Survei Terbaru: Minat Warga Asing Bekerja Lama di Jepang Merosot Tajam

- Survei Mynavi Global 2026 menunjukkan hanya 63,3% pekerja asing ingin bekerja di Jepang lebih dari lima tahun, turun 18,4% dibanding tahun sebelumnya.
- Pelemahan yen dan inflasi membuat biaya hidup meningkat serta menekan daya beli pekerja asing, sehingga minat menetap jangka panjang ikut menurun.
- Meski minat tinggal lama menurun, Jepang tetap membutuhkan tenaga kerja asing karena populasi menua dan kekurangan pekerja di berbagai sektor penting.
Jepang selama bertahun-tahun menjadi salah satu negara tujuan favorit bagi warga asing yang ingin membangun karier. Kesempatan kerja yang cukup luas, lingkungan yang aman, serta perkembangan teknologi yang maju membuat banyak orang tertarik bekerja di Negeri Sakura.
Namun, survei terbaru menunjukkan bahwa pandangan tersebut mulai mengalami perubahan. Semakin banyak pekerja asing yang masih tertarik datang ke Jepang, tapi gak lagi berencana menetap atau bekerja dalam jangka waktu yang panjang.
Kondisi ini menjadi sinyal menarik karena terjadi di tengah kebutuhan Jepang akan tenaga kerja asing untuk mengisi kekurangan pekerja di berbagai sektor. Lantas, faktor apa saja yang membuat semakin banyak warga asing mulai berpikir dua kali untuk membangun karier jangka panjang di Jepang?
1. Minat bekerja lebih dari lima tahun turun cukup tajam

Survei tahunan yang dilakukan Mynavi Global mengenai sikap kerja warga asing di Jepang menunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan. Hasil survei yang dirilis pada 7 Juli 2026 memperlihatkan bahwa hanya 63,3 persen responden yang ingin bekerja di Jepang selama lima tahun atau lebih. Angka tersebut turun sekitar 18,4 persen dibandingkan survei tahun sebelumnya.
Sebaliknya, jumlah responden yang memilih bekerja selama dua hingga lima tahun meningkat menjadi 34,2 persen. Persentase responden yang ingin kembali ke negara asal dalam waktu kurang dari satu tahun juga ikut bertambah. Temuan ini menunjukkan bahwa banyak pekerja asing masih melihat Jepang sebagai tempat yang menarik untuk mencari pengalaman kerja, tapi semakin sedikit yang memandangnya sebagai tujuan karier jangka panjang.
2. Kondisi ekonomi menjadi latar belakang yang patut diperhatikan

Survei Mynavi gak menyimpulkan secara langsung bahwa kondisi ekonomi menjadi penyebab utama turunnya minat tersebut. Namun, laporan itu mencatat bahwa pelemahan nilai tukar yen membuat biaya hidup di Jepang terasa semakin mahal bagi pekerja yang menerima gaji dalam mata uang yen. Di sisi lain, nilai tabungan mereka juga menjadi lebih kecil ketika dikirim atau ditukar ke mata uang negara asal.
Gambaran tersebut sejalan dengan kondisi ekonomi Jepang yang dijelaskan dalam laporan OECD. Organisasi tersebut menilai Jepang masih menghadapi tantangan berupa inflasi yang memengaruhi daya beli masyarakat, meskipun pertumbuhan upah mulai menunjukkan perbaikan. Dengan kata lain, kenaikan pendapatan belum sepenuhnya mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup yang dirasakan banyak orang, termasuk pekerja asing yang tinggal di Jepang.
Reuters juga melaporkan bahwa pelemahan yen dan tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama bagi perekonomian Jepang. Situasi tersebut ikut menekan pendapatan riil masyarakat sehingga banyak rumah tangga harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Meski laporan OECD dan Reuters gak berkaitan langsung dengan hasil survei Mynavi, keduanya memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi yang sedang dihadapi Jepang saat ini.
3. Profil responden ikut memengaruhi hasil survei

