Kepala Kantor Pencatatan Perkawinan, Liu Chunling mengatakan yang dilakukannya bukanlah tes. Melainkan hanya pengisian sebuah kuesioner. Ia menilai, pemberian serangkaian pertanyaan ini adalah metode mediasi yang inovatif.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan, lanjut dia, bisa diketahui permasalahan apa yang mendera rumah tangga pasangan itu, dan menjadi dasar untuk mediasi. Lewat pertanyaan-pertanyaan itu pula, diharapkan pasangan yang hendak bercerai bisa berpikir rasional dan berpikir ulang mengenai cinta, pernikahan dan keluarga mereka.
Pada gambar pertanyaan yang beredar di media sosial Tiongkok, Weibo, sedikitnya ada tiga bagian soal dengan total ilai 100 poin.
Di bagian pertama, pasangan harus menjawab 10 pertanyaan, termasuk meminta masing-masing untuk menyebutkan tanggal pernikahan hingga ulang tahun pasangan.
Kedua, terdiri dari empat pertanyaan yang lebih panjang seperti konflik terbesar dalam pernikahan. Sementara di bagian tiga pertanyaan yang diberikan berupa soal esai atau uraian tentang pemikiran pasangan, tentang pernikahan dan rencana mereka setelah bercerai.