Menteri Pertahanan Korsel Ahn Gyu-back (kiri) dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di Washington, pada 11 Mei 2026. (x.com/ROK_MND)
Ahn menguraikan beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan Seoul, meliputi dukungan politik dan berbagi informasi, pengiriman personel militer, serta pengerahan aset militer. Namun, ia menegaskan setiap keputusan akan mengikuti prosedur hukum internasional dan domestik.
"Operasi Epic Fury dengan jelas menunjukkan komitmen teguh pemerintahan ini untuk menghadapi ancaman dan membela kepentingan tersebut. Dalam lingkungan ancaman global saat ini, kekuatan aliansi kita sangat penting," kata Hegseth selama pembicaraannya dengan Ahn, dikutip dari Korea JoongAng Daily.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump dan Hegseth menyerukan dukungan sekutu, termasuk Seoul, guna mengamankan jalur pelayaran di kawasan Teluk di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran. Hingga kini, negosiasi gencatan senjata antara Washington-Teheran masih buntu.
Isu ini menguat setelah Korsel mengonfirmasi bahwa kebakaran pada kapal HMM Namu di dekat Selat Hormuz disebabkan oleh serangan eksternal. Seoul kini sedang melakukan penyelidikan bersama dengan Washington dan siap memberikan analisis teknis dan dukungan konsultatif kepada AS bila diperlukan.