miqat, pakaian tersebut masih boleh dikenakan, namun wajib dilepaskan seketika saat niat ihram telah dilafalkan.

3. Kekuatan niat di atas Yalamlam atau Jeddah

Kedatangan jemaah haji indonesia di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah (08/05/2026) (Dok. MCH2026)

Niat adalah "sakelar" yang mengubah perjalanan biasa menjadi ibadah suci. Jemaah gelombang kedua sangat dianjurkan sudah mengenakan kain ihram sejak dari embarkasi di Tanah Air. Hal ini bertujuan agar saat pesawat melintasi kawasan Yalamlam, jemaah tinggal fokus melafalkan niat umrah wajib.

Sekretaris Daker Bandara, Aruji Maswatu, menegaskan bahwa pengecekan dilakukan satu per satu untuk memastikan jemaah sudah mengambil miqat. Jika jemaah ragu atau tertidur saat pesawat melewati Yalamlam, niat masih bisa dilakukan setibanya di Bandara Jeddah sebelum diberangkatkan menuju Makkah. Ingat, begitu kata Labbaik Allahumma Umrotan terucap, seluruh larangan ihram resmi berlaku.

4. Demi haji yang mabrur

Kedatangan Kloter LOP-12 di bandara internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Kamis (07/05/2026) (Dok. MCH 2026)

Setiap pelanggaran terhadap aturan ihram memiliki konsekuensi, mulai dari yang bersifat administratif hingga kewajiban membayar dam. Sebagai contoh, pada kloter KJT 22, petugas menemukan beberapa kasus menonjol seperti jemaah laki-laki yang tetap memakai sepatu dan jemaah perempuan yang belum melepas cadar.

Bagi jemaah yang sedang haid, kondisi tersebut bukan penghalang untuk berniat ihram di miqat. Jemaah tetap wajib berniat, namun pelaksanaan umrah wajibnya ditunda hingga masa haid selesai dan sudah bersuci. Kesigapan petugas bimbingan ibadah di bandara yang menyisir jemaah satu per satu merupakan ikhtiar terakhir agar jemaah tidak membawa kesalahan ihram tersebut hingga ke Makkah.

Editorial Team