Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Militer AS Paksa 6 Kapal Putar Balik di Hari Pertama Blokade Iran
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Militer AS memblokade pelabuhan Iran dengan mengerahkan lebih dari 10 ribu personel dan belasan kapal perang, memaksa enam kapal putar balik tanpa melepaskan tembakan peringatan.
  • Blokade ini membuat perekonomian Iran terancam lumpuh karena 90 persen perdagangan lautnya terhenti, sementara harga minyak dunia melonjak hingga 100 dolar AS per barel.
  • Negosiasi damai antara AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan, namun kedua pihak masih membuka peluang untuk melanjutkan pembicaraan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Militer Amerika Serikat (AS) mengklaim tidak ada satu pun kapal niaga yang berhasil melewati blokade maritim mereka di hari pertama. Pasukan AS telah memaksa total enam kapal untuk putar balik menuju pelabuhan Iran pada Senin (13/4/2026).

Lima dari enam kapal tersebut diketahui sedang membawa muatan minyak. Angkatan Laut AS sengaja mencegat kapal-kapal itu di perairan Teluk Oman untuk meminimalkan risiko keamanan.

1. AS kerahkan 10 ribu personel dan belasan kapal untuk blokade Iran

USS Abraham Lincoln (Photographer's Mate 3rd Class Jordon R. Beesley, Public domain, via Wikimedia Commons)

Blokade ini setidaknya melibatkan lebih dari 10 ribu personel gabungan dari angkatan laut, marinir, dan angkatan udara AS. AS juga dilaporkan mengerahkan lebih dari seratus pesawat tempur dan belasan kapal perang.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa blokade hanya menyasar kapal yang keluar atau masuk ke pelabuhan Iran. Kapal-kapal komersial internasional dengan tujuan selain pelabuhan milik Iran tetap bebas untuk melintasi Selat Hormuz.

Militer AS memberikan kelonggaran bagi kapal-kapal yang mengangkut berbagai jenis bantuan kemanusiaan seperti pasokan makanan dan obat-obatan. Selama proses pencegatan di hari pertama, armada pasukan AS tidak melepaskan satu pun tembakan peringatan.

"Blokade pelabuhan Iran telah diimplementasikan sepenuhnya seiring dominasi maritim pasukan AS di kawasan Timur Tengah. Pasukan kami telah berhasil menghentikan total seluruh aktivitas ekonomi laut Iran," ujar Komandan CENTCOM Brad Cooper, dilansir CNBC.

2. Perekonomian Iran terancam lumpuh akibat blokade

ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)

Penerapan blokade diperkirakan akan memutus sekitar 90 persen aktivitas perdagangan laut yang menjadi urat nadi perekonomian Iran. Teheran diprediksi akan menanggung kerugian ekonomi hingga mencapai 435 juta dolar AS (sekitar Rp7,4 triliun) setiap harinya.

Ketegangan di Selat Hormuz turut membuat harga komoditas minyak dunia melonjak hingga menyentuh angka 100 dolar AS (Rp1,7 juta) per barel. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen akibat konflik ini.

Di tengah blokade, sejumlah laporan intelijen menyebut masih ada kapal komersial yang berhasil melintas. Firma intelijen maritim Windward memantau sebuah kapal tanker minyak asal China bernama Rich Starry berhasil berlayar melintasi perairan Selat Hormuz dari Uni Emirat Arab (UEA).

Sebelumnya, pemerintah China telah mengecam blokade AS yang dinilai sangat tidak bertanggung jawab. Menurut Beijing, pengerahan kekuatan militer semacam ini hanya akan memicu konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

3. AS dan Iran masih terbuka untuk bernegosiasi

Ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade setelah negosiasi gencatan senjata dengan perwakilan Iran di Pakistan menemui jalan buntu. Kedua negara gagal menyepakati berbagai syarat penghentian perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance sebelumnya sempat berdialog dengan perwakilan pemerintah Iran pimpinan Mohammad Bagher Ghalibaf. Pertemuan ini menjadi kontak tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak pecahnya Revolusi Islam pada 1979.

Kontrol atas Selat Hormuz, program nuklir Iran, dan invasi Israel ke Lebanon menjadi hambatan utama dalam perundingan tersebut. Meski perundingan pertama gagal, AS dan Iran dilaporkan masih terbuka untuk melanjutkan negosiasi.

"Rakyat Iran terus menegaskan bahwa mereka terbuka untuk kembali berunding. Namun, jika AS ingin bertempur, mereka juga siap meladeni," ungkap jurnalis Al Jazeera Ali Hashem.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team