Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Konflik Memanas, 56 Museum dan Situs Sejarah Iran Rusak Parah
Bendera Iran (freepik.com/www.slon.pics)
  • Kementerian Warisan Budaya Iran melaporkan 56 museum dan situs bersejarah rusak parah akibat konflik bersenjata, termasuk Istana Golestan di Teheran yang menjadi simbol penting sejarah bangsa.
  • Serangan udara Amerika Serikat dan Israel menghancurkan situs bersejarah di Isfahan, Kurdistan, Lorestan, hingga Bushehr; banyak bangunan kuno dan koleksi museum mengalami kerusakan serius.
  • UNESCO menyatakan sekitar sepuluh persen warisan budaya dunia di Timur Tengah terancam hancur, sementara Iran menuding dunia internasional lamban melindungi identitas budayanya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan Iran memberikan pernyataan resmi pada Sabtu (14/3/2026), bahwa sedikitnya 56 museum dan situs bersejarah di berbagai wilayah Iran mengalami kerusakan parah. Kabar duka ini muncul tepat pada hari ke-15 sejak pecahnya konflik bersenjata di Timur Tengah, yang kini memicu kekhawatiran dunia akan hancurnya peninggalan peradaban manusia.

Serangan udara yang dilakukan oleh kekuatan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan mengenai berbagai infrastruktur penting, termasuk tempat-tempat yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO. Pihak militer berdalih bahwa target utama mereka hanyalah markas pertahanan. Namun, getaran ledakan dan serpihan rudal nyatanya telah menghancurkan bangunan kuno serta koleksi museum di banyak provinsi.

1. Istana Golestan dan 19 situs sejarah di Teheran rusak parah akibat ledakan

Sebuah cuplikan video yang diambil dari rekaman yang dirilis oleh militer Israel pada 1 Maret 2026, menunjukkan apa yang mereka sebut sebagai serangan skala besar terhadap "markas besar rezim teror Iran" di Teheran, Iran pada 1 Maret. (HANDOUT /ISRAELI ARMY/AFP)

Ibu kota Iran, Teheran, mencatatkan kerusakan monumen paling parah dibandingkan wilayah lainnya dengan total 19 situs bersejarah yang terdampak. Fokus utama kerusakan berada pada kompleks Istana Golestan, sebuah mahakarya arsitektur dari era Qajar yang telah menjadi identitas nasional Iran selama ratusan tahun. Meski tidak terkena hantaman rudal secara langsung, ledakan kuat di sekitar Alun-alun Arag menyebabkan gelombang kejut yang menghancurkan bagian dalam bangunan.

Istana Golestan memiliki nilai sejarah yang luar biasa karena pernah menjadi pusat kekuasaan Dinasti Qajar dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Kompleks ini diakui dunia dan masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2013 karena berhasil memadukan seni tradisional Persia dengan gaya Barat. Kini, kondisi istana tersebut sangat memprihatinkan dengan jendela kayu yang hancur, atap yang retak, serta kerusakan pada ubin keramik kuno yang menghiasi dinding luar bangunan.

Keberadaan situs-situs ini sangat penting bagi rakyat Iran sebagai bukti perjalanan sejarah bangsa mereka. Pakar sejarah, Arash Azizi, menjelaskan bahwa kehancuran ini memberikan dampak emosional yang mendalam bagi masyarakat.

"Kita membutuhkan konteks budaya untuk memahami jati diri, asal-usul, serta makna semua ini bagi identitas kita," ujar Azizi, dilansir Associated Press.

Selain istana, tempat bersejarah lain seperti Pasar Besar Teheran dan Bekas Gedung Senat juga ikut terdampak. Pasar Besar Teheran mengalami kerusakan pada bagian atap dan kubah akibat getaran ledakan yang terus terjadi. Bangunan penting lainnya seperti Markas Polisi lama dan Istana Marmer juga masuk dalam daftar bangunan yang harus segera diperbaiki karena kerusakan pada jendela dan bagian depan bangunan.

