Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
seorang pengunjuk rasa memegang bendera Palestina (Matt Hrkac from Melbourne, Australia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
seorang pengunjuk rasa memegang bendera Palestina (Matt Hrkac from Melbourne, Australia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Massa kecam sikap Israel yang melanggar kesepakatan gencatan senjata

  • Ratusan ribu orang juga hadiri aksi solidaritas untuk Gaza di Turki

  • Pemerintah Gaza berharap 2026 jadi tahun baik bagi Gaza

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ratusan orang di ibu kota Swedia, Stockholm, memilih menghabiskan malam tahun baru dengan mengadakan aksi solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza. Mereka menuntut diakhirinya perang genosida Israel di wilayah tersebut sekaligus mendesak pemerintah Swedia menghentikan penjualan senjata ke Israel.

Di tengah suhu yang sangat dingin pada Rabu (31/12/2025) malam, para pengunjuk rasa berkumpul di Segels Torg Square untuk berkabung atas warga sipil yang tewas akibat serangan Israel. Sambil mengibarkan bendera Palestina dan membawa obor, mereka kemudian melakukan long march menuju Parlemen Swedia.

“Di tahun baru ini, kami menolak kematian massal, blokade di Palestina, dan sikap diam terhadap peristiwa-peristiwa ini. Kami menolak memulai tahun baru dengan menutup mata terhadap ketidakadilan," kata penyelenggara dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Anadolu.

1. Massa kecam sikap Israel yang melanggar kesepakatan gencatan senjata

Pernyataan tersebut juga menyoroti sikap Israel yang tidak menepati komitmen perdamaian dengan Palestina.

"Saat dunia memasuki tahun baru, genosida terus berlanjut di Palestina. Meskipun ada gencatan senjata, warga Palestina terus terbunuh, pengepungan terus berlanjut, dan orang-orang mati kedinginan karena terpaksa tinggal di tenda tanpa tempat berlindung," kata penyelenggara.

Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, Israel telah membunuh sedikitnya 416 warga Palestina dan melukai 1.153 lainnya sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober lalu. Dengan demikian, total korban tewas sejak perang meletus pada 7 Oktober 2023 kini mencapai 71.271 orang, dengan 171.233 lainnya mengalami luka-luka.

Israel juga tidak menepati janjinya untuk mengizinkan 600 truk bantuan masuk ke Gaza setiap hari sesuai kesepakatan. Dalam kebijakan terbarunya, Israel bahkan mencabut izin 37 organisasi kemanusiaan yang beroperasi di wilayah tersebut, sebuah langkah yang berisiko memperparah situasi kemanusiaan yang sudah sangat memprihatinkan.

2. Ratusan ribu orang juga hadiri aksi solidaritas untuk Gaza di Turki

Di kota Istanbul, Turki, ratusan ribu orang juga ikut serta dalam unjuk rasa solidaritas untuk Palestina pada Kamis (1/1/2026). Mereka mengibarkan bendera Palestina dan Turki saat berjalan menuju Jembatan Galata yang bersejarah.

Lebih dari 400 organisasi masyarakat sipil ikut ambil bagian dalam unjuk rasa ini. Beberapa klub sepak bola ternama juga mengajak para pendukung mereka untuk hadir, menjadikan aksi tersebut sebagai salah satu demonstrasi pro-Palestina terbesar yang pernah terjadi di Turki sejak perang Israel dimulai.

“Gagasan utama di sini adalah untuk menunjukkan solidaritas mereka terhadap rakyat Palestina dan membiarkan dunia tidak melupakan apa yang terjadi di Gaza,” kata Sinem Koseoglu, koresponden Al Jazeera di Turki.

3. Pemerintah Gaza berharap 2026 jadi tahung baik bagi Gaza

Dalam pernyataan Tahun Baru, Kantor Media Pemerintah Gaza mendesak agar semua titik perbatasan dibuka secara permanen untuk memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan, dimulainya proses rekonstruksi, penyediaan kebutuhan dasar bagi pengungsi, dan pemulangan warga ke rumah dengan aman.

Kantor tersebut juga menekankan bahwa lembaga bantuan harus dapat beroperasi tanpa hambatan, dan Israel harus dimintai pertanggungjawaban atas kejahatannya berdasarkan hukum internasional.

“Meski tragedi ini begitu besar, rakyat Palestina tetap teguh dalam hak mereka atas kehidupan, kebebasan, dan martabat. Mereka menegaskan bahwa 2026 harus menjadi tahun untuk mengakhiri penderitaan, bukan memperpanjangnya; tahun untuk membangun kembali apa yang telah dihancurkan oleh pendudukan, bukan memperkokoh bencana yang terus berlangsung," kata kantor tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team