ilustrasi unjuk rasa, bendera Prancis, Eropa (pexels.com/Andrew Taylor)
Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, mengakui aparat kepolisian kehilangan kendali di sejumlah kota besar seperti Paris, Lyon, dan Marseille akibat kurangnya antisipasi intelijen. Pihak intelijen awalnya memprediksi aksi unjuk rasa hanya diikuti 200 ribu orang, tetapi jumlah massa di lapangan melonjak hingga lebih dari 500 ribu orang. Pengerahan 60 ribu personel keamanan di seluruh Prancis terbukti tidak cukup untuk membendung kelompok perusuh terorganisir di lapangan.
"Anda tidak bisa menatap mata para pemilik toko setelah ratusan toko dijarah lalu mengatakan kami tidak kehilangan kendali," kata Nunez, dilansir The Guardian.
Buntut dari kegagalan antisipasi tersebut, Nunez mengajukan pengunduran diri karena merasa bertanggung jawab penuh atas kekacauan yang terjadi. Namun, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menolak pengunduran diri itu demi menjaga kesinambungan komando pasukan keamanan di tengah situasi krisis. Macron justru menugaskan Nunez mengusut tuntas kegagalan perencanaan intelijen sekaligus menerapkan taktik kepolisian baru di lapangan untuk menghentikan kerusuhan.