Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
suasana di perbatasan Latvia, Lithuania, dan Belarus
suasana di perbatasan Latvia, Lithuania, dan Belarus (Barry432, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • MMA mempermudah tentara melintas di negara-negara Baltik.

  • Bea Cukai menjadi kendala persetujuan MMA.

  • Uni Eropa upayakan rencana pertahanan untuk atasi pengurangan tentara AS.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Negara-negara Baltik (Estonia, Latvia, Lithuania) setuju mendirikan Zona Mobilisasi Militer (MMA). Langkah ini untuk memperbolehkan tentara bergerak bebas di tiga negara tersebut dalam menghadapi ancaman Rusia

“Tujuan utama dari pembentukan schengen militer ini untuk mengurangi birokrasi atau izin saat militer antar-negara bergerak di antara satu negara ke negara anggota lainnya,” tutur Menteri Pertahanan Estonia, Hanno Pevkur, dikutip dari ERR, Minggu (1/2/2026).

Menyusul invasi skala besar Rusia ke Ukraina, negara-negara Baltik ikut terancam. Alhasil, ketiga negara tersebut sudah meningkatkan anggaran pertahanan untuk memperkuat militernya. 

1. Berfungsi mempermudah tentara melintas di negara-negara Baltik

Laut Baltik (commons.m.wikimedia.org/Gabriel Ziegler)

Pevkur mengungkapkan bahwa pembentukan MMA ini penting untuk dapat saling membantu. Sebab, ketika di menghadapi masa krisis maka militer negara lain di Baltik dapat membantu. 

“Ini bukan berarti hanya izin, ini berarti tank Lithuania dapat bergerak bebas untuk membantu Latvia atau Estonia, dan sebaliknya. Pada saat krisis, setiap jam penting dan birokrasi akan memperlambat pertahanan dan pencegahan,” terangnya. 

Sementara, Menhan Lithuania, Robertas Kaunas mengatakan, ancaman Rusia kepada negara Baltik bersifat nyata dan jangka panjang. Maka dari itu, negara-negara Baltik harus menginvestasikan pada pertahanan untuk tetap damai. 

2. Bea Cukai menjadi kendala persetujuan MMA

Menteri Luar Negeri negara Baltik dan Nordik di Kaunas, Lithuania, Rabu (7/9/2022). (twitter.com/edgarsrinkevics)

Pada saat yang sama, Pevkur mengungkapkan bahwa persetujuan ini baru ditetapkan setelah 4 tahun usai perang di Ukraina karena terkendala masalah. Salah satu masalah tersulit adalah aturan bea cukai yang berbeda antarnegara. 

“Tugas kami adalah menemukan solusi. Apakah solusi dapat tercapai dalam 6 bulan? Tentu tidak. Kami butuh kerja sama dari negara-negara Eropa dari negara-negara Eropa selatan,” ungkapnya. 

Menurutnya, tentara NATO di Lithuania, Latvia, dan Estonia berasal dari berbagai negara anggota yang berbeda. Maka dari itu, masalah mengenai izin tentara tiap negara juga berbeda. 

3. Uni Eropa upayakan rencana pertahanan untuk atasi pengurangan tentara AS

ilustrasi kapal perang (pixabay.com/roamincajun)

Komisaris Pertahanan Uni Eropa (UE), Andrius Kubilius menyampaikan bahwa UE harus menyetujui soal jadwal rasional soal pengurangan tentara Amerika Serikat (AS) di Eropa. Dengan ini, UE dapat merencanakan penggantian tentara AS di Eropa. 

Dilansir LRT, hingga kini, belum diketahui secara pasti pasukan AS yang mana dan berapa banyak yang akan ditarik. Sebab AS sudah mengungkapkan prioritas pertahanan akan diarahkan kepada Benua Amerika dan kawasan Indo-Pasifik. 

Hingga kini sudah ada sekitar 100 ribu tentara AS yang ditempatkan di seluruh negara anggota NATO di Eropa. Kubilius mengusulkan UE untuk mendirikan personel militer gabungan dalam menggantikan pasukan AS di Eropa. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team