Warga Mulyaharja Bogor Gelar Sidekah Bumi, Upaya Lestarikan Tradisi

- Warga Lembur Sawah, Mulyaharja Bogor, menggelar Sidekah Bumi 2026 dengan tema pelestarian budaya Sunda dan dihadiri perwakilan kementerian serta pemerintah daerah.
- Tradisi yang sempat vakum lebih dari 30 tahun ini dihidupkan kembali oleh komunitas Saung Eling melalui inovasi seperti festival jajanan dan lomba tari agar menarik generasi muda.
- Perayaan menggunakan mata uang bambu bernama 'Batok' sebagai alat tukar kuliner, mencerminkan kreativitas warga dalam menjaga nilai adat sekaligus menyesuaikan dengan zaman.
Bogor, IDN Times – Masyarakat Lembur Sawah di Kota Bogor kembali menyelenggarakan acara kebudayaan bertajuk "Sidekah Bumi 2026" di Lembur Sawah RT 02/02, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.
Acara adat tahunan yang diselenggarakan pada Selasa (16/6/2026) mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB ini, sebagai upaya melestarikan tradisi leluhur.
Mengusung semangat pelestarian budaya Sunda, festival kali ini menonjolkan tema "Ngawujudkeun Kembang Kahuripan Tina Lengkah Karuhun" atau mewujudkan bunga kehidupan dari langkah para leluhur.
1. Rangkaian ritual adat dan festival budaya yang dihadiri kementerian

Ketua Pelaksana Kegiatan, Siti Nurfazriah, mengatakan puncak acara yang berlangsung hari ini diawali sejak pagi hari dengan pembukaan resmi serta sambutan dari Kementerian Kebudayaan RI, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat. Acara ini juga dihadiri perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Jawa Barat dan jajaran pemerintah kota dan daerah setempat.
"Puncak acaranya adalah hari ini Selasa (16/6/2026), diawali pada pagi hari dengan pembukaan dan sambutan dari kementerian dan pemerintah kota setempat. Setelah itu, dilanjutkan dengan arak-arakan dongdang yang ditutup dengan tradisi perebutan hasil bumi," ujar Siti.
Siti menyebutkan rangkaian kegiatan yang ada pada acara adat ini. Tidak hanya melaksanakan upacara adat udara, tetapi juga inovasi dengan mengadakan lomba tari dan seni kebudayaan.
"Rangkaian siang dilanjutkan dengan lomba tari tradisional, dan puncaknya pada malam hari akan ada pagelaran seni, pengumuman dongdang terbaik, serta pertunjukan wayang golek," ujarnya.
2. Sempat vakum, tradisi dibangkitkan kembali lewat inovasi

Siti menegaskan ranngkaian acara "Sidekah Bumi" ini sebenarnya sudah berlangsung lama di Lembur Sawah, namun sempat mengalami vakum puluhan tahun. Dalam tiga tahun terakhir, komunitas lokal Saung Eling bersama masyarakat sekitar mulai menghidupkan kembali tradisi ini dengan memberikan sentuhan inovasi modern, agar dapat dinikmati generasi muda dan masyarakat umum di luar wilayah Bogor.
"Memang, acaranya sempat vakum lebih dari 30 tahun dan hanya dijalankan dalam lingkup keluarga atau tingkat RT. Namun, dalam tiga tahun ke belakang, saya dan teman-teman di Saung Eling bersama masyarakat mulai membangkitkan kembali acara ini, dengan menambahkan inovasi seperti Festival Jajanan Lembur dan perlombaan tari," kata Siti.
3. Batok jadi mata uang untuk jual beli kuliner

Dalam perayaan Sidekah Bumi, warga bertransaksi menggunakan mata uang khusus bernama "Batok". Batok merupakan alat tukar tradisional berbentuk koin yang terbuat dari bambu.
Panitia menetapkan nilai universal, di mana 1 koin Batok setara dengan Rp5.000. Melalui sistem ini, harga rata-rata jajanan tradisional yang dijual di lokasi acara berkisar dari Rp5.000 hingga Rp15.000 (1 sampai 3 koin Batok).
Di sisi lain, kelancaran acara tahun ini juga tidak lepas dari adanya kolaborasi erat dengan sektor akademisi, yang turut terjun langsung membantu warga di lapangan.
"Pelaksanaannya, kami mengikuti hitungan para sesepuh karena masih ada pakem adat yang harus dijaga. Waktunya selalu bertepatan di setiap bulan Muharam, tetapi tanggal pastinya berbeda-beda mengikuti hitungan tersebut," pungkas Siti.

















