Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Biaya Hidup Naik, Kaum Yahudi Prancis Diajak Pindah ke Israel

3 min read
Biaya Hidup Naik, Kaum Yahudi Prancis Diajak Pindah ke Israel
potret Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir (commons.wikimedia.org/Alexander Khanin)
  • Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengajak kaum Yahudi Prancis pindah ke Israel, dengan alasan kehidupan mereka akan lebih baik di tengah kenaikan biaya hidup Prancis.
  • Israel mengintensifkan kampanye menarik kaum Yahudi Eropa, terutama dari Prancis; pemerintahnya menyatakan siap menerima migrasi massal dengan dukungan dana dan rencana strategis.
  • Perekonomian Prancis melemah, biaya hidup melonjak dan sekolah kurang terawat, memicu protes pemuda di Paris, Marseille, serta Lille yang disertai perusakan dan penjarahan toko.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kaum Yahudi Prancis diajak untuk pindah ke Israel imbas kenaikan biaya hidup yang memicu gelombang protes massal di sana. Ajakan tersebut disampaikan oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Ben-Gvir menilai, kehidupan kaum Yahudi Prancis akan lebih baik jika mereka pindah Israel. 

"Pulanglah. Kembalilah ke sini (Israel). Tinggallah di sini. Ini rumahmu dan ini tanah airmu," kata Ben-Gvir dalam pidatonya di acara konferensi komunitas Yahudi Prancis yang digelar di Kota Netanya, Israel, pada Minggu (18/10/2026), seperti dilansir The New Arab, Senin (19/10/2026). Acara itu dihadiri ratusan anggota Partai Otzma Yehudit, partai pendukung Ben-Gvir.

  1. 1. Ben-Gvir minta Prancis memperbaiki ekonominya

    Emmanuel Macron sedang berpidato.
    potret Presiden Prancis, Emmanuel Macron (commons.wikimedia.org/ President of the Russian Federation)

    Dalam pidatonya, Ben-Gvir juga meminta Pemerintah Prancis untuk segera memperbaiki perekonomiannya. Menurutnya, Negeri Mode perlu segera membuat kebijakan strategis guna mengatasi kenaikan biaya hidup di wilayahnya. Langkah ini bertujuan agar gelombang protes dari kalangan pemuda di sana tidak semakin meluas pada kemudian hari. 

    Pernyataan Ben-Gvir ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Israel untuk menggaet kaum Yahudi Eropa pindah ke wilayahnya. Sebab, Israel saat ini sedang gencar melakukan kampanye untuk memikat kaum Yahudi dari negara Eropa, terutama yang kondisi perekonomiannya sedang tidak baik seperti Prancis, untuk pindah ke wilayahnya. Tel Aviv menjanjikan kehidupan yang lebih baik jika mereka bermigrasi ke wilayahnya.

  2. 2. Israel sudah siap menerima gelombang migrasi kaum Yahudi dari Prancis

    Komunitas Yahudi Ortodoks di New York, Amerika Serikat.
    potret komunitas Yahudi Ortodoks (pexels.com/Harsh Arya)

    Menteri Imigrasi dan Integrasi Israel, Ofir Sofer, mengatakan, Israel kini sudah sangat siap untuk menerima gelombang migrasi massal kaum Yahudi dari Prancis. Bahkan, Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, juga disebut sudah menyiapkan dana khusus untuk menerima para imigran Yahudi dari Negeri Mode. 

    Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dikabarkan sudah menyetujui rencana penerimaan migrasi massal kaum Yahudi dari Prancis. Ia juga sudah meminta Smotrich sebagai Menteri Keuangan Israel untuk membuat rencana strategis agar bisa mengeksekusi upaya tersebut. 

    "Kita perlu menghilangkan hambatan agar mereka (kaum Yahudi dari Prancis) bisa datang ke sini (Israel)," jelas Sofer.

  3. 3. Kondisi perekonomian Prancis kini sedang menurun

    Menara Eiffel di Paris, Prancis.
    potret Menara Eiffel di Paris, Prancis (pexels.com/Maurijn Pach)

    Kondisi perekonomian di Prancis saat ini memang sedang menurun. Masalah ini lantas membuat biaya kehidupan di sana melonjak drastis sehingga warga menengah dan menengah ke bawah kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, masalah ini juga berdampak pada sektor pendidikan. Banyak sekolah-sekolah di Prancis yang kini rusak dan tidak terperhatikan. Namun, Pemerintah Prancis tidak segera memperbaiki sekolah-sekolah tersebut.

    Masalah ini akhirnya memicu gelombang protes besar pada Sabtu (17/10/2026) dan Minggu pekan lalu. Protes tersebut dilakukan oleh kalangan pemuda yang terdiri dari pelajar dan meluas di tiga kota besar yang ada di Prancis, yakni Paris, Marseille, dan Lille. Protes tersebut juga diwarnai tindakan anarkis yang merugikan pihak lain. Banyak toko barang mewah di Paris, Marseille, dan Lille yang dirusak dan dijarah oleh pengunjuk rasa. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More