Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Misteri Kapal Rusia Karam Diduga Bawa Reaktor Nuklir Untuk Korut

Misteri Kapal Rusia Karam Diduga Bawa Reaktor Nuklir Untuk Korut
ilustrasi kapal ekspor barang (pexels.com/Martin Damboldt)
Intinya Sih
  • Penyidik Spanyol menemukan kapal kargo Rusia Ursa Major tenggelam di Laut Mediterania diduga membawa komponen reaktor nuklir menuju Korea Utara, dengan dua awak hilang dan bangkai kapal di kedalaman 2.500 meter.
  • Kapten kapal mengakui muatan sebenarnya berupa bagian reaktor nuklir kapal selam tanpa bahan bakar, meski dokumen resmi mencantumkan barang tidak berbahaya dan rute pelayaran diarahkan ke pelabuhan Rason, Korut.
  • Insiden ini memicu dugaan sabotase terkait hubungan militer Rusia–Korut setelah ditemukan lubang menyerupai bekas torpedo di lambung kapal, sementara penyidik menelusuri upaya transfer teknologi nuklir ke Pyongyang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Penyidik Spanyol mengungkap temuan baru terkait tenggelamnya kapal kargo Rusia, Ursa Major, di Laut Mediterania. Kapal yang sebelumnya bernama Sparta III itu diduga mengangkut komponen penting untuk dua reaktor nuklir kapal selam dengan tujuan akhir Korea Utara (Korut).

Kapal sepanjang 142 meter tersebut karam setelah ledakan terjadi di ruang mesin saat berlayar sekitar 62 mil laut dari Murcia, Spanyol. Dari 16 awak kapal, 14 orang berhasil dievakuasi, sementara dua insinyur bernama Nikitin dan Yakovlev hilang dan diduga meninggal dunia. Bangkai kapal kini berada di kedalaman 2.500 meter bersama muatan yang tengah diselidiki otoritas Spanyol.

1. Kapal perang Rusia mengambil alih lokasi evakuasi

Kapal perang abu-abu bersandar di pelabuhan dengan latar belakang bangunan industri dan langit berawan.
ilustrasi kapal perang (pexels.com/Karina Badura)

Layanan penyelamatan maritim Spanyol, Sasemar, merespons sinyal darurat Ursa Major dengan mengirim kapal tunda dan helikopter ke lokasi kejadian. Mengutip The Guardian, situasi berubah setelah kapal perang Rusia tiba di area tersebut dan mengambil alih operasi di sekitar kapal kargo itu.

Rusia kemudian menyalakan suar dan meminta tim penyelamat Spanyol menjauh hingga radius dua mil laut. Di area yang sama, terdeteksi empat sinyal seismik menyerupai ledakan bawah air sebelum kapal akhirnya tenggelam sepenuhnya pada malam hari.

Aktivitas di titik karamnya kapal tetap berlangsung tinggi setelah insiden itu. Kapal mata-mata Rusia, Yantar, dilaporkan berada selama lima hari di sekitar bangkai kapal, sementara pesawat pemindai nuklir milik Amerika Serikat (AS) tercatat dua kali melintas di area tersebut dalam setahun terakhir.

Meski penyelidikan terus berjalan, otoritas Spanyol mengaku enggan mengambil perekam data kapal dari dasar laut. Langkah itu dinilai memiliki biaya besar dan risiko teknis yang tinggi.

2. Kapten kapal mengakui muatan reaktor nuklir

Kapal kargo besar membawa kontainer berwarna-warni berlayar di pelabuhan dengan bantuan kapal tunda di perairan tenang.
ilusrasi kapal berlayar (pexels.com/Tom Fisk)

Informasi mengenai muatan Ursa Major mulai terbuka setelah penyidik Spanyol memeriksa kapten kapal tersebut. Menurut laporan Euro News yang mengutip CNN, kapten mengakui manifes “barang dagangan tidak berbahaya” yang tercantum dalam dokumen hanyalah kedok.

Menurut pengakuannya, dua penutup hatch berukuran besar yang dibawa kapal sebenarnya merupakan komponen reaktor nuklir kapal selam tanpa bahan bakar. Ia juga meyakini jalur pelayaran kapal akan diarahkan menuju pelabuhan Rason di Korut.

Penyidik kemudian menemukan sejumlah kejanggalan dalam pengiriman tersebut. Muatan berbobot 65 ton per kontainer itu dikirim melalui jalur laut memutar mengelilingi dunia, bukan memakai jaringan kereta api Rusia yang dianggap lebih efisien.

Selain itu, dokumen resmi mencatat isi muatan berupa derek dan kontainer kosong. Namun, penyidik menduga derek tersebut disiapkan untuk membongkar komponen nuklir sensitif di pelabuhan tujuan.

Foto satelit juga memperlihatkan dua kontainer biru berukuran besar di bagian buritan kapal. Bentuk dan ukurannya dinilai tak sesuai dengan deskripsi muatan biasa dalam manifes.

3. Dugaan sabotase mengiringi hubungan Rusia dan Korut

Vladimir Putin di Pyongyang dalam kunjungan kenegaraan atas undangan Kim Jong-un.
Vladimir Putin di Pyongyang dalam kunjungan kenegaraan atas undangan Kim Jong-un. (Presidential Executive Office of Russia, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Ursa Major dioperasikan Oboronlogistika, perusahaan milik Kementerian Pertahanan Rusia yang telah masuk daftar sanksi AS dan Inggris sejak 2022. Perusahaan itu juga diketahui memperoleh lisensi pengangkutan material nuklir beberapa waktu sebelum kapal tenggelam.

Insiden tersebut terjadi setelah pemimpin Korut, Kim Jong-un, mengirim 10 ribu tentara untuk membantu Rusia dalam perang di Ukraina. Sebagai balasan, Kim secara terbuka mengincar teknologi kapal selam bertenaga nuklir dari Moskow.

Intelijen Korea Selatan juga melaporkan Rusia telah memasok sedikitnya satu reaktor ke Pyongyang pada 2025. Laporan surat kabar La Verdad yang diperiksa CNN kemudian memunculkan dugaan sabotase militer Barat sebagai penyebab karamnya kapal.

Penyidik menemukan lubang berukuran 50 sentimeter x 50 sentimeter pada lambung kapal dengan pola kerusakan mengarah ke dalam. Bentuk kerusakan itu disebut menyerupai dampak torpedo supercavitating, senjata berkecepatan tinggi yang dimiliki sejumlah negara seperti AS, Rusia, dan Iran.

Rusia menyebut insiden tersebut sebagai “serangan teroris yang ditargetkan”. Di sisi lain, penyidik Spanyol terus menelusuri dugaan adanya upaya untuk memutus transfer teknologi nuklir menuju Korut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Related Articles

See More