Sekjen PBB António Guterres kunjungi Pusat Perawatan Ebola Mangina. (MONUSCO Photos, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)
Sebelum kasus terkonfirmasi di Nigeria, Kenya telah lebih dahulu mendeteksi kasus Ebola pertamanya pada 6 Oktober 2026 pada seorang pebisnis yang tinggal di Republik Demokratik Kongo dan meninggal di Nairobi pada 5 Oktober 2026. Kementerian Kesehatan Kenya melaporkan kasus kesembilan pada Selasa (20/10/2026), yakni seorang laki-laki berusia 24 tahun dari anggota keluarga dekat kasus pertama setelah dikonfirmasi positif pada Senin (19/10/2026). Pasien kesembilan tersebut sudah berada di fasilitas karantina ketika mulai jatuh sakit, lalu diisolasi dan dites, serta langsung mendapatkan pengobatan medis segera setelah hasil tes positifnya dikonfirmasi.
Nigeria Centre for Disease Control telah menyatakan penguatan pengawasan sejak dua pekan lalu menyusul terdeteksinya Ebola di Kenya. Upaya kesiapsiagaan tersebut difokuskan pada deteksi dini, isolasi dan rujukan medis, diagnosis laboratorium, pencegahan dan pengendalian infeksi, pelacakan kontak, komunikasi risiko, hingga perlindungan bagi petugas kesehatan. Pemerintah Nigeria sendiri sebelumnya telah membentuk satuan tugas Ebola pada Juni 2026 setelah merebaknya wabah di Kongo pada pertengahan Mei 2026.