Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Milisi Irak Umumkan Sayembara Rp179,4 Miliar bagi Pembunuh Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Shealeah Craighead, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Kelompok Perlawanan Islam di Irak menawarkan hadiah 10 juta dolar AS bagi siapa pun yang berhasil membunuh Donald Trump sebagai balasan atas kematian Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis.
  • Pernyataan Trump yang membanggakan operasi militer 2020 memicu kecaman dari keluarga Muhandis, sementara ancaman baru ini menambah daftar risiko keamanan terhadap mantan presiden AS tersebut.
  • Sayembara muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS-Israel dan Iran, dengan serangan drone terbaru di Erbil memperlihatkan rapuhnya gencatan senjata di kawasan Timur Tengah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Kelompok Perlawanan Islam di Irak (IRI), aliansi milisi yang didukung Iran, menggelar sayembara berhadiah 10 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp179,4 miliar bagi siapa pun yang berhasil membunuh Presiden AS, Donald Trump. Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, Press TV, dana itu diklaim berasal dari donasi anggota dan para pendukung IRI.

Dalam pernyataan tertulis bertanggal 16 Juli 2026, IRI menyebut imbalan tersebut berlaku bagi individu, kelompok, maupun institusi yang mengeksekusi langsung atau memfasilitasi pembunuhan Trump. Kelompok itu menyatakan langkah tersebut sebagai balas dendam atas serangan pesawat tanpa awak (drone) AS di Bagdad pada 2020 yang menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani dan Wakil Panglima Milisi Irak Abu Mahdi al-Muhandis.

1. Trump membela operasi militer AS

ilustrasi militer (pexels.com/Somchai Komkamsri)

Ketegangan kembali meningkat setelah Trump membela operasi militer AS pada 2020 dalam pertemuan di Gedung Putih bersama Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi. Berdasarkan laporan media Arab, Asharq Al-Awsat, Trump secara terbuka membanggakan perannya dalam pembunuhan tersebut.

“Saya membunuhnya di masa pemerintahan pertama saya. Jika tidak, ceritanya mungkin akan berbeda hari ini… Saya benar-benar berpikir para pemimpin Iran takut kepada Soleimani,” kata Trump, dikutip Times of India.

Trump juga menyebut seorang tokoh Irak yang disebutnya sangat jahat turut tewas dalam insiden di bandara tersebut tanpa menyebut nama Muhandis. Menanggapi pernyataan itu, Al-Zaidi mengatakan bahwa saat peristiwa tersebut terjadi, ia belum terjun ke dunia politik.

Dikutip dari Hindustan Times, IRI menilai kesombongan kriminal Trump mencerminkan tanda paling nyata dari runtuhnya moral pemerintah AS, dan tindakan tersebut hanya akan membawa kehinaan serta keburukan abadi bagi sang pembunuh.

2. Keluarga Muhandis mengecam sikap Al-Zaidi

Gedung Putih (pexels.com/Chris)

Respons pasif Al-Zaidi di Gedung Putih memicu kecaman keras dari keluarga Muhandis. Dalam rilis resminya, keluarga Muhandis menyatakan bahwa siapa pun yang menjauh dari masa lalu terhormat negaranya telah memutus hubungan dengan akar bangsanya, sedangkan orang yang masa lalunya dipenuhi kebohongan tak layak memimpin masa depan.

Ancaman pembunuhan dari milisi Irak ini menambah panjang daftar risiko keamanan yang dihadapi Trump. Sebelumnya, Trump berhasil selamat dari beberapa upaya pembunuhan selama kampanye pemilihan presiden 2024, termasuk penembakan yang menyerempet telinganya di Butler, Pennsylvania, serta rencana bersenjata di Florida.

Para jaksa AS sebelumnya juga sempat mengungkap dugaan adanya individu yang terhubung dengan Iran yang berupaya merekrut orang untuk membunuh Trump. Namun, pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan keterlibatan tersebut.

3. Konflik kawasan meningkatkan ketegangan

ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)

Sayembara ini muncul di tengah memanasnya kembali fase konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. IRI menuduh pihak AS telah berulang kali melanggar gencatan senjata yang rapuh.

Kantor berita AFP melaporkan, pasukan koalisi pimpinan AS baru saja menembak jatuh delapan dronebunuh diri yang terbang di atas Erbil, wilayah otonom Kurdistan Irak, pada Rabu (15/7/2026) malam antara pukul 20.53 dan 21.20 waktu setempat. Ledakan dari pencegatan tersebut mengirimkan asap ke udara di dekat Konsulat AS.

Otoritas setempat melaporkan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut dan belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Kendati demikian, serangan ini menjadi insiden pertama di dekat Konsulat AS di Erbil sejak gencatan senjata disepakati pada April lalu. Di sisi lain, IRI menyatakan bahwa mereka berada di balik sejumlah serangan lain yang menargetkan berbagai aset militer AS di kawasan Timur Tengah selama konflik berlangsung.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article