Hasil survei juga perlu dilihat berdasarkan karakteristik para respondennya. Mynavi Global mengumpulkan jawaban dari 1.732 responden yang berasal dari pengguna layanannya, sekolah bahasa Jepang, dan komunitas pencari kerja asing di Jepang. Artinya, sebagian besar responden merupakan orang-orang yang sedang mempersiapkan atau baru memulai perjalanan karier mereka.
Sekitar 41,1 persen responden masih berstatus mahasiswa. Sementara itu, 41,1 persen lainnya bekerja melalui program Specified Skill Worker di sektor seperti perawatan lansia, manufaktur, konstruksi, pertanian, layanan makanan, dan kebersihan. Bidang-bidang tersebut memang sangat dibutuhkan Jepang, tapi umumnya belum menawarkan tingkat pendapatan setinggi pekerjaan profesional di sektor teknologi, keuangan, atau manajemen. Karena itu, pandangan mereka mengenai prospek tinggal lama di Jepang bisa berbeda dibandingkan pekerja asing dengan posisi dan penghasilan yang lebih tinggi.
4. Minat pekerja asal Indonesia juga ikut menurun

Mayoritas responden dalam survei berasal dari negara-negara Asia Tenggara. Vietnam menjadi kelompok terbesar dengan 36,1 persen responden, diikuti Myanmar 22,2 persen, Nepal 13,5 persen, Indonesia 11,5 persen, dan China 7,3 persen. Komposisi ini menunjukkan bahwa kawasan Asia Tenggara masih menjadi salah satu penyumbang utama tenaga kerja asing di Jepang.
Namun, gak semua negara menunjukkan tren yang sama. Responden asal Vietnam dan Indonesia mengalami penurunan minat yang cukup besar untuk bekerja di Jepang selama lebih dari lima tahun. Sebaliknya, responden dari Myanmar, Nepal, dan China justru mencatat sedikit peningkatan minat untuk menetap lebih lama. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa keputusan bekerja di Jepang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi pribadi hingga peluang kerja yang tersedia di negara asal masing-masing.
5. Jepang tetap membutuhkan tenaga kerja asing

Walaupun minat bekerja dalam jangka panjang menurun, bukan berarti Jepang akan kehilangan seluruh daya tariknya bagi pekerja asing. Negara ini masih menghadapi tantangan berupa populasi yang menua dan jumlah tenaga kerja usia produktif yang terus berkurang. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap pekerja asing diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
OECD juga menilai bahwa Jepang perlu terus meningkatkan produktivitas sekaligus memastikan ketersediaan tenaga kerja untuk menjaga pertumbuhan ekonominya. Reuters bahkan melaporkan bahwa berbagai sektor seperti perawatan lansia, pertanian, hingga logistik masih menghadapi kekurangan pekerja dalam jumlah besar. Artinya, Jepang tetap memiliki peluang kerja yang luas bagi warga asing, meski tantangan ekonomi membuat sebagian orang lebih berhati-hati dalam memutuskan apakah akan membangun karier jangka panjang di negara tersebut.
Survei terbaru Mynavi Global memperlihatkan bahwa semakin banyak warga asing yang masih ingin bekerja di Jepang, tapi mulai mengurangi keinginan untuk menetap dalam jangka panjang. Hasil tersebut gak bisa dilepaskan dari berbagai pertimbangan pribadi setiap responden, mulai dari prospek karier hingga kondisi ekonomi yang mereka rasakan.
Di sisi lain, laporan OECD dan Reuters menunjukkan bahwa Jepang memang sedang menghadapi tantangan berupa inflasi, pelemahan yen, dan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Meski begitu, Jepang tetap menjadi salah satu negara dengan kebutuhan tenaga kerja asing yang tinggi sehingga peluang membangun karier di sana masih terbuka, terutama bagi kamu yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan industri.





















