Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
kondisi pengungsian di Gaza saat hujan turun
kondisi pengungsian di Gaza saat hujan turun (Ashraf Amra, CC BY-SA 3.0 IGO <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0/igo/deed.en>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Oxfam menolak serahkan data staf Palestina ke Israel

  • 23 organisasi setuju syarat Israel, MSF tuai kritikan

  • Serangan dan pembatasan bantuan masih berlanjut di Gaza

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi bantuan ternama Oxfam menyatakan tidak akan menyerahkan data pribadi staf Palestina mereka kepada Israel sebagai syarat untuk tetap beroperasi di Gaza. Pihaknya menyinggung serangan mematikan Israel di wilayah Palestina tersebut, yang telah menewaskan ratusan pekerja bantuan.

Tahun lalu, Israel menuntut sejumlah organisasi bantuan yang beroperasi di Gaza serta Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki untuk menyerahkan informasi terperinci mengenai staf Palestina dan internasional mereka, kegiatan operasional, dan pendanaan. Kebijakan ini berujung pada pencabutan izin operasional 37 organisasi bantuan internasional, termasuk Oxfam, Dokter Lintas Batas (MSF), dan Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) per 1 Januari 2026.

“Kami tidak akan menyerahkan data pribadi sensitif kepada salah satu pihak dalam konflik karena hal tersebut akan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan, kewajiban perlindungan, serta aturan perlindungan data. Lebih dari 500 pekerja kemanusiaan telah tewas sejak 7 Oktober 2023," kata juru bicara Oxfam kepada Al Jazeera.

Pihaknya menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera mencabut peraturan tersebut dan menghentikan langkah-langkah yang menghambat bantuan kemanusiaan.

1. Sebanyak 23 organisasi setujui syarat Israel

Menurut aturan pendaftaran baru yang ditetapkan Kementerian Urusan Diaspora Israel, informasi yang harus diserahkan kelompok bantuan mencakup salinan paspor, riwayat hidup, dan nama-nama anggota keluarga, termasuk anak-anak. Kementerian menyatakan akan melarang organisasi yang dicurigai menghasut rasisme, menyangkal keberadaan Negara Israel atau Holocaust, serta yang dianggap mendukung organisasi teroris yang melawan Israel.

Israel menyebutkan hingga kini, sebanyak 23 organisasi telah menyetujui aturan tersebut, sementara yang lainnya menolak atau masih mempertimbangkan keputusan mereka. Jaringan LSM Palestina (PNGO) mengecam organisasi-organisasi yang mematuhi tuntutan Israel tersebut.

“PNGO menegaskan adanya risiko serius yang melekat pada kebijakan ini, yang merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip hukum humaniter internasional serta standar kerja kemanusiaan yang telah mapan,” kata PNGO dalam pernyataannya, seraya menambahkan bahwa informasi yang diberikan kepada Israel dapat mengancam keselamatan dan keamanan para staf Palestina.

Menurut Komite Penyelamatan Internasional (IRC), yang dilaporkan masih mempertimbangkan tuntutan tersebut, warga Palestina mencakup hampir seperlima dari seluruh pekerja bantuan yang tewas sejak dimulainya perang pada Oktober 2023.

2. MSF tuai kritikan usai berikan data pribadi staf ke Israel

Salah satu kelompok bantuan yang menyetujui aturan Israel adalah MSF. Dalam pernyataan pada Sabtu (24/1/2026), badan amal medis itu mengatakan pihaknya siap membagikan data pribadi sejumlah staf Palestina dan internasional demi mencegah Israel menangguhkan operasi kemanusiaan mereka di wilayah Palestina.

Keputusan MSF itu dikecam oleh sejumlah dokter dan aktivis, yang menganggap langkah tersebut berisiko membahayakan para staf Palestina.

“MSF dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit—menuruti tuntutan rezim yang melakukan genosida, atau menolak dan menghadapi pengusiran total serta penghentian mendadak seluruh layanan kesehatan dalam beberapa pekan ke depan. Namun, apa arti kemanusiaan di tengah genosida? Harus ada alternatif—alternatif yang menuntut pendekatan kemanusiaan yang jauh lebih berani dan disruptif di tengah kemerosotan politik yang begitu brutal," ungkap mantan staf MSF yang berbicara secara anonim.

3. Serangan dan pembatasan bantuan masih berlanjut di Gaza

Meski telah berhasil keluar dari jurang kelaparan, Gaza masih membutuhkan banyak bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya di tengah serangan Israel yang terus berlanjut. Israel sebelumnya menyatakan berkomitmen mengizinkan 600 truk bantuan per hari masuk ke Jalur Gaza sesuai ketentuan perjanjian gencatan senjata yang berlaku pada Oktober 2025. Namun, pada kenyataannya, hanya sekitar 200 truk yang benar-benar diizinkan masuk ke wilayah tersebut.

Saat ini, ratusan ribu keluarga Palestina di Gaza terpaksa mengungsi di tempat-tempat penampungan darurat dan tenda-tenda yang padat lantaran rumah mereka hancur akibat serangan Israel. Dalam beberapa pekan terakhir, beberapa orang dilaporkan tewas setelah bangunan rusak yang mereka tempati runtuh akibat hujan deras dan banjir. Suhu rendah yang terus melanda wilayah tersebut juga membuat sejumlah anak meninggal akibat hipotermia.

Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, sedikitnya 492 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata. Secara keseluruhan, jumlah korban tewas akibat perang tersebut mencapai 71.660 orang, dengan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team