Ilustrasi bendera Korea Utara (kiri) dan bendera Korea Selatan (kanan). (pixabay.com/www_slon_pics)
Menteri Luar Negeri Korsel, Cho Hyun, menegaskan kembali pendirian pemerintahan Presiden Lee Jae Myung yang ingin mempertahankan pendekatan yang lebih diplomatis terhadap hubungan Seoul-Pyongyang.
Cho menekankan bahwa Korsel berkomitmen mengurangi permusuhan dan konfrontasi dengan Korut. Pemerintah juga mendukung pendekatan bertahap untuk denuklirisasi Semenanjung Korea, bukan langkah sekaligus. Seoul ingin mendorong hidup berdampingan secara damai dan pertumbuhan bersama antara kedua Korea.
"Seperti yang presiden katakan sebelumnya, musim semi pada akhirnya akan tiba meskipun musim dingin terasa panjang," ujar Cho dalam pidatonya di forum yang diselenggarkaan oleh dewan penasihat tentang perdamaian dan diplomasi pada 6 Mei 2026.
Ungkapan tersebut dipakai sebagai metafora bahwa meski situasi hubungan Korut-Korsel sulit dan penuh ketegangan, pemerintah percaya dialog dan perdamaian tetap bisa dicapai secara perlahan.
Awalnya, Pyongyang mengadopsi konstitusinya pada 1948. Ini sebelum memberlakukan konstitusi sosialis pada 1972, setelah beberapa kali revisi. Amandemen terbaru juga menghapus kata sosialis dari judul resmi konstitusi tersebut.