Sidang darurat Dewan Keamanan PBB di New York, AS. (IDN Times/Sonya Michaella)
Terima kasih telah mengadakan pertemuan mendesak ini.
Bersama Prancis, Indonesia meminta diadakannya pertemuan ini sebagai bukti komitmen Indonesia yang telah lama terjalin dan kontribusi berkelanjutan dalam operasi penjaga perdamaian sejak 1957.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada para pembicara, USG Lacroix, ASG Khiari, dan USG Fletcher.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda, Madame Presiden, karena telah memberikan saya kesempatan untuk menyampaikan rasa duka, kemarahan, dan frustrasi lebih dari 285 juta rakyat Indonesia. Saya yakin rasa duka, kemarahan, dan frustrasi ini juga dirasakan oleh masyarakat dunia.
Saya merasa terhibur oleh banyaknya ungkapan belasungkawa, dukungan, dan solidaritas dari anggota Dewan ini serta komunitas internasional yang lebih luas.
Izinkan saya memulai dengan menghormati kenangan para prajurit perdamaian yang gugur dengan menyebut nama-nama mereka di ruang mulia ini:
∙ Zulmi Aditya Iskandar, Mayor Infanteri, 33 tahun.
∙ Muhammad Nur Ichwan, Sersan Satu, 25 tahun.
∙ Fahrizal Rhomadhon, Kopral, 27 tahun.
Kopral Fahrizal gugur saat menjalankan tugasnya di pos kami di Adchit Al Qusayr. Mayor Zulmi dan Sersan Satu Muhammad gugur dalam serangan terhadap konvoi mereka yang sedang memberikan dukungan logistik di Bani Hayyan.
Kita tidak dapat menerima pembunuhan terhadap para penjaga perdamaian ini. Ini adalah kehilangan yang sangat besar bagi Indonesia. Ini juga merupakan kehilangan besar bagi kita semua — bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa, bagi Dewan ini, dan bagi setiap komunitas yang memandang para penjaga perdamaian sebagai simbol harapan dan perdamaian.
Selain itu, serangan-serangan tersebut juga melukai lima penjaga perdamaian lainnya:
∙ Kapten Sulthan Wirdean Maulana,
∙ Kopral Rico Pramudia,
∙ Kopral Arif Kurniawan,
∙ Kopral Bayu Prakoso,
∙ Calon Prajurit Deni Rianto.
Para penjaga perdamaian ini gugur dan terluka saat menjalankan mandat yang dipercayakan kepada mereka oleh Dewan ini sendiri.
Indonesia mengecam dengan sekeras-kerasnya serangan keji terhadap para penjaga perdamaian Indonesia yang bertugas bersama UNIFIL pada 29 dan 30 Maret 2026.
Indonesia mendesak semua pihak terkait untuk memastikan pemulangan jenazah ketiga personel yang gugur secara cepat, aman, dan bermartabat, serta meminta agar kelima penjaga perdamaian yang terluka mendapatkan perawatan medis terbaik dan penanganan menyeluruh demi pemulihan mereka yang penuh dan cepat.
Madame Presiden,
Ada pihak-pihak yang berargumen bahwa para prajurit yang gugur ditempatkan di zona perang aktif. Namun framing ini mengabaikan pertanyaan mendasar: siapa yang bertanggung jawab atas terciptanya dan berlangsungnya zona permusuhan aktif tersebut? Eskalasi saat ini tidak terjadi di ruang hampa. Hal ini bersumber dari serangkaian pelanggaran wilayah yang dilakukan Militer Israel ke dalam wilayah Lebanon.
Indonesia mengecam dengan tegas serangan-serangan Israel di Lebanon selatan, yang merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon.
Indonesia terus berdiri bersama pemerintah dan rakyat Lebanon dalam solidaritas.
Seiring meningkatnya permusuhan di Lebanon Selatan, serangan terhadap para penjaga perdamaian UNIFIL juga semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Serangan-serangan berulang ini bukan sekadar insiden, melainkan serangan yang disengaja dan bertujuan melemahkan UNIFIL serta menghalangi kemampuannya dalam memenuhi mandat Resolusi 1701.
Serangan-serangan ini juga merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional, dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
Oleh karena itu, kami menuntut penyelidikan yang segera, menyeluruh, dan transparan.
Saya ingin menegaskan: kami menuntut penyelidikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bukan dalih dari Israel.
Kami menuntut Dewan Keamanan untuk terus memantau jalannya penyelidikan dan segera menindaklanjuti hasilnya.
Kami menuntut agar para pelaku dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Impunitas tidak boleh menjadi standar, dan serangan terhadap penjaga perdamaian tidak boleh terulang maupun ditoleransi.
Kami juga menuntut jaminan tegas dari semua pihak yang terlibat, termasuk Israel, untuk mematuhi kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional, segera menghentikan serangan dan perilaku agresif yang membahayakan personel dan aset PBB, serta menahan diri dari tindakan apa pun yang dapat memperburuk eskalasi permusuhan.
Madame Presiden,
Keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian harus tetap menjadi prioritas utama kita.
Di tengah meningkatnya permusuhan, Dewan dan Sekretaris Jenderal harus segera menerapkan langkah-langkah darurat guna memastikan perlindungan penuh bagi personel dan aset UNIFIL. Hal ini mencakup peninjauan protokol pengaturan keamanan, serta pengaktifan rencana darurat dan evakuasi yang sesuai dengan perkembangan di lapangan.
Kita harus memanfaatkan semua sarana politik dan diplomatik untuk meredakan situasi.
Dewan Keamanan harus menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar yang menjamin keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian PBB. Sangat penting bagi Dewan dan komunitas internasional yang lebih luas untuk mengambil tindakan segera dan tegas guna melindungi mereka yang menjaga perdamaian.
Kami menyampaikan tuntutan-tuntutan ini dengan penghormatan yang mendalam kepada para penjaga perdamaian kami yang gugur, kepada siapa Indonesia memberikan penghormatan tertinggi atas pengorbanan mereka demi perdamaian dan keamanan internasional.
Untuk itu, Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi pada pemeliharaan perdamaian dan keamanan sebagaimana diamanatkan oleh Konstitusi kami.
Kini, kami menuntut Dewan Keamanan untuk bertindak dan memberikan hasil yang nyata.
Hari ini, Dewan Keamanan harus berbicara dengan suara yang jelas, kuat, dan bersatu untuk mengecam serangan terhadap personel penjaga perdamaian.
Hari ini, Dewan Keamanan harus menegaskan kembali kewajiban semua pihak untuk memastikan dan menjamin keselamatan serta keamanan para penjaga perdamaian.
Hari ini, Dewan Keamanan harus mengambil tindakan tegas untuk mencegah permusuhan dan serangan terhadap penjaga perdamaian di masa mendatang. Tidak ada lagi serangan.
Terima kasih.