Proposal damai yang didukung AS mencakup pembentukan pasukan stabilisasi internasional dan pemerintahan sementara Palestina di bawah pengawasan Dewan Perdamaian pimpinan Trump. Beberapa negara mayoritas Muslim, termasuk Indonesia, disebut dalam rencana Trump untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian. Jerman juga berencana mengirim petugas dan diplomat ke pusat koordinasi sipil-militer.
Namun, pejabat senior Hamas Basem Naim menyatakan kelompoknya menolak untuk dilucuti pasukan internasional. Hamas hanya siap membahas pembekuan atau penyimpanan senjata selama gencatan senjata. Kelompok tersebut bersikeras mempertahankan hak mereka untuk melawan pendudukan hingga berdirinya negara Palestina.
“Kami menyambut baik pasukan PBB untuk berada di dekat perbatasan, mengawasi perjanjian gencatan senjata, melaporkan pelanggaran, dan mencegah segala bentuk eskalasi. Namun kami tidak mau pasukan tersebut memiliki mandat apa pun di wilayah Palestina,” ungkap Basem Naim, dilansir Al Jazeera.
Sementara itu, Kanselir Merz mendukung implementasi fase kedua tapi tetap skeptis terhadap pengakuan negara Palestina dalam waktu dekat. Merz menilai solusi dua negara adalah opsi terbaik, tetapi pengakuan hanya bisa diberikan di akhir proses perdamaian, bukan di awal.