2. Serangan udara rusak situs sejarah Isfahan, Kurdistan, hingga benteng Lorestan

Kepulan asap membubung setelah serangan terhadap ibu kota Iran, Teheran, pada 3 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP)

Kerusakan akibat serangan udara kini meluas hingga ke Isfahan, kota yang dikenal sebagai pusat arsitektur Islam. Alun-alun Naqsh-e Jahan yang dibangun pada abad ke-17 dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian pintu, jendela, dan ubin dekoratif di kompleks masjid serta istana. Padahal, alun-alun ini merupakan jantung peradaban Dinasti Safawi dan salah satu yang terindah di dunia.

Gubernur Isfahan, Mehdi Jamalinejad, mengungkapkan kemarahannya dan menyebut tindakan militer ini sebagai serangan terhadap peradaban. Ia menegaskan bahwa Isfahan adalah aset budaya yang harus dilindungi hukum internasional.

"Isfahan bukan sekadar kota biasa, melainkan museum terbuka yang menyimpan sejarah berabad-abad," kata Jamalinejad, dilansir The Guardian.

Kerusakan juga menimpa Istana Chehel Sotoun yang terkenal dengan 20 kolom kayunya. Getaran ledakan menyebabkan kaca jendela pecah dan lukisan dinding kuno retak. Selain itu, Masjid Jame Isfahan yang merupakan masjid tertua di Iran juga mengalami kerusakan pada bagian menaranya. Kondisi serupa terjadi di Provinsi Kurdistan, di mana 12 bangunan bersejarah termasuk Museum Arkeologi Sanandaj mengalami kerusakan serius pada ukiran kayu dan kaca patrinya.

Di Provinsi Lorestan, Benteng Falak-ol-Aflak yang berdiri di atas bukit juga terancam. Serangan rudal menghantam kantor dinas warisan budaya dan museum yang berada di area benteng hingga hancur total. Kejadian ini menyebabkan lima orang staf ahli terluka, sementara pondasi benteng kuno tersebut kini dalam risiko bahaya akibat getaran hebat.

Dampak perang ini bahkan mencapai wilayah pesisir di Pelabuhan Siraf, Provinsi Bushehr. Rumah-rumah tradisional yang telah berdiri ribuan tahun hancur akibat serangan udara. Laporan serupa datang dari wilayah Ilam, di mana Museum Arkeologi Dasht-e Shahr menambah daftar panjang kehancuran warisan budaya di seluruh penjuru Iran.

3. Sepuluh persen warisan budaya di Timur Tengah terancam hancur

Kepulan asap membubung setelah serangan rudal di Teheran, Iran pada 1 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP)

Serangan terhadap puluhan situs bersejarah di Iran memicu perdebatan panas mengenai pelanggaran hukum internasional. Berdasarkan aturan dunia, setiap pihak yang berperang wajib melindungi tempat bersejarah dan dilarang menggunakannya untuk kepentingan militer. Namun nyatanya, koordinat lokasi yang telah diberikan UNESCO kepada pihak militer tetap tidak mampu melindungi bangunan kuno dari getaran ledakan rudal.

Lembaga kebudayaan PBB, UNESCO, menyatakan keprihatinan mendalam karena kerusakan ini juga terjadi di Lebanon dan Israel. Direktur Pusat Warisan Dunia UNESCO, Lazare Eloundou Assomo, menyebutkan bahwa sekitar sepuluh persen warisan budaya dunia di kawasan tersebut kini terancam hancur.

"Serangan yang terus berlanjut berdampak pada 18 negara di Timur Tengah. Ini berarti hampir sepersepuluh warisan dunia terancam rusak akibat operasi militer saat ini," kata Assomo, dilansir CGTN.

Di sisi lain, pemerintah Iran melayangkan kritik tajam karena menganggap UNESCO terlalu lamban dan kurang tegas. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyayangkan sikap diam dunia internasional saat identitas bangsanya dihancurkan oleh kekuatan militer asing.

Selain hilangnya sejarah, sektor pariwisata di Timur Tengah juga hancur total dengan kerugian mencapai ratusan juta dolar setiap harinya. Penutupan jalur udara dan kondisi yang tidak aman membuat jutaan orang yang bekerja di bidang pariwisata kehilangan penghasilan. Hal ini menjadi beban berat karena perbaikan situs bersejarah membutuhkan biaya besar dan tenaga ahli.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team