Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dianggap Radikal, Trump Cabut Kebijakan Gas Rumah Kaca Era Obama

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menghadiri pertemuan.
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
Intinya sih...
  • Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mencabut kebijakan pembatasan emisi gas rumah kaca era Obama karena dianggap terlalu radikal.
  • Sekretaris Pers Gedung Putih menganggap pencabutan kebijakan pembatasan gas rumah kaca berdampak positif, namun para aktivis menilai sebaliknya.
  • Pencabutan kebijakan gas rumah kaca oleh Donald Trump menuai respons dari Barack Obama yang menganggap kebijakan tersebut diperlukan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mencabut kebijakan pembatasan emisi gas rumah kaca yang dibuat oleh Presiden Barack Obama. Langkah ini dilakukan karena Trump menganggap kebijakan tersebut terlalu radikal. 

Selain itu, Trump menganggap kebijakan gas rumah kaca ini bisa mematikan industri otomotif di Negeri Paman Sam. Sebab, menurutnya, kebijakan itu justru membuat industri otomotif sulit berkembang karena harus menambah ongkos produksi guna menurunkan emisi gas rumah kaca. Imbasnya, harga mobil di AS jadi lebih mahal.

"Aturan radikal ini menjadi landasan hukum bagi Green New Scam, salah satu penipuan terbesar dalam sejarah,” ujar Trump kepada awak media di Gedung Putih pada Kamis (12/2/2026), seperti dilansir BBC.

1. Sekretaris Pers Gedung Putih menganggap pencabutan kebijakan pembatasan gas rumah kaca berdampak positif

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sedang diwawancara awak media.
potret Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt (commons.wikimedia.org/BruceSchaff)

Di sisi lain, Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan, pencabutan peraturan tersebut akan memberi dampak positif bagi masyarakat. Sebab, harga transportasi bakal menurun karena produsen mobil bisa menghemat biaya hingga 2.400 dolar Amerika Serikat atau sekitar 41 juta per kendaraan. Itu terjadi karena produsen tidak perlu menambah biaya pengembangan sistem canggih di produk mobil mereka untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Namun, para aktivis menilai pencabutan kebijakan gas rumah kaca ini justru membuat masyarakat harus menambah kocek untuk membeli bensin. Sebab, kendaraan jadi boros bensin karena tidak ada lagi kebijakan yang membatasi penggunaannya. 

"Hal ini akan memaksa warga Amerika Serikat untuk mengeluarkan lebih banyak uang, yakni sekitar 1,4 triliun dolar AS (Rp23,5 kuadriliun) untuk biaya bahan bakar tambahan guna menggerakkan kendaraan yang kurang efisien dan lebih berpolusi ini," kata salah satu anggota Environmental Defense Fund, Peter Zalzal.

2. Barack Obama menganggap kebijakan gas rumah kaca diperlukan

Barack Obama dan Kamala Harris sedang berada di Gedung Putih
Barack Obama (kanan) dan Kamala Harris (kiri) (commons.wikimedia.org/Pete Souza)

Pencabutan kebijakan gas rumah kaca oleh Donald Trump ini menuai respons dari Barack Obama. Ia menilai, kebijakan pembatasan emisi gas rumah kaca yang dibuat pada zamannya seharusnya tetap dijalankan. 

Tanpa kebijakan tersebut, Obama menyebut masyarakat Amerika Serikat akan rentan terkena bahaya gas rumah kaca yang mengintai setiap hari. Mereka akan rentan terkena penyakit stroke dan infeksi pernapasan akut, seperti asma dan bronkitis.

“Tanpa itu, kita akan kurang aman, kurang sehat, dan kurang mampu melawan perubahan iklim. Semua itu agar industri bahan bakar fosil dapat menghasilkan lebih banyak uang," tulis Obama di X.

3. Kebijakan pembatasan emisi gas rumah kaca dibuat berdasarkan temuan riset tahun 2009

Pabrik yang mengeluarkan asap.
ilustrasi gas rumah kaca (pexels.com/Intel Core i9 12900K)

Sebagai informasi, kebijakan pembatasan emisi gas rumah kaca yang dicabut Donald Trump ini dibuat pada era Barack Obama berdasarkan temuan riset pada 2009. Riset tersebut dilakukan oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat.

Riset tersebut mengatakan bahwa gas rumah kaca, seperti karbon dioksida dan metana, sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Terlebih, gas-gas tersebut juga sering beredar di sekitar kita lewat kendaraan bermotor, pembakaran sampah, dan pembangkit listrik.

"Temuan tentang ancaman tersebut benar-benar menjadi landasan utama regulasi gas rumah kaca di Amerika Serikat," kata mantan pengacara EPA dan Departemen Kehakiman AS, Meghan Greenfield, dilansir CNBC.

"Jadi, (gas rumah kaca) itu tidak hanya dihasilkan oleh kendaraan bermotor, tetapi juga oleh pembangkit listrik, sektor minyak dan gas, metana dari tempat pembuangan sampah, bahkan dari pesawat terbang. Jadi cakupannya sangat luas," lanjutnya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

KSAL Minta Tiap Komando Daerah AL Bangun SPPG untuk Distribusikan MBG

14 Feb 2026, 18:27 WIBNews