Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Netanyahu Targetkan Israel Kuasai 70 Persen Gaza

Netanyahu Targetkan Israel Kuasai 70 Persen Gaza
potret Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer memperluas kendali hingga 70 persen wilayah Gaza, meski gencatan senjata yang dimediasi AS masih berlaku sejak Oktober lalu.
  • Warga Palestina khawatir perluasan zona penyangga Israel menjadi upaya pengusiran permanen, sementara serangan udara terbaru menewaskan sedikitnya 10 orang termasuk anak-anak saat Idul Adha.
  • Warga Gaza hidup dalam ketakutan tanpa tempat aman, banyak yang mengungsi di tenda-tenda rusak akibat perang berkepanjangan dan meningkatnya serangan di tengah kebuntuan negosiasi Israel-Hamas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan militer Israel untuk memperluas wilayah yang dikuasai di Jalur Gaza. Netanyahu menargetkan militer Israel menguasai 70 persen wilayah wilayah Palestina tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Netanyahu saat berbicara dalam sebuah konferensi di permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Menurut Netanyahu, langkah itu dilakukan secara bertahap setelah sebelumnya militer Israel disebut telah menguasai lebih dari 60 persen wilayah Gaza.

“Kita sebelumnya di angka lima puluh, lalu bergerak ke enam puluh. Instruksi saya adalah bergerak lagi — kita lakukan bertahap,” kata Netanyahu, dilansir dari Anadolu, Jumat (29/5/2026).

“Pertama-tama, tujuh puluh. Kita mulai dari situ. Kita menekan mereka (Hamas) dari semua sisi. Kita akan menangani sisanya,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya serangan Israel ke Gaza meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat sejak Oktober lalu masih berlaku.

1. Wilayah Gaza kian menyempit

ilustrasi peta Tepi Barat, Israel, dan Jalur Gaza (United States. Central Intelligence Agency. Directorate Of Intelligence, Public domain, via Wikimedia Commons)
ilustrasi peta Tepi Barat, Israel, dan Jalur Gaza (United States. Central Intelligence Agency. Directorate Of Intelligence, Public domain, via Wikimedia Commons)

Saat ini Israel diperkirakan telah menguasai sekitar 64 persen wilayah Jalur Gaza, kawasan pesisir kecil yang hancur akibat serangan militer Israel selama hampir dua tahun terakhir. Gencatan senjata yang dimediasi AS sebelumnya mengatur bahwa pasukan Israel akan mundur ke garis demarkasi yang disebut ‘Yellow Line’.

Garis itu menempatkan Israel menguasai sekitar 53 persen wilayah Gaza, sementara sisanya tetap berada di bawah kendali Hamas. Sebelumnya dilaporkan Israel secara sepihak memindahkan blok beton penanda garis tersebut lebih jauh ke wilayah yang sebelumnya dikuasai Hamas.

Peta yang dirilis militer Israel pada Maret lalu juga menunjukkan area pembatasan yang lebih luas, yang menurut para analis mencakup sekitar 64 persen wilayah Gaza secara keseluruhan.

Netanyahu beberapa kali menyebut dalam pernyataan publik bahwa Israel kini mengontrol lebih dari 60 persen wilayah Gaza. Pemerintah Israel menyebut wilayah-wilayah yang direbut tersebut sebagai “zona penyangga” untuk mencegah serangan militan di masa depan.

2. Palestina khawatirkan pengusiran permanen warga Gaza

Warga Palestina dievakuasi akibat serangan udara, penembakan artileri, dan tembakan senjata api oleh pasukan Israel di Jalur Gaza. (x.com/WHO in occupied Palestinian territory)
Warga Palestina dievakuasi akibat serangan udara, penembakan artileri, dan tembakan senjata api oleh pasukan Israel di Jalur Gaza. (x.com/WHO in occupied Palestinian territory)

Di sisi lain, warga Palestina memandang perluasan zona penyangga Israel sebagai bagian dari strategi memindahkan mereka secara permanen dari Gaza. Kekhawatiran itu muncul setelah sejumlah pejabat senior Israel, termasuk Menteri Pertahanan Israel Katz, menyampaikan dukungan terhadap apa yang mereka sebut sebagai migrasi sukarela warga Gaza.

Instruksi terbaru Netanyahu juga datang ketika Israel meningkatkan serangan terhadap target yang disebut sebagai pemimpin Hamas. Pada Selasa, Israel mengumumkan telah membunuh kepala sayap bersenjata Hamas, hanya sepuluh hari setelah membunuh pendahulunya.

Namun otoritas kesehatan Gaza mengatakan serangan udara Israel pada Rabu malam yang diklaim menargetkan dua pemimpin Hamas justru menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk lima anak-anak. Sebanyak 18 orang lainnya dilaporkan terluka dalam serangan tersebut.

Serangan itu terjadi saat warga Palestina sedang merayakan Idul Adha di tengah kondisi perang dan pengungsian.

3. Warga Gaza sebut tak ada tempat aman

Dua warga tengah duduk di tengah reruntuhan bangunan di Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)
Dua warga tengah duduk di tengah reruntuhan bangunan di Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)

Banyak warga Gaza merayakan Idul Adha di tenda-tenda pengungsian dan bangunan yang telah rusak akibat perang. Seorang warga bernama Etidal Al-Za’im mengatakan dirinya sedang bersama keluarganya di dalam tenda ketika serangan terjadi di bangunan sebelah lokasi mereka.

“Kami keluar mendengar suara ledakan. Kami duduk selama satu jam sebelum bisa keluar melewati reruntuhan dan menemukan jalan keluar dari tenda,” katanya.

"Warga lain yang menyaksikan serangan tersebut, Abu Azam, mengatakan tidak ada lagi tempat aman bagi warga Gaza. “Seseorang di Gaza tidak memiliki keamanan sama sekali,” ujar Abu Azam.

“Ia bisa terkena serangan di jalan, di rumah, di rumah sakit, atau dalam perjalanan ke pasar,” lanjutnya.

Menurut pejabat kesehatan Gaza, lebih dari 900 orang tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata berlaku. Sementara itu, Israel menyebut empat tentaranya tewas akibat serangan kelompok militan dalam periode yang sama.

Hingga kini, Israel dan Hamas masih menemui jalan buntu dalam pembicaraan terkait rencana AS yang mencakup penarikan pasukan Israel dan pelucutan senjata Hamas.

Share Article
Topics
Editorial Team
Dheri Agriesta
EditorDheri Agriesta

Related Articles

See More