Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
PBB Masukkan Israel ke Daftar Pelaku Kekerasan Seksual di Zona Konflik
pasukan Israel di Sungai Litani, Lebanon (wikimedia/ / IDF Spokesperson's Unit)
  • PBB memasukkan Israel, termasuk Layanan Penjara Israel, ke daftar pelaku kekerasan seksual di zona konflik setelah laporan pelecehan terhadap tahanan Palestina di Gaza dan Tepi Barat.
  • Laporan PBB juga mencatat Rusia untuk pertama kalinya masuk daftar hitam bersama 77 aktor lain, dengan ratusan kasus kekerasan seksual di berbagai wilayah konflik dunia.
  • Pemerintah Israel menolak keputusan tersebut, memutus hubungan dengan Sekjen PBB Antonio Guterres, serta membatalkan kunjungan pejabat PBB sambil menuding langkah itu bermotif politik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memasukkan sejumlah entitas Israel ke dalam daftar hitam negara yang melakukan kekerasan seksual di zona konflik. Keputusan ini mencakup Layanan Penjara Israel (IPS) beserta sejumlah otoritas keamanan lainnya yang kini berada dalam pengawasan.

Langkah ini diambil setelah munculnya laporan mengenai pelecehan terhadap tahanan Palestina di berbagai fasilitas penahanan militer Israel. PBB menyebutkan bahwa pasukan Israel terbukti melakukan pola kekerasan seksual yang sistematis di wilayah pendudukan Gaza dan Tepi Barat.

1. Deretan kasus pelecehan yang disorot PBB

ilustrasi penjara. (unsplash.com/Ye Jinghan)

Tahun lalu, Sekretaris Jenderal PBB telah memperingatkan Israel mengenai potensi masuknya mereka ke dalam daftar tersebut. Kini, PBB menilai pemerintah Israel masih gagal menghentikan pelanggaran ini. Salah satu kasus yang memicu keputusan PBB adalah insiden penyiksaan di fasilitas penahanan Sde Teiman pada Juli 2024. Rekaman kamera pengawas pada saat itu menunjukkan sekelompok tentara Israel melecehkan seorang tahanan Palestina menggunakan batang logam.

Investigasi dari The New York Times juga mengungkap kekerasan seksual yang meluas berdasarkan pengakuan dari belasan korban. Seorang tahanan asal Gaza mengaku ditelanjangi dan diserang oleh anjing militer Israel.

"Pencantuman nama Israel ke dalam daftar ini merupakan sebuah keputusan yang seharusnya dilakukan sejak lama. Saya sangat kecewa Israel belum didaftarkan sebelumnya, mengingat skala kekerasan seksual terhadap warga Palestina telah diverifikasi secara independen," tutur Pelapor Khusus PBB Reem Alsalem, dilansir Al Jazeera.

2. Rusia juga pertama kali masuk daftar hitam PBB

Ilustrasi Bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)

Laporan PBB tahun ini mencatat lonjakan kasus kekerasan seksual di berbagai wilayah konflik di seluruh dunia. Secara keseluruhan, terdapat 77 aktor negara dan non-negara yang masuk ke dalam daftar hitam tersebut. Selain Israel, Rusia juga dimasukkan ke dalam daftar tersebut untuk pertama kalinya. PBB memverifikasi 310 kasus kekerasan seksual oleh militer Rusia terhadap tahanan perang asal Ukraina.

Sementara itu, kelompok Hamas dan berbagai organisasi lainnya juga tetap berada di dalam daftar tersebut. Sebelumnya, Hamas telah lebih dulu dimasukkan pada Agustus 2025 terkait serangan Oktober 2023. PBB turut menyoroti pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di sejumlah negara yang sedang dilanda konflik. Daftar tahun ini mencakup aktor bersenjata dari negara-negara seperti Sudan, Haiti, Kongo, Myanmar, Suriah, dan Mali.

3. Israel putus hubungan dengan Sekjen PBB

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. (Vlada Republike Slovenije from Ljubljana, Slovenia, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Israel mengecam keputusan tersebut dan memutus hubungan dengan kantor Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Dilansir Jerusalem Post, Tel Aviv tidak akan menjalin kontak apa pun selama Guterres masih menjabat sebagai pemimpin organisasi tersebut.

Israel juga secara sepihak membatalkan rencana kunjungan perwakilan khusus PBB Pramila Patten. Para pejabat Israel mengklaim langkah PBB ini bermotif politik dan sengaja mengabaikan fakta di lapangan.

"Sekjen PBB beserta timnya terus menyebarkan kebohongan terhadap Israel. Menempatkan kami dan teroris Hamas di daftar yang sama adalah hal yang tidak bisa diterima," ujar Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon, dilansir Al Jazeera.

Anggota kabinet perang Israel, Benny Gantz, bahkan menyebut PBB sebagai organisasi antisemit yang bias. Ia menegaskan, langkah PBB tidak akan membuat Israel menyimpang dari jalannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article