Hujan Lebat, Kamp Pengungsi Palestina di Gaza Terendam Banjir

- Israel melanggar gencatan senjata, 418 warga Palestina tewas dan 1.100 cedera sejak Oktober 2025.
- Tenda-tenda pengungsi Palestina terendam banjir, menyebabkan risiko cedera, hipotermia, dan penyakit.
- Jepang, Kanada, dan 8 negara Eropa mendesak Israel membuka perbatasan untuk bantuan kemanusiaan yang mendesak.
Jakarta, IDN Times - Perang genosida Israel di Jalur Gaza terus berlanjut seiring dengan pelanggaran perjanjian gencatan senjata yang hampir setiap hari mereka lakukan. Warga Palestina yang mengungsi harus menanggung kehancuran yang tidak hanya akibat serangan pasukan Israel di seluruh wilayah kantong tersebut, tetapi juga akibat banjir yang disebabkan oleh hujan lebat di musim dingin.
Jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, mengatakan bahwa serangan udara Israel pada Selasa (30/12/2025) menargetkan lokasi di utara Rafah dan timur Khan Younis, kamp Maghazi di Gaza tengah, dan Beit Lahiya di utara Jalur Gaza.
"Penembakan artileri telah dilaporkan di wilayah selatan dan tengah wilayah tersebut. Sementara itu, serangan juga terjadi lingkungan Shujayea di kota Gaza, yang mengenai dekat tenda sebuah keluarga pengungsi," ujarnya.
1. Serangan Israel sejak gencatan senjata Oktober 2025 membunuh 418 warga Palestina
Khoudary mengungkapkan bahwa serangan terbaru terjadi pada saat kesulitan luar biasa bagi ratusan ribu pengungsi Palestina. Sebab, hujan lebat dan angin kencang telah menghancurkan kamp-kamp darurat mereka, serta meluluhlantakkan sedikit harta benda yang tersisa.
"Warga Palestina masih sangat trauma dan cemas. Situasi di lapangan terus memburuk seiring berlanjutnya hujan," ungkapnya.
Israel telah melanggar gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS). Kantor media pemerintah Gaza mengatakan pada 28 Desember 2025, Israel telah melakukan 969 pelanggaran gencatan senjata sejak mulai berlaku pada 10 Oktober. Akibatnya, 418 kematian warga sipil dan cedera pada lebih dari 1.100 orang.
Jumlah tersebut menambah total 71.266 kematian warga Palestina dan melukai 171.222 orang sejak perang meletus pada Oktober 2023 di Gaza. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
2. Tenda-tenda pengungsi Palestina terendam banjir
Anadolu Agency melaporkan, hujan deras dan angin kencang melanda kawasan Al-Mawasi di Khan Younis, Gaza selatan. Ini menyebabkan banjir yang merendam puluhan tenda yang menjadi tempat berlindung bagi keluarga-keluarga Palestina yang mengungsi di sepanjang pantai.
Hujan lebat mengubah tanah berpasir menjadi genangan air, membuat tenda-tenda darurat menjadi basah kuyup dan tidak stabil. Anak-anak tidur di dalam tenda, sementara air mengalir masuk, dan menimbulkan kekhawatiran akan cedera, hipotermia, dan risiko yang mengancam nyawa.
Disebutkan, dua orang tewas akibat bangunan yang rusak dan runtuh di tengah cuaca buruk dalam beberapa hari terakhir.
Para pejabat telah memperingatkan bahwa kondisi yang parah juga membawa risiko baru. Ancaman penyakit dan wabah adalah bahaya yang membayangi para pengungsi karena sistem pembuangan limbah yang kewalahan dan rusak mencemari air banjir. Serta, risiko bangunan runtuh di tengah hujan lebat dan angin kencang.
3. Jepang, Kanada, dan 8 negara Eropa mendesak Israel membuka perbatasan
Israel terus menutup sebagian besar perbatasan Gaza, guna mencegah masuknya rumah mobil dan material rekonstruksi. Tindakan tersebut memperburuk krisis kemanusiaan yang memengaruhi lebih dari 2 juta orang. Kelompok-kelopok bantuan telah berulang kali menyerukan kepada pihak berwenang Israel untuk mencabut pembatasan agar lebih banyak pasokan yang masuk ke Gaza.
Sebanyak 8 negara Eropa (Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Norwegia, Swedia, Swiss, dan Inggris), Kanada, dan Jepang menyatakan keprihatinan serius atas memburuknya kembali situasi kemanusiaan di Gaza. Dalam pernyataan bersama pada 30 Desember 2025, para menteri luar negeri mengatakan bahwa 1,3 juta warga Gaza masih membutuhkan bantuan tempat tinggal yang mendesak.
Mereka juga mengutip laporan Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) terbaru, yang diterbitkan pada awal Desember, sebagai bukti bahwa situasinya masih sangat parah.
Dalam pernyataan bersama, para menteri juga menyerukan kepada Tel Aviv untuk membuka perbatasan dan meningkatkan aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza. Pihaknya mendesak Israel untuk memastikan bahwa PBB, para mitranya, dan LSM dapat melanjutkan pekerjaan penting mereka dan mencabut pembatasan yang tidak masuk akal yang dianggap memiliki penggunaan ganda.
"Ini termasuk UNRWA yang menyediakan layanan penting, seperti perawatan kesehatan dan pendidikan, kepada jutaan pengungsi Palestina," kata pernyataan tersebut
"Target 4.200 truk per minggu, termasuk alokasi 250 truk PBB per hari, seharusnya menjadi batas minimum bukan batas maksimum. Target ini harus dinaikkan agar pasokan penting sampai dalam skala besar yang dibutuhkan," sambungnya.

















