Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Barack Obama sedang berbicara.
Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama (flickr.com/Center for American Progress Action Fund via commons.wikimedia.org/Center for American Progress Action Fund)

Intinya sih...

  • Barack Obama menyebut Donald Trump tidak tahu malu.

  • Donald Trump mengunggah video Barack Obama dan istrinya yang menyerupai kera.

  • Video langsung dihapus usai menuai banyak kecaman.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, akhirnya merespons video rasis yang dibuat Donald Trump tentang dirinya beberapa waktu lalu. Obama mengatakan, perbuatan tersebut sangat mengkhawatirkan. Ia menilai perbuatan seperti itu seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang pemimpin negara seperti Trump.

“Pertama-tama, aku pikir penting untuk menyadari bahwa mayoritas rakyat Amerika (Serikat) menganggap perilaku ini sangat mengkhawatirkan. Memang benar bahwa hal itu menarik perhatian. Memang benar bahwa hal itu mengalihkan perhatian,” kata Obama dalam sebuah podcast yang dirilis pada Sabtu (14/2/2026) dilansir BBC.

“Namun, saat aku berkeliling ke seluruh negeri, saat Anda berkeliling ke seluruh negeri, Anda bertemu orang-orang, banyak dari mereka yang masih percaya pada kesopanan, tata krama, dan kebaikan,” lanjut Obama.

1. Barack Obama menyebut Donald Trump tidak tahu malu

Barack Obama (kanan) dan Kamala Harris (kiri) (commons.wikimedia.org/Pete Souza)

Di podcast tersebut, Barack Obama juga menyindir Donald Trump soal etika. Ia mengatakan, seorang pemimpin negara seharusnya bisa bersikap sopan kepada siapa pun. Sebab, pemimpin negara adalah cerminan dari rakyatnya.

Obama sebetulnya tidak menyebut langsung nama Trump di podcast tersebut. Namun, presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat itu menegaskan seorang pemimpin negara harus selalu menjaga marwahnya dengan tidak melakukan hal-hal yang di luar batas. Jika tidak, persepsi masyarakat terhadap pemimpinnya akan rusak sehingga kepercayaan publik kepada pemerintah akan hilang.

“Dan yang benar adalah tampaknya tidak ada rasa malu tentang hal ini di antara orang-orang yang dulu merasa bahwa Anda harus memiliki semacam kesopanan dan rasa hormat terhadap jabatan,” kata Obama.

2. Donald Trump mengunggah video Barack Obama dan istrinya yang menyerupai kera

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

Pekan lalu, Donald Trump secara tiba-tiba mengunggah video rasis di akun Truth Social pribadinya. Video itu berdurasi sekitar satu menit dan diduga dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dalam video tersebut, Trump menggambarkan Barack Obama dan istrinya, Michelle Obama, sebagai seekor kera di hutan. Dalam video tersebut, Trump juga menggambarkan semua anggota Partai Demokrat sebagai binatang.

Video tersebut akhirnya menuai kecaman dari banyak pihak, termasuk dari warga Amerika Serikat. Mereka menilai video tersebut sebagai upaya diskriminasi terhadap ras kulit hitam.

3. Video langsung dihapus usai menuai banyak kecaman

ilustrasi penghapusan video (pexels.com/Miguel A. Padrinan)

Usai dikecam banyak pihak, video rasis tersebut akhirnya langsung dihapus oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah kegaduhan lebih lanjut. 

Donald Trump sendiri menolak untuk meminta maaf kepada Barack Obama soal video rasis yang diunggahnya. Sebab, Trump berdalih video tersebut dibuat oleh salah satu stafnya yang berperilaku rasis. Ia lalu menegaskan bahwa dirinya akan selalu memerangi siapa pun yang bersikap rasis. 

“Aku tidak membuat kesalahan. Tentu saja, aku mengecamnya. Ngomong-ngomong, aku adalah presiden yang paling tidak rasis yang pernah Anda miliki dalam waktu yang lama,” ujar Trump saat ditanya soal video tersebut, seperti dilansir CNN.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team