ilustrasi pasukan bersenjata (unsplash.com/Nathan Gubler)
Militer Nigeria menyatakan operasi tersebut berhasil menghantam basis teroris sekaligus pusat logistik Boko Haram. Mereka mengklaim puluhan jihadis yang menggunakan sepeda motor telah tewas, tanpa menyebut adanya korban sipil maupun kesalahan sasaran.
Selain itu, militer menegaskan bahwa penggunaan sepeda motor tetap dilarang di wilayah konflik. Setiap aktivitas semacam itu di area terlarang disebut akan ditindak secara serius oleh aparat keamanan.
Amnesty International mengecam keras insiden tersebut dan menilai serangan udara bukan metode penegakan hukum yang sah. Organisasi itu menyatakan penggunaan kekuatan mematikan secara ceroboh dianggap tidak sah, berlebihan, serta mencerminkan sikap militer yang mengabaikan perlindungan terhadap warga sipil.
Amnesty International juga mendesak otoritas Nigeria untuk melakukan penyelidikan independen dan imparsial. Mereka meminta agar pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini dimintai pertanggungjawaban.
Kesalahan sasaran dalam operasi udara disebut bukan kejadian baru di Nigeria. Catatan Associated Press menunjukkan sedikitnya 500 warga sipil tewas akibat operasi militer serupa sejak 2017.
Sejumlah analis keamanan menyoroti adanya kelemahan dalam pengumpulan intelijen serta kurangnya koordinasi antara pasukan darat dan udara. Kondisi ini dinilai berkontribusi terhadap insiden salah sasaran.
Nigeria yang merupakan negara dengan populasi terbesar di Afrika masih menghadapi tantangan keamanan di wilayah utara. Konflik panjang melibatkan Boko Haram dan pecahannya, Islamic State West Africa Province, serta kelompok lain seperti Lakurawa di barat laut dekat perbatasan Niger.
Konflik berkepanjangan tersebut telah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan warga meninggalkan tempat tinggal mereka.