5 Negara yang Paling Sering Dilanda Heatwave Ekstrem, Mematikan!

- Gelombang panas ekstrem menewaskan sekitar 489.000 orang per tahun di dunia, dengan India, Pakistan, Thailand, Eropa, China, dan Amerika Serikat menjadi wilayah paling sering terdampak.
- Negara-negara seperti India dan Pakistan mencatat suhu hingga 50 derajat Celcius setiap tahun, memicu ribuan kematian akibat infrastruktur terbatas dan akses pendingin yang minim.
- Eropa, China, dan AS juga mengalami lonjakan suhu ekstrem yang mengganggu aktivitas industri, memicu kebakaran hutan, serta meningkatkan angka kematian akibat krisis iklim global.
Gelombang panas ekstrem adalah kenyataan pahit yang berulang kali merenggut nyawa di berbagai belahan dunia. Kawasan berpenduduk padat dengan infrastruktur terbatas memang paling babak belur, tapi negara maju pun tak luput dari amukan suhu yang kian membumbung tinggi. Sekitar 489.000 kematian per tahun di seluruh dunia dikaitkan dengan fenomena ini, sebuah angka yang terus bertambah seiring memanasnya bumi. Lantas, mana saja wilayah yang menjadi langganan heatwave mematikan? Berikut daftarnya.
1. India kerap menembus 50 derajat Celcius

India nyaris setiap tahun menghadapi gelombang panas ekstrem, dengan suhu yang kerap menembus 50 derajat Celcius. Pada Juni 2015, gelombang panas dahsyat menewaskan lebih dari 2.500 orang di negara bagian Andhra Pradesh dan Telangana. Kombinasi panas tinggi, kepadatan penduduk, serta akses pendingin ruangan yang belum merata memicu tingginya angka korban jiwa.
Studi terkini mencatat bahwa suhu ekstrem ini bukan peristiwa tunggal, melainkan pola tahunan yang semakin parah. Pada April 2023, terdapat 48 stasiun cuaca dengan suhu melewati 42 derajat, dan menyebabkan 13 orang tewas dalam sebuah acara penghargaan di Maharashtra. Kejadian ini mempertegas kalau tak ada tempat aman dari sengatan panas.
2. Pakistan mengalami heatwave terparah tahun 2022 yang mencapai suhu hampir 50 derajat Celsius

Pakistan termasuk negara Asia Selatan yang berulang kali dilanda heatwave. Kota Jacobabad pernah mencatat temperatur hampir 50 derajat Celsius, angka yang mendekati batas toleransi tubuh manusia jika dipadukan dengan kelembapan tinggi. Situasi tersebut meningkatkan risiko dehidrasi berat, serangan panas, dan kegagalan organ.
Menurut World Weather Attribution, heatwave ekstrem di Pakistan pada 2022 terjadi dengan peluang jauh lebih besar berkat pemanasan global. Kota-kota seperti Sukkur dan Dadu melaporkan suhu 50 derajat Celcius, memaksa penduduk untuk bertahan di dalam ruangan tanpa pendingin. Sayangnya, infrastruktur dan akses listrik yang minim membuat warga makin rentan terserang heatstroke.
3. Thailand mengalami gelombang panas paling ekstrem mencapai 50,2 derajat Celcius di Bangkok pada 2023

Tak cuma Asia Selatan, Asia Tenggara juga berubah menjadi tungku raksasa. Thailand mencatat salah satu indeks panas tertinggi di dunia, mencapai 50,2 derajat Celcius di Bang Na, Bangkok pada April 2023. Suhu ini bukan sekadar angka, tapi level bahaya yang dapat menyebabkan henti jantung mendadak.
Berdasarkan data Nature, Bangkok yang berpenduduk 11,2 juta jiwa mencatat suhu basah (wet-bulb temperature) mencapai 28,73 derajat Celcius pada 2024, sebuah ambang batas yang mematikan bagi manusia. Sekitar 61 kematian dilaporkan di Thailand saat gelombang panas itu, namun angka sebenarnya diperkirakan lebih tinggi sebab banyak kasus tidak terlaporkan.
4. Eropa (Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol) mengalami peningkatan suhu ekstrem 44,3 derajat Celcius

