Dalam kesepakatan damai dengan Amerika Serikat yang diraih pada 14 Juni lalu, Iran sebetulnya sudah bersedia melepas kontrol Selat Hormuz selama 60 hari. Selama itu, negara Islam Syiah tersebut akan mengizinkan kapal-kapal untuk berlayar di Selat Hormuz dengan bebas dan aman. Namun, setelah 60 hari, Iran bakal kembali mengontrol Selat Hormuz secara penuh.
Ogah Lepas Kontrol, Iran Ngotot Kuasai Selat Hormuz Selamanya

- Iran menegaskan ingin terus menguasai Selat Hormuz meski dalam kesepakatan damai dengan AS hanya diberi masa 60 hari kebebasan pelayaran.
- Pemerintah Iran telah membahas rencana pemungutan tarif kapal di Selat Hormuz bersama Oman, namun Oman menolak karena bertentangan dengan hukum internasional.
- Amerika Serikat menolak keras rencana Iran memungut tarif, menegaskan bahwa Selat Hormuz adalah jalur perairan internasional yang harus bebas dilalui tanpa biaya.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Iran dikabarkan ingin tetap menguasai dan mengontrol Selat Hormuz secara penuh untuk selamanya. Keinginan tersebut disampaikan oleh dua sumber internal Iran yang tidak disebut namanya pada Rabu (1/7/2026).
1. Iran bakal memperjuangkan kontrol Selat Hormuz dalam negosiasi dengan AS
Dua sumber tadi menambahkan, Pemerintah Iran juga bakal memperjuangkan kontrol Selat Hormuz dalam negosiasi dengan AS. Sebab, negosiasi AS dan Iran kini sedang kembali berlangsung usai kedua negara saling serang pada pekan lalu.
Iran tidak akan menambah masa hak bebas layar di Selat Hormuz selama 60 hari seperti yang sudah disepakati dalam kesepakatan damai dengan AS. Setelah 60 hari selesai, Iran akan mulai memungut tarif untuk semua kapal yang melewati selat itu.
2. Iran sudah membahas pemberlakuan tarif di Selat Hormuz dengan Oman

Iran juga sudah bertemu dengan delegasi Oman untuk membahas pemberlakuan tarif di Selat Hormuz. Pertemuan tersebut terjadi pada 23 Juni lalu. Namun, Menteri Luar Negeri Oman, Albusaidi, mengatakan pihaknya akan menghormati hukum internasional yang berlaku di Selat Hormuz. Sebab, Selat Hormuz merupakan perairan internasional sehingga pihak mana pun tidak boleh memungut biaya bagi kapal-kapal yang ingin berlayar di sana.
"Kami menegaskan komitmen terhadap hukum internasional dan jalur aman bebas bea (di Selat Hormuz)," ujar Albusaidi dilansir France 24.
3. AS menegaskan Iran tidak boleh memungut tarif di Selat Hormuz

Sebetulnya, Pemerintah AS juga sudah menegaskan bahwa Iran tidak boleh memungut tarif untuk kapal-kapal yang ingin berlayar di Selat Hormuz. Sebab, Selat Hormuz merupakan laut internasional yang bebas dilewati oleh kapal dari negara mana pun.
Berdasarkan hukum laut internasional, Selat Hormuz berbeda dengan terusan, seperti Terusan Suez dan Terusan Panama. Selat Hormuz merupakan salah satu bagian alam yang terbentuk secara alami sehingga bebas dilewati siapa saja. Sementara itu, terusan merupakan jalur perdagangan khusus yang dibangun oleh sejumlah negara. Oleh karena itu, negara-negara yang membangun terusan diperbolehkan untuk memungut tarif bagi kapal yang ingin berlayar di sana.
“Ini adalah jalur perairan internasional. Tidak ada negara yang diizinkan untuk memungut tol atau biaya apa pun di jalur perairan internasional. Semua negara di kawasan ini akan setuju,” kata Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, seperti dilansir The New York Times.




















