Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Netanyahu Tolak Pemulangan Warga Palestina ke Kamp Tepi Barat Utara
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (x.com/netanyahu)
  • Mahkamah Agung Israel memerintahkan pemerintah menyusun jadwal pemulangan warga Palestina ke kamp Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams, dengan tenggat respons 23 November 2026.
  • Netanyahu menolak pemulangan dan menegaskan militer Israel tetap menguasai kamp-kamp di Tepi Barat utara, meski ribuan warga telah mengungsi sejak operasi 2025.
  • Sebanyak 33.362 warga Palestina masih mengungsi; kerusakan luas pada rumah dan infrastruktur menghambat kepulangan, namun sejumlah warga menyatakan siap kembali meski rumah mereka hancur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times  -  Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak pemulangan warga Palestina yang mengungsi dari kamp pengungsi di Tepi Barat bagian utara. Ia menegaskan bahwa militer Israel akan tetap menguasai wilayah tersebut meski Mahkamah Agung Israel memerintahkan pemerintah menyusun jadwal pemulangan warga.

Dilansir Anadolu Agency, Netanyahu menyampaikan pernyataan tersebut saat mengunjungi kawasan dekat Kamp Pengungsi Tulkarem pada Selasa (13/10/2026), bersama Menteri Pertahanan Israel Israel Katz dan sejumlah pejabat militer senior.

1. Mahkamah Agung Israel perintahkan penyusunan jadwal pemulangan

potret Kota Tulkarem, Tepi Barat, Palestina (commons.wikimedia.org/Mohammad Hijjawi)

Pada Minggu (11/10), Mahkamah Agung Israel memerintahkan pemerintah menyusun jadwal langkah-langkah yang diperlukan untuk memungkinkan warga Palestina kembali ke rumah mereka di Kamp Pengungsi Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams. Pengadilan juga meminta pemerintah mengkaji cara mempercepat pemulangan tersebut dengan tenggat jawaban pada 23 November 2026.

Akan tetapi, ribuan warga Palestina yang mengungsi dari ketiga kamp sejak awal 2025 masih dilarang kembali oleh pasukan Israel. Operasi militer yang dimulai pada 21 Januari 2025 itu mulanya menargetkan Kamp Pengungsi Jenin sebelum meluas ke Tulkarem dan Nur Shams.

Menurut data Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang dikutip Al Jazeera, sebanyak 33.362 warga Palestina masih mengungsi secara paksa dari ketiga kamp tersebut. Hingga Oktober 2025, sebanyak 52 persen bangunan di Kamp Jenin, 48 persen di Kamp Nur Shams, dan 36 persen di Kamp Tulkarem telah hancur atau rusak.

2. Netanyahu tegaskan militer Israel tetap menguasai wilayah

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (x.com/netanyahu)

Dalam kunjungannya ke dekat Kamp Tulkarem, Netanyahu menyebut kamp tersebut sebagai "benteng teroris" dan mengeklaim pasukan Israel telah membersihkannya atas perintah pemerintahannya. Ia juga menolak keberadaan pasukan militer Arab mana pun di sebelah barat Sungai Yordan.

Menanggapi putusan Mahkamah Agung, Netanyahu mengatakan, "Mereka bukan penduduk, mereka adalah teroris." 

Katz juga menentang intervensi pengadilan dan menyatakan bahwa keberadaan militer di kamp-kamp tersebut merupakan keputusan keamanan.

Sementara itu, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menolak putusan tersebut lantaran khawatir pemulangan warga memungkinkan pembangunan kembali infrastruktur yang ia sebut sebagai "infrastruktur teror". Ia meminta pemerintah tidak melaksanakan keputusan pengadilan.

3. Warga Palestina tetap ingin kembali meskipun rumah hancur

potret seorang pemuda mengibarkan bendera Palestina (unsplash.com/Ahmed Abu Hameeda)

Selain larangan kembali, kerusakan rumah dan infrastruktur menjadi kendala bagi warga Palestina yang mengungsi. Operasi militer Israel berdampak pada ratusan rumah, jalan, serta jaringan air dan listrik di ketiga kamp, sementara bantuan kemanusiaan ke kawasan tersebut telah terputus.

Faisal Salameh, pejabat Komite Rakyat Kamp Tulkarem, mengatakan lebih dari 2.000 unit rumah di kamp tersebut hancur sepenuhnya. Sekitar 90 persen rumah lainnya mengalami kerusakan sebagian yang membuatnya tidak layak huni.

Fuad Abu Salam, warga Kamp Tulkarem yang mengungsi bersama keluarganya, mengatakan dirinya siap kembali begitu pemerintah Israel mengizinkan pemulangan. Rumahnya mengalami kerusakan parah dan sebagian bangunan tempat tinggalnya terbakar saat pasukan Israel berada di kamp tersebut.

"Tekad saya untuk kembali tidak akan pernah goyah, bahkan jika itu berarti harus mendirikan tenda di atas reruntuhan dan tinggal di sana," tuturnya kepada Al Jazeera.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article