Jakarta, IDN Times - Filipina dan China kembali menggelar pembicaraan tingkat tinggi terkait sengketa Laut China Selatan, di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik di Timur Tengah. Dialog ini juga membuka peluang awal kerja sama di sektor minyak dan gas.
Pertemuan ini merupakan putaran ke-11 dalam mekanisme konsultasi bilateral yang dibentuk sejak 2017, sekaligus menjadi pembicaraan pertama sejak Januari 2025. Di tengah situasi yang sensitif, kedua negara mencoba menyeimbangkan kepentingan strategis, mulai dari isu kedaulatan hingga kebutuhan energi yang semakin mendesak.
Pemerintah Filipina menegaskan pembicaraan tetap mengedepankan prinsip hukum internasional dan perlindungan kepentingan nasional, khususnya di wilayah perairan yang disengketakan.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Filipina menegaskan posisi tegas Manila terkait sengketa di Laut China Selatan. “Filipina dengan tegas menegaskan kembali posisi prinsipilnya,” demikian pernyataan resmi yang juga menyoroti insiden yang mengancam personel dan nelayan Filipina, dilansir dari Channel News Asia, Minggu (29/3/2026).
Manila juga menekankan pentingnya diplomasi, komunikasi, serta kepatuhan terhadap hukum internasional dalam menyelesaikan konflik yang telah berlangsung lama tersebut.
Ketegangan di kawasan meningkat dalam beberapa waktu terakhir, dengan Filipina menuding China melakukan manuver berbahaya serta menggunakan meriam air terhadap misi pasokan mereka di wilayah sengketa.
