Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lebih dari 2.000 Korban Tewas, Heatwave Eropa Belum Berakhir
ilustrasi penggunaan mist spray di jalan saat heatwave (unsplash.com/Evgeniy Beloshytskiy)
  • Lebih dari 2.000 orang di Spanyol dan Prancis meninggal akibat gelombang panas ekstrem Juni lalu, dengan suhu mencapai 44 derajat Celsius dan lansia menjadi kelompok paling rentan.
  • Cuaca panas memicu kebakaran hutan di wilayah selatan Spanyol dan sekitar Marseille, serta lonjakan kasus tenggelam di Prancis saat warga mencari cara mendinginkan diri.
  • Warga Prancis berebut membeli pendingin ruangan murah hingga menimbulkan keributan, sementara ilmuwan menegaskan frekuensi heatwave meningkat akibat dampak langsung krisis iklim.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di Spanyol dan Prancis sekarang sangat panas sekali, sampai banyak orang meninggal karena kepanasan. Katanya sudah lebih dari dua ribu orang yang mati, banyak yang sudah tua. Udara kering dan panas bikin api di hutan juga muncul. Orang-orang beli mesin pendingin karena takut panas datang lagi. Pemerintah masih berusaha bantu semua orang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Gelombang panas ekstrem kembali mengancam Benua Biru. Spanyol dan Prancis bersiap menghadapi heatwave baru yang diperkirakan membawa suhu hingga 44 derajat Celsius dalam beberapa hari ke depan, setelah cuaca ekstrem sepanjang Juni dikaitkan dengan lebih dari 2.000 kematian berlebih (excess deaths) di kedua negara.

Badan Meteorologi Spanyol (Aemet) memperingatkan massa udara yang sangat panas dan kering mulai menyelimuti sebagian besar wilayah negara itu sejak akhir pekan. Suhu di sejumlah kawasan tenggara diperkirakan mencapai 42 hingga 44 derajat Celsius pada Selasa mendatang.

Juru bicara Aemet, Rubén del Campo, mengatakan suhu akan terus meningkat dalam beberapa hari ke depan. “Suhu akan mulai meningkat selama akhir pekan dan kami tidak bisa mengesampingkan kemungkinan terjadinya gelombang panas lagi,” ujarnya, dilansir dari The Guardian, Jumat (3/7/2026).

Di saat yang sama, data sementara menunjukkan sekitar 1.000 orang meninggal di Spanyol dan sekitar 1.000 orang lainnya di Prancis, akibat dampak suhu ekstrem sepanjang Juni. Para ilmuwan menilai gelombang panas tersebut menjadi salah satu yang terparah yang pernah melanda Eropa Barat dan tidak mungkin terjadi tanpa dampak krisis iklim akibat penggunaan bahan bakar fosil.

1. Korban jiwa bertambah, lansia jadi kelompok paling rentan

ilustrasi jalanan Eropa saat heatwave melanda (unsplash.com/Jim Luo)

Data sistem pemantauan kematian harian Kementerian Kesehatan Spanyol (MoMo) mencatat terdapat lebih dari 1.029 kematian, yang dikaitkan dengan suhu tinggi selama Juni.

Sementara, Badan Kesehatan Masyarakat Prancis melaporkan gelombang panas selama 10 hari pada akhir Juni menyebabkan sekitar 1.000 kematian tambahan dibandingkan periode normal, meski angka tersebut masih bersifat sementara dan belum menjadi laporan akhir.

Direktur rumah sakit wilayah Paris, Nicolas Revel, memperkirakan jumlah korban tidak akan menyamai bencana heatwave 2003 yang menewaskan sekitar 15.000 orang. Namun, ia tetap memperkirakan korban tahun ini akan melampaui 5.700 kematian akibat panas yang tercatat sepanjang tahun lalu.

Layanan darurat medis SOS-Médecins juga melaporkan lonjakan signifikan dampak kesehatan akibat cuaca panas. Kematian warga berusia di atas 75 tahun meningkat 85 persen selama dua pekan terakhir Juni. Sebanyak 513 lansia meninggal dalam sepekan mulai 22 Juni, dibandingkan 278 orang pada pekan sebelumnya.

Selain itu, panggilan darurat untuk kelompok lansia meningkat 14 persen, sementara angka rawat inap bertambah 19 persen. Di seluruh kelompok usia, kasus heatstroke melonjak hingga 480 persen dan dehidrasi meningkat 315 persen dibandingkan periode sebelumnya.

2. Risiko kebakaran hutan hingga lonjakan korban tenggelam

ilustrasi heatwave (unsplash.com/Bilal Daultana)

Gelombang panas juga memicu berbagai dampak lanjutan di Prancis maupun Spanyol. Aemet memperingatkan suhu tinggi berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan, terutama di wilayah selatan Spanyol.

Di Prancis, kondisi cuaca yang sangat kering membuat petugas pemadam kebakaran masih berjibaku memadamkan sejumlah kebakaran besar yang diperparah embusan angin kencang.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan tiga kebakaran hutan, termasuk dua di sekitar Kota Marseille, telah menghanguskan sekitar 1.210 hektare lahan.

Sementara, Menteri Olahraga dan Pemuda Prancis Marina Ferrari mengungkapkan jumlah korban tenggelam juga meningkat tajam sejak gelombang panas melanda.

“Ini adalah angka yang mengkhawatirkan,” kata Ferrari.

Ia menambahkan, “Kami melihat penurunan dalam beberapa hari terakhir, sehingga terlihat jelas bahwa hal ini juga berkorelasi dengan gelombang panas ketika banyak orang mencari cara untuk mendinginkan tubuh.”

3. Warga berebut pendingin ruangan

ilustrasi heatwave (unsplash.com/Immo Wegmann)

Meningkatnya suhu juga memicu kepanikan warga Prancis yang berusaha membeli pendingin ruangan, menjelang datangnya gelombang panas berikutnya.

Ratusan orang memadati sejumlah supermarket Lidl di Paris dan sekitarnya, setelah toko tersebut menjual pendingin ruangan portabel dengan harga sekitar 179 euro, jauh lebih murah dibanding harga pasar yang mencapai lebih dari 1.200 euro.

Antrean panjang bahkan memicu keributan dan saling dorong antarwarga, hingga polisi harus dikerahkan ke beberapa lokasi.

Seorang warga Paris, Mousa Traore, mengaku telah mengantre lebih dari satu jam bersama sekitar 200 orang lainnya.

“Tapi kemudian polisi datang dan kami diberi tahu bahwa tidak ada lagi unit yang tersedia. Saya kira polisi yang mengambilnya,” ujarnya, sambil tertawa.

Situasi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah pinggiran Paris. Banyak warga memilih meninggalkan kendaraan mereka, karena akses menuju supermarket dipenuhi antrean panjang.

4. Krisis iklim buat heatwave makin sering terjadi

ilustrasi heatwave yang terjadi karena halangan atmosfer (unsplash.com/fabian jones)

Aemet mencatat Juni 2026 menjadi Juni terpanas kedua dalam sejarah pencatatan di Spanyol, hanya kalah dari Juni 2025. Rata-rata suhu bulan lalu tercatat 3,2 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.

Para ilmuwan menegaskan gelombang panas yang kini berulang hampir setiap tahun, merupakan dampak langsung dari perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.

Selain meningkatkan risiko kematian, suhu ekstrem juga membebani sistem kesehatan, memperbesar ancaman kebakaran hutan, mengganggu aktivitas masyarakat, hingga memaksa pemerintah memperkuat langkah mitigasi menghadapi cuaca yang semakin ekstrem di masa mendatang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article