Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Khamenei Bicara di Tengah Gencatan Senjata Iran-AS, Bilang Apa?
potret Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei (commons.wikimedia.org/Mostafa Tehrani)
  • Ayatollah Mojtaba Khamenei muncul lewat pesan tertulis setelah lama tak terlihat, menanggapi gencatan senjata dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat.
  • Khamenei menegaskan Iran tidak mencari perang namun akan mempertahankan hak kedaulatan, serta menyerukan partisipasi publik dalam mendukung proses negosiasi.
  • Kondisi fisik Khamenei masih misterius karena belum tampil langsung di publik, memicu spekulasi meski pemerintah berupaya menunjukkan stabilitas kepemimpinan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang penting di Iran namanya Khamenei. Dia lama tidak kelihatan, lalu kirim pesan lewat televisi. Katanya Iran tidak mau perang dengan Amerika dan Israel, tapi tetap mau jaga haknya. Sekarang ada gencatan senjata dua minggu. Banyak orang masih penasaran karena Khamenei belum muncul langsung di depan publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, akhirnya menyampaikan pernyataan publik setelah lama tidak terlihat di tengah agresi Amerika dan Israel. Kemunculan ini terjadi usai tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan tersebut disampaikan melalui pesan tertulis yang dibacakan di televisi pemerintah Iran pada Kamis (9/4/2026). Ini menjadi respons pertama Khamenei di tengah meningkatnya spekulasi terkait kondisi dan keberadaannya.

Sebelumnya, berbagai pihak mempertanyakan kondisi Khamenei setelah ia tidak muncul di hadapan publik sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran. Situasi ini semakin memicu rumor, termasuk spekulasi dari Presiden AS Donald Trump yang sempat menyebut kemungkinan Khamenei telah meninggal dunia.

Dalam pernyataannya, Khamenei menegaskan posisi Iran yang tidak menginginkan konflik bersenjata, tetapi tetap mempertahankan hak-haknya sebagai negara berdaulat.

1. Iran tak ingin perang, hanya ingin bertahan

potret bendera Iran yang rusak (unsplash.com/Javad Esmaeili)

Dalam pesan yang disampaikan, Khamenei menegaskan, Iran tidak memiliki keinginan memperluas konflik dengan Amerika Serikat maupun Israel. Namun, ia menekankan, hal tersebut tidak berarti Iran akan mengalah dalam menghadapi tekanan.

“Kami tidak mencari perang dan kami tidak menginginkannya,” ujar Khamenei dalam pernyataan tersebut, dilansir dari AFP, Jumat (10/4/2026).

Meski demikian, ia menegaskan, Iran tidak akan mengorbankan kepentingannya. “Namun kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami dalam kondisi apa pun,” lanjutnya.

Pernyataan ini juga menyinggung posisi Iran terhadap sekutu-sekutunya di kawasan. “Dalam hal ini kami memandang seluruh front perlawanan sebagai satu kesatuan,” kata Khamenei, yang diduga merujuk pada situasi di Lebanon, tempat Israel masih melancarkan serangan terhadap Hizbullah.

2. Soroti peran publik di tengah proses negosiasi

potret warga Iran (pexels.com/Elif Ozlem Aydeniz)

Selain menyinggung konflik, Khamenei juga memberikan pesan kepada masyarakat Iran terkait situasi dalam negeri pasca gencatan senjata. Ia mengingatkan, partisipasi publik tetap penting meskipun ketegangan mereda.

Ia meminta warga untuk tidak menganggap aksi atau keterlibatan publik sudah tidak lagi diperlukan setelah adanya kesepakatan sementara.

“Suara Anda di ruang publik tanpa diragukan lagi akan mempengaruhi hasil negosiasi,” ujarnya.

Pernyataan ini menunjukkan, pemerintah Iran melihat dukungan publik sebagai faktor penting dalam menghadapi proses diplomasi yang sedang berlangsung.

3. Misteri kondisi Khamenei masih jadi sorotan

Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (Hamed Malekpour, Atribusi: Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Meski telah menyampaikan pernyataan, kondisi Khamenei masih menjadi tanda tanya. Ia belum pernah tampil langsung di hadapan publik sejak dilaporkan mengalami luka dalam serangan yang menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari.

Sejauh ini, komunikasi Khamenei hanya dilakukan melalui pesan tertulis yang dibacakan di televisi pemerintah atau disampaikan melalui media sosial. Tidak adanya penampilan langsung memperkuat spekulasi mengenai kondisi kesehatannya.

Televisi pemerintah Iran memang telah merilis sejumlah foto Khamenei, tetapi tidak memberikan keterangan jelas mengenai waktu pengambilan gambar tersebut. Hal ini membuat berbagai spekulasi terus berkembang di tingkat internasional.

Di tengah situasi tersebut, pernyataan terbaru Khamenei menjadi sinyal Iran tetap berupaya menunjukkan stabilitas kepemimpinan, sekaligus menegaskan posisinya dalam menghadapi dinamika konflik dan proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Editorial Team