ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)
Penerapan blokade diperkirakan akan memutus sekitar 90 persen aktivitas perdagangan laut yang menjadi urat nadi perekonomian Iran. Teheran diprediksi akan menanggung kerugian ekonomi hingga mencapai 435 juta dolar AS (sekitar Rp7,4 triliun) setiap harinya.
Ketegangan di Selat Hormuz turut membuat harga komoditas minyak dunia melonjak hingga menyentuh angka 100 dolar AS (Rp1,7 juta) per barel. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen akibat konflik ini.
Di tengah blokade, sejumlah laporan intelijen menyebut masih ada kapal komersial yang berhasil melintas. Firma intelijen maritim Windward memantau sebuah kapal tanker minyak asal China bernama Rich Starry berhasil berlayar melintasi perairan Selat Hormuz dari Uni Emirat Arab (UEA).
Sebelumnya, pemerintah China telah mengecam blokade AS yang dinilai sangat tidak bertanggung jawab. Menurut Beijing, pengerahan kekuatan militer semacam ini hanya akan memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah.