Jakarta, IDN Times - Organisasi bantuan ternama Oxfam menyatakan tidak akan menyerahkan data pribadi staf Palestina mereka kepada Israel sebagai syarat untuk tetap beroperasi di Gaza. Pihaknya menyinggung serangan mematikan Israel di wilayah Palestina tersebut, yang telah menewaskan ratusan pekerja bantuan.
Tahun lalu, Israel menuntut sejumlah organisasi bantuan yang beroperasi di Gaza serta Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki untuk menyerahkan informasi terperinci mengenai staf Palestina dan internasional mereka, kegiatan operasional, dan pendanaan. Kebijakan ini berujung pada pencabutan izin operasional 37 organisasi bantuan internasional, termasuk Oxfam, Dokter Lintas Batas (MSF), dan Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) per 1 Januari 2026.
“Kami tidak akan menyerahkan data pribadi sensitif kepada salah satu pihak dalam konflik karena hal tersebut akan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan, kewajiban perlindungan, serta aturan perlindungan data. Lebih dari 500 pekerja kemanusiaan telah tewas sejak 7 Oktober 2023," kata juru bicara Oxfam kepada Al Jazeera.
Pihaknya menyerukan kepada pemerintah Israel untuk segera mencabut peraturan tersebut dan menghentikan langkah-langkah yang menghambat bantuan kemanusiaan.
