Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Korsel Bakal Lobi Tiga Negara untuk Amankan Cadangan Minyak
potret bendera Korea Selatan (pexels.com/byunghyun lee)
  • Pemerintah Korsel mengutus Kang Hoon-sik ke Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi untuk melobi pasokan minyak baru demi menambah cadangan nasional yang menipis akibat penutupan Selat Hormuz.
  • Perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel membuat Selat Hormuz diperketat, menghambat ekspor minyak global serta menyebabkan kekurangan pasokan dan lonjakan harga minyak dunia hingga hampir 120 dolar AS per barel.
  • Korsel menerapkan penghematan energi dengan membatasi penggunaan kendaraan dan listrik di lembaga negara serta mendorong perusahaan swasta mengurangi konsumsi agar stok minyak tetap aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Korea Selatan (Korsel) dikabarkan bakal mengirim Kepala Staf Kepresidenan, Kang Hoon-sik, ke tiga negara untuk mengamankan cadangan minyak nasional. Kabar tersebut disampaikan oleh pemerintah Korsel kepada awak media pada Selasa (7/4/2026).

Kang sendiri bakal dikirim ke Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi. Di sana, ia dikabarkan akan melakukan lobi agar bisa mendapatkan pasokan minyak untuk memenuhi kebutuhan nasional. Sebab, cadangan minyak di Korsel kini makin menipis karena Selat Hormuz ditutup oleh Iran.

1. Korsel ingin menambah rantai pasok minyak

ilustrasi kapal tanker minyak (unsplash.com/Scott Tobin)

Dalam sebuah konferensi pers, Kang menjelaskan, Korsel saat ini memang berniat untuk menambah rantai pasok minyak dari berbagai negara, termasuk dari Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi. Langkah ini bertujuan untuk menambah cadangan minyak nasional yang makin menipis. 

Menurut Kang, pada Maret 2026 lalu, Korsel telah berhasil mengamankan pasokan minyak dari Uni Emirat Arab. Kala itu, Korsel berhasil mendapatkan pasokan minyak sebesar 24 juta barel dari negara tersebut. 

Kang melanjutkan, Korsel saat ini juga sedang berupaya menjalin kerja sama internasional agar kapal-kapal minyaknya bisa berlayar di Selat Hormuz dengan aman. Sebab, kapal-kapal dari Korsel kini juga sudah mendapatkan izin dari Iran untuk melintasi selat tersebut. 

2. Korsel jadi salah satu negara yang kekurangan minyak imbas perang Iran

ilustrasi perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

Sebagai informasi, Korsel merupakan salah satu dari banyak negara yang juga mengalami kekurangan minyak imbas perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Imbas perang tersebut, Iran memperketat pengamanan di Selat Hormuz. Langkah ini membuat banyak kapal tidak bisa mengekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Peristiwa ini langsung berpengaruh terhadap persediaan minyak nasional di Korsel. Sebab, negara berjuluk Negeri Ginseng tersebut mengimpor sekitar 70 persen minyak dari kapal-kapal yang berlayar di Selat Hormuz.  

Di sisi lain, peristiwa ini juga membuat harga minyak global sempat mengalami kenaikan signifikan. Pada awal Maret 2026 lalu, misalnya, harga minyak dunia sempat naik menjadi hampir 120 dolar AS atau Rp2 juta per barelnya. Itu merupakan salah satu kenaikan harga minyak tertinggi dalam sejarah. 

3. Korsel sudah melakukan penghematan konsumsi minyak

ilustrasi tambang minyak (unsplash.com/Zbynek Burival)

Untuk mengatasi masalah ini, Korsel sudah melakukan penghematan konsumsi minyak. Menteri Energi Korsel, Kim Sung-whan, mengatakan, penghematan ini dilakukan dengan membatasi penggunaan kendaraan oleh kementerian dan lembaga negara. Penghematan energi juga bakal dilakukan dengan membatasi penggunaan listrik dan kendaraan bagi warga sipil. 

Sung-whan menjelaskan, pembatasan penggunaan kendaraan bagi warga sipil hanya akan bersifat sukarela alias tidak wajib. Sebab, meski makin menipis, persediaan minyak nasional kini masih bisa memenuhi kebutuhan. Namun, kebijakan itu akan diwajibkan ketika stok minyak nasional mengalami krisis. 

Selain dengan cara-cara tadi, menurut Kim, penghematan juga akan dilakukan dengan cara menurunkan konsumsi energi oleh perusahaan-perusahaan swasta. Jadi, pemerintah bakal meminta 50 perusahaan swasta di Korsel untuk menghemat konsumsi energi agar cadangan minyak nasional tetap terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team