Mengenal Faktor Penentu Harga Minyak, dari Produksi hingga Psikologi

- Harga minyak dunia dipengaruhi oleh penawaran-permintaan, aktivitas hedger dan spekulan di pasar berjangka, serta sentimen psikologis yang membentuk ekspektasi terhadap permintaan masa depan.
- Produksi melimpah tidak selalu menurunkan harga karena keterbatasan kapasitas kilang dan distribusi, ditambah adanya siklus harga komoditas sekitar 29 tahun yang hanya bersifat panduan historis.
- OPEC masih berperan besar dalam mengatur pasokan global meski pengaruhnya menurun akibat produksi negara non-anggota dan faktor geopolitik seperti konflik Rusia-Ukraina yang memicu lonjakan harga.
Jakarta, IDN Times - Minyak bumi tetap menjadi pilar ekonomi global meski pengembangan energi hijau terus berjalan. Sejarah mencatat sumur komersial pertama baru dibor di Azerbaijan pada 1846, disusul Amerika Serikat (AS) pada 1859.
Dilansir Investopedia, era minyak modern sendiri diyakini lahir saat penemuan sumur Spindletop di Texas pada 1901 yang mampu berproduksi massal hingga melampaui gabungan seluruh sumur di AS saat itu.
1. Tiga faktor utama penentu harga minyak dunia
.jpg)
Sebagai komoditas dengan permintaan tinggi, fluktuasi harga minyak berdampak besar bagi ekonomi. Terdapat tiga faktor kunci yang memengaruhi pergerakan harganya.
Penawaran dan permintaan: Secara teori, harga naik saat permintaan tinggi atau pasokan menipis, dan sebaliknya. Namun, realitanya harga minyak ditentukan di pasar kontrak berjangka (futures), di mana pembeli dan penjual terikat perjanjian harga dan tanggal tertentu di masa depan.
Peran hedger dan spekulan: Perdagangan kontrak berjangka didominasi oleh dua pelaku utama. Hedger, seperti maskapai penerbangan, membeli kontrak untuk melindungi diri dari kenaikan harga. Sementara spekulan hanya menebak arah harga tanpa berniat mengambil fisik minyaknya. Data Chicago Mercantile Exchange (CME) menunjukkan spekulan mendominasi pasar, sementara pembeli fisik komoditas hanya kurang dari 3 persen.
Sentimen pasar: Psikologi pasar memegang peran penting. Keyakinan bahwa permintaan akan melonjak di masa depan bisa memicu kenaikan harga saat ini karena aksi beli masif oleh spekulan dan hedger.
2. Harga tidak selalu turun saat produksi melimpah
.jpg)
Teori harga akan murah jika produksi melimpah tidak selalu terjadi pada minyak. Contohnya saat pandemik COVID-19 pads 2020, permintaan minyak anjlok drastis, namun harga bahan bakar hanya turun moderat dan cepat pulih.
Hal semacam itu disebabkan oleh kendala pada sektor distribusi dan pengolahan (refinery). Di Amerika Serikat, jumlah kilang justru berkurang sejak 1970-an.
Meskipun kapasitas kilang yang ada sangat besar, mereka beroperasi pada level 90 persen untuk menjaga kapasitas cadangan demi permintaan masa depan, sehingga kelebihan pasokan minyak murah tidak terjadi di pasar.
Selain itu, secara historis terdapat siklus harga komoditas sekitar 29 tahun. Puncak indeks komoditas tercatat terjadi pada 1920, 1958, dan 1980. Namun, siklus ini hanya menjadi panduan karena faktor penawaran, permintaan, dan sentimen tetap lebih dominan.
3. Pengaruh geopolitik dan peran OPEC

Faktor lain yang sangat memengaruhi harga adalah kartel produsen seperti OPEC. Beranggotakan 12 negara, OPEC menguasai sekitar 40 persen pasokan minyak dunia. Organisasi ini didirikan pada 1960 untuk mengendalikan harga dengan cara membatasi produksi.
Namun, pengaruh OPEC mulai terbatas seiring meningkatnya produksi dari negara non-anggota seperti Kanada, China, Rusia, dan AS. Selain itu, negara anggota sering kali melampaui kuota produksi yang telah ditetapkan.
Faktor geopolitik seperti invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 juga sempat mengacaukan pasar hingga membuat harga melonjak di atas 120 dolar AS per barel.



















