Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Foto Selfie Pilot Picu Tabrakan Jet Tempur Korsel Senilai Rp2,3 Triliun

Foto Selfie Pilot Picu Tabrakan Jet Tempur Korsel Senilai Rp2,3 Triliun
Ilustrasi jet tempur. (pixabay.com/Military_Material)
Intinya Sih
  • Insiden tabrakan dua jet tempur F-15K di dekat Daegu terjadi karena pilot mencoba selfie dan merekam video saat penerbangan terakhirnya bersama unit militer.
  • Kerusakan akibat tabrakan mencapai Rp2,3 triliun, namun pilot hanya diwajibkan membayar sekitar Rp1 miliar setelah penyelidikan badan audit mempertimbangkan tanggung jawab bersama.
  • Angkatan Udara Korsel meminta maaf secara terbuka dan berjanji memperketat aturan penggunaan kamera pribadi demi meningkatkan keselamatan penerbangan militer.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pihak berwenang Korea Selatan (Korsel) baru-baru ini mengungkap insiden tabrakan di udara antara dua jet tempur F-15K milik Angkatan Udara (AU), yang terjadi pada Desember 2021. Menurut laporan yang dirilis oleh Badan Audit dan Inspeksi (BAI) pada 22 April 2026, insiden ini disebabkan oleh aksi pilot yang mencoba melakukan selfie (swafoto) dan merekam video selama penerbangan.

Disebutkan, insiden yang terjadi di dekat Daegu tersebut melibatkan seorang pilot berpangkat mayor di AU, yang melakukan manuver berbahaya yang tidak direncanakan, dilansir Korea Herald.

1. Kronologi insiden tabrakan pesawat

Ilustrasi pilot pesawat tempur. (pexels.com/Jesús Esteban San José)
Ilustrasi pilot pesawat tempur. (pexels.com/Jesús Esteban San José)

BAI mengatakan insiden itu terjadi karena pilot tersebut ingin mengambil foto untuk memperingati penerbangan terakhirnya bersama unit militernya. "Mengambil foto penerbangan penting adalah praktik yang lazim di kalangan pilot pada saat itu," kata BAI dalam laporannya, dikutip dari BBC.

Menurut laporan tersebut, pilot telah menyatakan niatnya untuk melakukan hal itu dalam sebuah pengarahan sebelum penerbangan. Ia menerbangkan pesawat pendamping dan mengikuti pesawat utama selama misi. Saat terbang kembali ke pangkalan mereka, ia mulai mengambil gambar menggunakan ponsel pribadinya. Setelah menyadari hal ini, pilot pesawat utama kemudian meminta pilot lain di pesawatnya untuk merekam video pesawat pendamping.

Pilot pendamping kemudian tiba-tiba menerbangkan jetnya lebih tinggi dan membalikkannya agar dapat terekam lebih baik oleh kamera. Manuver ini membuat kedua pesawat tersebut sangat dekat satu sama lain. Untuk menghindari tabrakan, pesawat yang memimpin mencoba untuk turun dengan cepat. Namun, kedua jet F-15K akhirnya bertabrakan.

2. Denda dan kompensasi yang diberikan terhadap pilot tersebut

Ilustrasi jet tempur di pangkalan udara militer. (pexels.com/Jesús Esteban San José)
Ilustrasi jet tempur di pangkalan udara militer. (pexels.com/Jesús Esteban San José)

Meskipun kedua pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa korban jiwa, tabrakan tersebut merusak sayap kiri pesawat yang memimpin dan penstabil ekor pesawat pendamping. Nilai total kedua aset tersebut mencapat 135 juta dolar AS (sekitar Rp2,3 triliun), dengan biaya perbaikan langsung sebesar 880 juta won (Rp10,2 miliar).

Pilot yang memicu manuver telah diskors dan kemudian keluar dari militer untuk menjadi pilot di maskapai komersial. Awalnya, ia dituntut membayar penuh biaya perbaikan, tetapi pilot tersebut mengajukan banding terhadap denda tersebut, yang memicu penyelidikan oleh badan audit.

Pilot pendamping mengakui manuver mendadaknya menyebabkan tabrakan. Akan tetapi, ia berpendapat bahwa pilot pesawat utama telah secara diam-diam menyetujui manuver tersebut karena ia menyadari bahwa pengambilan gambar sedang berlangsung. Alhasil, badan audit memutuskan bahwa pilot pendamping hanya perlu membayar 10 persen atau sekitar 87,8 juta won (Rp1 miliar) dari total kerugian.

3. Militer Korsel melakukan permintaan maaf kepada publik

Ilustrasi bendera Korea Selatan. (pexels.com/Mirko Kuzmanovic)
Ilustrasi bendera Korea Selatan. (pexels.com/Mirko Kuzmanovic)

Dewan audit menyebutkan bahwa AU Korsel harus memikul sebagian tanggung jawab karena tidak mengatur dengan benar penggunaan kamera pribadi oleh pilot. Pihaknya juga mempertimbangkan rekam jejak pilot pendamping yang baik sebelum insiden tersebut. Dikatakan, pilot tersebut juga berhasil mencegah kerusakan lebih lanjut dengan segera mengendalikan kembali pesawatnya ke pangkalan dengan aman. Laporan tersebut tidak menyebutkan apakah ada tindakan yang diambil terhadap pilot lain yang terlibat dalam insiden tersebut.

Angkatan Udara Korsel baru merilis detail insiden ini setelah empat tahun dirahasiakan. Pada 23 April 2026, pihak militer menyampaikan permintaan maaf resmi secara terbuka dan berjanji akan mereformasi budaya keselamatan penerbangan, guna mencegah terulangnya kejadian serupa.

Investigasi ini menyoroti kelalaian prosedur keamanan dalam militer Korsel, di mana praktik lazim mengambil foto kenang-kenangan justru hampir berakhir dengan tragedi fatal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More