Eropa kini jadi episentrum baru krisis panas ekstrem yang tak terduga. Studi global mengidentifikasi Eropa Barat Laut sebagai wilayah dengan peningkatan panas terintens, di mana suhu hari terpanas melonjak dua kali lipat lebih cepat dibandingkan rata-rata musim panas. Pada 2022, sekitar 60.000 orang meninggal di Eropa karena gelombang panas, kemudian jumlahnya meningkat menjadi 47.000 pada 2023.
Belum lama ini, Eropa kembali dilanda gelombang panas, memecahkan rekor dengan suhu 44,3 derajat Celcius di Pissos, Prancis. Menurut pernyataan resmi WHO, lebih dari 1.300 kematian tambahan telah tercatat di seluruh benua hanya dalam kurun waktu sepekan. Jumlah ini diprediksi akan semakin bertambah, mengingat sistem pelaporan kematian di berbagai negara masih terus melakukan pendataan, terutama dari rumah-rumah perawatan lansia yang paling terdampak.
5. China mengalami gelombang panas setiap tahun yang mengakibatkan sungai-sungai besar surut

China mengalami peningkatan frekuensi heatwave dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di wilayah tengah dan timur. Musim panas 2022 bahkan tercatat sebagai salah satu yang terpanas sepanjang sejarah. Sungai menyusut, pembangkit listrik terganggu, dan aktivitas industri ikut terkena imbas.
Berdasarkan analisis World Meteorological Organization (WMO), perubahan iklim memperbesar peluang munculnya gelombang panas ekstrem di negara tersebut. Selain itu, gelombang panas kering yang dulu berlangsung 1.000 tahun sekali, kini berpotensi terjadi setiap tahun di kawasan Lembah Sungai Yangtze. Dampak yang ditimbulkan pun luar biasa brutal, mulai dari gagal panen yang mengancam ketahanan pangan, hingga pemadaman listrik massal yang melumpuhkan aktivitas.
6. Amerika Serikat (wilayah barat) mengalami peningkatan suhu ekstrem hingga menelan korban 2.325 orang di tahun 2023

Meski dijuluki negara adidaya dengan segudang sumber daya dan teknologi canggih, Amerika Serikat tetap tak bisa membeli perlindungan dari sengatan panas mematikan. Pada 2021 lalu, gelombang panas di Pacific Northwest memecahkan rekor dengan lonjakan suhu mencapai 30 derajat Celcius di atas normal, membakar habis kota Lytton di Kanada tetangga dan mendorong kebakaran hutan yang meluas. Ironisnya, wilayah yang dulu terkenal sejuk ini justru berubah jadi tungku raksasa yang merenggut ratusan nyawa.
Dilansir Phys Org, data mengonfirmasi kalau 2.325 orang di AS meninggal akibat stres panas pada 2023, sebuah angka yang melonjak dua kali lipat dibanding tahun 1999. Studi dari The Innovation mengungkap bahwa lebih dari 54 persen kematian pada tahun yang sama ternyata dipicu oleh perubahan iklim yang diciptakan ulah manusia sendiri. Temuan itu membuktikan jika panas ekstrem bukan lagi bencana alam biasa, melainkan konsekuensi nyata dari krisis iklim yang kian tak terbendung, bahkan di negara sekaya AS sekalipun.
Masyarakat di negara-negara ini kini harus belajar beradaptasi dengan kenyataan baru yang lebih kejam. Namun, perjuangan melawan panas mematikan tak boleh hanya jadi tanggung jawab individu, ia membutuhkan aksi kolektif global yang jauh lebih serius dari sekadar janji politik. Sebab bila tren ini berlanjut, kita tidak sedang menuju musim panas yang lebih terik, tapi menuju ambang batas bertahan hidup umat manusia.


















