Disorot Film Dokumenter, Mentan: PSN Wanam Perkuat Ketahanan Pangan

- Mentan Andi Amran Sulaiman membantah narasi film dokumenter Pesta Babi dan menegaskan proyek PSN Wanam di Merauke bertujuan memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
- Program cetak sawah dan optimalisasi lahan di Merauke diklaim berhasil menurunkan harga beras, sementara warga berharap proyek ini terus berjalan demi pembangunan infrastruktur dan peningkatan ekonomi daerah.
- Anggota DPR Johan Rosihan menilai PSN Wanam penting untuk kedaulatan pangan nasional, menekankan perlunya penguatan produksi domestik agar Indonesia tidak bergantung pada impor di tengah ketidakpastian global.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman membantah narasi dalam film dokumenter Pesta Babi yang menyoroti pembukaan lahan di Merauke, Papua Selatan, untuk proyek pangan nasional.
Menurut Amran, program pengembangan lahan pertanian di Merauke merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Amran menilai film tersebut tidak menampilkan secara utuh keberhasilan program optimalisasi lahan yang telah dijalankan pemerintah di berbagai daerah.
Hal itu disampaikan Amran dalam kuliah umum yang diikuti 500 mahasiswa Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (3/6/2026).
"Kenapa tidak melihat daerah lain yang berhasil kami tingkatkan produktivitasnya hingga bisa panen tiga kali setahun?" ujar Amran dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (5/6/2026).
1. Amran tegaskan PSN Wanam berhasil turunkan harga beras

Lebih jauh, Amran mengatakan pemerintah telah mengembangkan lahan pertanian dan mencetak sawah di sejumlah wilayah, seperti Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Aceh, dan Sulawesi Selatan.
Menurut dia, program serupa di Merauke dijalankan untuk meningkatkan produksi pangan melalui pembangunan irigasi, penyediaan alat dan mesin pertanian, serta optimalisasi lahan bagi petani. Ia juga mengklaim program cetak sawah di Merauke telah berkontribusi menurunkan harga beras di wilayah tersebut dari sekitar Rp30.000 menjadi Rp13.000 per kilogram.
"Yang kami lakukan di Merauke untuk rakyat," kata Amran.
Amran menduga kritik terhadap proyek tersebut muncul seiring langkah Indonesia menuju swasembada pangan. Ia menegaskan lahan yang dikembangkan pemerintah merupakan lahan rawa yang dioptimalkan untuk produksi pangan.
2. PSN Wanam dinilai bisa dorong pembangunan infrastruktur

Di sisi lain, sejumlah warga di Distrik Wanam menyatakan harapan agar pembangunan proyek strategis nasional (PSN) food estate terus berlanjut. Petani setempat, Inosensio Sigipse (Papa Ino) menilai proyek tersebut berpotensi mendorong pembangunan infrastruktur dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
"Kalau ada pembangunan, mungkin bisa bangun perumahan dan jalan, supaya kami lebih mudah menjual hasil tani," ujar dia.
Menurut Papa Ino, kondisi ekonomi masyarakat setempat masih menghadapi tantangan karena hasil pertanian tidak selalu terserap pasar. Oleh karena itu, ia berharap proyek pengembangan pangan dapat membuka akses lebih luas bagi petani sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
Diketahui, film dokumenter Pesta Babi menyoroti dugaan deforestasi di Merauke untuk pengembangan pertanian padi, perkebunan tebu, kelapa sawit, dan peternakan sapi.
Film itu juga mengangkat isu pembelian hutan adat serta dampak lingkungan dari proyek yang terkait dengan target produksi beras, biodiesel B50, dan bioetanol. Hingga kini, film tersebut telah diputar di berbagai forum di dalam dan luar negeri, serta ditonton lebih dari 13 juta kali di YouTube dalam 13 hari.
3. DPR sebut PSN Wanam untuk kedaulatan pangan

Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS Johan Rosihan menegaskan, pembangunan sektor pangan harus menjadi prioritas strategis negara. Menurut dia, Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor pangan di tengah ancaman perang, perubahan iklim, dan gangguan rantai pasok dunia.
"Semangat mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan nasional memang harus menjadi prioritas strategis negara, apalagi di tengah ketidakpastian global, perang, perubahan iklim, hingga gangguan rantai pasok pangan dunia," kata Johan kepada wartawan, Senin (25/5/2026).
Ia menilai, food estate Wanam menjadi momentum penting membuktikan pembangunan pangan nasional dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan penghormatan terhadap masyarakat adat.
Menurut dia, pangan bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga menyangkut kedaulatan bangsa dan keberlangsungan hidup masyarakat.
Johan menegaskan, penguatan produksi pangan domestik menjadi kebutuhan mendesak agar Indonesia tidak terjebak dalam ketergantungan impor. Menurut dia, pangan bukan sekadar kebutuhan ekonomi, tetapi menyangkut kedaulatan bangsa dan keberlangsungan hidup masyarakat.
"Indonesia tidak boleh terus bergantung pada impor pangan dari negara lain karena pangan menyangkut kedaulatan bangsa dan keberlangsungan hidup rakyat," ujar Johan.


















