Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Tentara sedang berperang.
ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Duncan Kidd)

Intinya sih...

  • Perang saudara sudah pernah terjadi pada 2020.

  • Perang Tigray antara Pemerintah Federal Ethiopia dan TPLF pecah pada November 2020.

  • Pasukan Eritrea membantu pasukan Ethiopia dalam perang tersebut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ethiopia saat ini sedang dilanda perang saudara. Perang tersebut terjadi antara pasukan Pemerintah Federal Ethiopia dengan pasukan Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) di wilayah Tsemlet, Provinsi Tigray bagian barat. Perang juga dikabarkan terjadi di Provinsi Tigray bagian utara.

Menurut laporan AFP pada Kamis (29/1/2026), perang tersebut sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir. Situasi di sana dikabarkan makin panas hingga menyebabkan beberapa aktivitas penerbangan di bandara yang ada di Ibukota Addis Ababa harus dihentikan sementara.

“Situasi di sana sudah semakin memburuk,” ujar seorang sumber anonim kepada AFP

1. Perang saudara sudah pernah terjadi pada 2020

ilustrasi perang saudara (pexels.com/Art Guzman)

Perang saudara yang terjadi antara Pemerintah Federal Ethiopia dan TPLF sebetulnya bukan hal baru. Sebab, kedua pihak sebelumnya sudah pernah berperang pada November 2020. Itu merupakan kali pertama perang saudara pecah di Ethiopia. Perang tersebut dikenal dengan sebutan Perang Tigray. 

Saat itu, perang dipicu oleh serangan pasukan TPLF ke markas pasukan Pemerintah Federal Ethiopia yang ada di Provinsi Tigray. Merespon serangan itu, Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, mengirim pasukan ke wilayah Tigray untuk menyerang TPLF. Bentrokan senjata pun terjadi di antara kedua pihak. 

Pasukan Pemerintah Federal Ethiopia saat itu tidak bergerak sendirian. Mereka dibantu oleh pasukan dari Pemerintah Eritrea yang dikenal sangat pro terhadap PM Ahmed dan sangat anti terhadap TPLF. 

2. Perang menelan ratusan ribu korban jiwa

ilustrasi korban jiwa (pexels.com/Ivan Cuesta)

Perang yang terjadi antara pasukan Ethiopia dan pasukan TPLF saat itu berjalan alot. Keduanya saling gontok-gontokan demi mempertahankan posisi. 

Setelah berlangsung cukup lama, perang akhirnya berakhir pada November 2022. Kala itu, pasukan Pemerintah Ethiopia dan pasukan TPLF sepakat menandatangani perjanjian gencatan senjata. 

Saat itu, perang dilaporkan telah menelan 600 ribu korban jiwa. Sementara itu, lebih dari 3 juga warga terpaksa mengungsi ke negara-negara tetangga guna mencari tempat aman.

3. Provinsi Tigray mengalami krisis usai perang saudara

ilustrasi warga miskin di Provinsi Tigray (unsplas.com/Zeyn Afuang)

Setelah perang saudara usai, Provinsi Tigray justru mengalami krisis.  Banyak warga di sana yang hidup miskin dan kelaparan setiap hari. Hal ini terjadi karena wilayah Tigray menutup diri dari Pemerintah Ethiopia. 

Oleh karena itu, Provinsi Tigray hingga saat ini hidup dari bantuan-bantuan internasional. Sebab, menurut data dari World Food Program (WFP), 80 persen penduduk di sana membutuhkan bantuan.

Salah satu lembaga internasional yang jadi andalan warga Tigray untuk mendapatkan bantuan adalah USAID. Namun, sejak Presiden Donald Trump menjabat pada Januari 2025, USAID tidak lagi mengirim bantuan ke Tigray. Sebab, Trump memutuskan untuk membubarkan USAID dengan dalih efisiensi.

Bantuan ke Tigray saat ini dikelola langsung oleh Pemerintah Amerika Serikat dalam jumlah terbatas. Oleh karena itu, kondisi warga Tigray kini kian memprihatinkan. Apalagi dalam hal kesehatan. 

“Pemotongan pendanaan dari donor telah menambah tekanan pada sistem kesehatan masyarakat yang sudah rapuh,” kata seorang dokter relawan yang bertugas di Tigray, Joshua Eckley, dilansir Al Jazeera

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team