Kepulan asap membubung setelah serangan terhadap ibu kota Iran, Teheran, pada 3 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP)
Kerusakan akibat serangan udara kini meluas hingga ke Isfahan, kota yang dikenal sebagai pusat arsitektur Islam. Alun-alun Naqsh-e Jahan yang dibangun pada abad ke-17 dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian pintu, jendela, dan ubin dekoratif di kompleks masjid serta istana. Padahal, alun-alun ini merupakan jantung peradaban Dinasti Safawi dan salah satu yang terindah di dunia.
Gubernur Isfahan, Mehdi Jamalinejad, mengungkapkan kemarahannya dan menyebut tindakan militer ini sebagai serangan terhadap peradaban. Ia menegaskan bahwa Isfahan adalah aset budaya yang harus dilindungi hukum internasional.
"Isfahan bukan sekadar kota biasa, melainkan museum terbuka yang menyimpan sejarah berabad-abad," kata Jamalinejad, dilansir The Guardian.
Kerusakan juga menimpa Istana Chehel Sotoun yang terkenal dengan 20 kolom kayunya. Getaran ledakan menyebabkan kaca jendela pecah dan lukisan dinding kuno retak. Selain itu, Masjid Jame Isfahan yang merupakan masjid tertua di Iran juga mengalami kerusakan pada bagian menaranya. Kondisi serupa terjadi di Provinsi Kurdistan, di mana 12 bangunan bersejarah termasuk Museum Arkeologi Sanandaj mengalami kerusakan serius pada ukiran kayu dan kaca patrinya.
Di Provinsi Lorestan, Benteng Falak-ol-Aflak yang berdiri di atas bukit juga terancam. Serangan rudal menghantam kantor dinas warisan budaya dan museum yang berada di area benteng hingga hancur total. Kejadian ini menyebabkan lima orang staf ahli terluka, sementara pondasi benteng kuno tersebut kini dalam risiko bahaya akibat getaran hebat.
Dampak perang ini bahkan mencapai wilayah pesisir di Pelabuhan Siraf, Provinsi Bushehr. Rumah-rumah tradisional yang telah berdiri ribuan tahun hancur akibat serangan udara. Laporan serupa datang dari wilayah Ilam, di mana Museum Arkeologi Dasht-e Shahr menambah daftar panjang kehancuran warisan budaya di seluruh penjuru Iran.