Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kongo Ogah Tutup Sekolah Gegara Ebola: Kami Akan Lakukan Pencegahan
potret virus Ebola yang dilihat dari mikroskop elektron (unsplash.com/CDC)
  • Pemerintah DRC menolak menutup sekolah meski wabah Ebola merebak, dengan fokus pada penerapan langkah pencegahan agar kegiatan belajar tetap berjalan aman.
  • Wabah Ebola telah menewaskan lima siswa dan menyebar ke 13 wilayah di tiga provinsi, sementara WHO menetapkannya sebagai darurat kesehatan internasional karena risiko penyebaran lintas negara.
  • DRC kerap menghadapi wabah Ebola akibat kondisi geografis dan lemahnya sistem kesehatan, sehingga penanganan sering terkendala logistik serta kekurangan alat medis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Republik Demokratik Kongo (DRC) menolak untuk menutup sekolah karena wabah virus Ebola yang kini sedang merebak. Sebab, DRC tidak ingin proses belajar mengajar di negaranya terganggu gara-gara wabah.  

“Kami tidak akan menutup sekolah. Kami akan menerapkan langkah-langkah pencegahan agar anak-anak tidak dihukum dua kali,” kata Menteri Kesehatan DRC, Roger Kamba, kepada wartawan pada Sabtu (30/5/2026), seperti dilansir Anadolu Agency.  

1. Wabah Ebola sudah menewaskan lima siswa di DRC

ilustrasi korban jiwa (pexels.com/Mario Wallner)

Saat ini, desakan terhadap Pemerintah DRC untuk menutup sekolah sudah mulai muncul. Sebab, wabah Ebola yang mulai merebak di DRC pada pertengahan Mei lalu sudah menewaskan lima orang siswa.

Saat ini, wabah Ebola sudah menyebar ke 13 wilayah di 3 provinsi yang ada di DRC, yakni Provinsi Ituri, Kifu Selatan, dan Kifu Utara. Menurut Kamba, penyebaran Ebola terjadi cukup cepat karena ada banyak warga yang melakukan kontak dengan orang yang sudah terinfeksi. 

Menurut Kamba, ada 3.600 warga DRC yang telah melakukan kontak dengan suspek Ebola. Mereka berisiko tinggi terinfeksi virus tersebut jika tidak segera ditangani pihak medis. Jika tidak ditangani, mereka juga bisa meninggal dunia.  

2. WHO menetapkan wabah Ebola di DRC sebagai darurat internasional

potret Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus (commons.wikimedia.org/ITU Pictures)

Pada 17 Mei lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan wabah Ebola di DRC sebagai darurat kesehatan internasional. Menurut WHO, status ini ditetapkan karena wabah Ebola di DRC berpotensi menyebar ke negara lain, terutama ke negara-negara di Afrika. 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), ada sepuluh negara yang berisiko tinggi terpapar wabah Ebola dari DRC. Mereka adalah Rwanda, Kenya, Tanzania, Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Sudan Selatan, dan Zambia. 

Sebetulnya, wabah Ebola kini sudah menyebar ke Uganda. Namun, kasus wabah di negara itu tidak separah di DRC. Untuk mengatasi penyebaran Ebola, Uganda akhirnya menutup perbatasannya dengan DRC dan negara-negara tetangga lainnya. Ini bertujuan agar wabah Ebola tidak semakin menyebar ke Uganda lewat orang-orang yang datang dari perbatasan.

3. DRC sudah sering mengalami wabah Ebola

potret virus Ebola (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Wabah Ebola sendiri sudah sering terjadi di DRC. Sebab, wilayah DRC yang dipenuhi hutan hujan tropis sangat cocok untuk perkembangan virus Bundibugyo yang menyebabkan Ebola. Selain itu, sistem layanan kesehatan yang masih rapuh juga membuat Ebola dengan mudah menyebar di DRC. 

Kali ini, wabah Ebola di DRC pertama kali terjadi di daerah Mongbwalu, salah satu wilayah yang ada di Provinsi Ituri. Setelah itu, wabah kemudian menyebar ke wilayah lainnya, seperti Bunia dan Rwampara. Kemudian, wabah menyebar ke negara tetangga DRC, yakni Uganda.

Sebetulnya, DRC sudah terbiasa menghadapi wabah Ebola. Namun, mereka kerap kali mengalami kesulitan logistik dan kekurangan pasokan alat-alat medis untuk para pasien wabah tersebut. Inilah yang membuat korban wabah Ebola di DRC jadi cukup banyak. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article