Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, membantah keras kabar bahwa negaranya sempat menghentikan pembagian informasi intelijen militer kepada Ukraina pada Senin (19/10/2026). Pernyataan ini bertolak belakang dengan keterangan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang menyebut aliran data pengintaian tersebut sempat terputus sebelum akhirnya berjalan normal kembali.
Perbedaan pendapat antarkedua sekutu ini mencuat saat militer Ukraina tengah berjuang menghadapi gempuran serangan rudal Rusia yang menyasar permukiman warga dan fasilitas energi penting. Padahal, pasokan data pertahanan dari pihak AS sangat dibutuhkan untuk memberikan tanda bahaya dini sebelum senjata musuh menghantam sasaran.
