Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Skandal Video Rasis Obama, Trump Tolak Minta Maaf dan Gak Merasa Bersalah

Presiden AS, Donald Trump, dan mantan Presiden AS, Barack Obama. (DoD photo by U.S. Air Force Staff Sgt. Marianique Santos, Public domain, via Wikimedia Commons)
Presiden AS, Donald Trump, dan mantan Presiden AS, Barack Obama. (DoD photo by U.S. Air Force Staff Sgt. Marianique Santos, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • Trump kecam video rasis Obama, tapi tak minta maaf
  • Reaksi politik meluas di AS
  • Kecaman keras dari tokoh Demokrat kulit hitam
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengecam unggahan video bernuansa rasis di media sosialnya yang menampilkan mantan Presiden Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama sebagai kera. Namun, dia menolak meminta maaf atas insiden itu.

Video tersebut sempat diunggah ke akun Truth Social milik Trump sebelum akhirnya dihapus. Klip singkat itu muncul di bagian akhir sebuah video yang mengulang klaim Trump soal kecurangan pemilu, yang hingga kini belum terbukti. Dalam potongan tersebut, wajah Barack dan Michelle Obama ditempelkan pada tubuh kera, sementara lagu The Lion Sleeps Tonight diputar di latar belakang.

Unggahan itu memicu kecaman luas karena mengulang stereotip rasis terhadap warga kulit hitam, terlebih karena diunggah pada Bulan Sejarah Kulit Hitam (Black History Month), periode yang dikhususkan untuk menghormati kontribusi dan sejarah warga Afrika-Amerika. Meski akhirnya dihapus, kontroversi terus bergulir setelah Trump menyatakan dirinya tidak bersalah dan menolak bertanggung jawab penuh atas unggahan tersebut.

1. Trump kecam konten rasis, tapi tak minta maaf

Presiden Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama Jaksa Agung Pam Bondi dan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche di Ruang Konferensi Pers James S. Brady pada hari Jumat, 27 Juni 2025.
Presiden Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama Jaksa Agung Pam Bondi dan Wakil Jaksa Agung Todd Blanche di Ruang Konferensi Pers James S. Brady pada hari Jumat, 27 Juni 2025. (commons.wikimedia.org/Foto resmi Gedung Putih oleh Abe McNatt)

Trump mengutuk unsur rasis dalam video tersebut ketika ditanya wartawan di atas pesawat Air Force One. Namun, saat ditanya apakah akan menyampaikan permintaan maaf, Trump bersikap defensif dan menolak melakukannya. Dia menyalahkan seorang staf, yang menurutnya, mengunggah video itu tanpa melihat keseluruhan isi. Trump mengaku tidak membuat kesalahan dan menyatakan tidak ada yang menyadari adanya konten rasis di bagian akhir video tersebut.

"Tentu saja. Saya melihat bagian awalnya, dan itu benar-benar tentang kecurangan pemilu di mesin, betapa curangnya, betapa menjijikkannya. Lalu saya menyerahkannya kepada orang-orang untuk, biasanya mereka melihat seluruhnya. Tapi saya kira ada yang tidak, lalu mereka mengunggahnya, dan kami menurunkannya," ," ujar Trump dilansir Anadolu.

2. Reaksi politik meluas di AS

ilustrasi bendera Amerika Serikat
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Aditya Vyas)

Unggahan tersebut langsung memicu kecaman luas dari berbagai kalangan politik, termasuk dari Partai Republik. Tim Scott, satu-satunya senator kulit hitam dari Partai Republik, merespons kejadian ini lewat akun X miliknya. Dia berharap Trump tak benar-benar mengunggahnya karena merupakan serangan rasial yang paling parah dilakukan oleh pejabat tertinggi Gedung Putih.

"Berdoa agar ini palsu karena merupakan hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih. Presiden harus menghapusnya," tulis Tim.

Unggahan itu juga langsung direspons oleh Trump. Dia mengaku sudah berbicara langsung dengan Tim dan menurutnya sudah ada kesepahaman yang terjadi.

"Saya menjelaskan apa yang terjadi, dan dia memahaminya 100 persen," kata Trump.

Senator Republik dari Mississippi, Roger Wicker, juga mengecam unggahan tersebut. Dia menyebut video itu sama sekali tidak dapat diterima, dan mendesak Trump untuk menurunkannya dan meminta maaf. Kecaman serupa datang dari kalangan Demokrat yang menilai unggahan itu mencerminkan rasisme terang-terangan.

3. Kecaman keras dari tokoh Demokrat kulit hitam

ilustrasi bendera Amerika Serikat
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Mylo Kaye)

Pemimpin Minoritas DPR AS, Hakeem Jeffries, menyampaikan kritik paling keras terhadap Trump terkait video tersebut. Jeffries juga mempertanyakan sikap para pemimpin Partai Republik yang tetap membela Trump.

"Presiden Obama dan Michelle Obama adalah warga Amerika yang brilian, penuh empati, dan patriotik. Mereka mewakili yang terbaik dari negara ini. Donald Trump adalah sosok yang keji, tak terkendali, dan penuh kebusukan. Mengapa para pemimpin GOP seperti John Thune terus berdiri di belakang individu sakit ini?" kata Jeffries.

Menurut Jeffries, setiap anggota Partai Republik harus bereaksi keras atas Trump dan mengecam aksinya. Sebab, unggahannya itu sudah menciptakan kegaduhan dan menyerang Obama. Hingga kini, Barack dan Michelle Obama belum memberikan tanggapan resmi atas insiden tersebut.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana
Follow Us

Latest in News

See More

Gerindra Mulai Simulasi Perubahan Ambang Batas Parlemen

07 Feb 2026, 22:48 WIBNews