Wabah Ebola Meluas di RD Kongo, Kenya Konfirmasi Satu Kasus Impor

Wabah Ebola Bundibugyo meluas ke Alimbongo, Kivu Utara, dengan empat kasus dan dua kematian; secara nasional tercatat 8.728 kasus terkonfirmasi serta 4.205 kematian.
Kenya mengonfirmasi kasus impor pertama: warga yang tinggal di RD Kongo meninggal di Nairobi setelah transit melalui Uganda. Otoritas melacak 28 kontak erat dan penumpang penerbangan.
Kapasitas perawatan di Kivu Utara melampaui batas, sementara pelacakan kontak baru mencapai 80,4 persen akibat masalah keamanan dan penolakan warga; Bundibugyo belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi.
Jakarta, IDN Times - Wabah virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) dilaporkan meluas ke zona kesehatan Alimbongo di Provinsi Kivu Utara. Kekhawatiran penularan lintas negara kian meningkat setelah otoritas kesehatan Kenya mengonfirmasi kasus impor perdana yang berujung pada kematian pasien di Nairobi.
Dilansir Al Jazeera, wabah ini dipicu oleh virus Bundibugyo, salah satu spesies virus Ebola yang belum memiliki vaksin atau pengobatan resmi. Lembaga medis seperti Doctors Without Borders (MSF) memperingatkan penyebaran ini memberi tekanan berat pada kapasitas penanganan fasilitas kesehatan di RD Kongo.
1. Zona Alimbongo di RD Kongo catat kasus pertama penularan virus

Petugas medis suntikkan vaksin kepada seorang pria di Kongo. (European Union, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) WHO menyampaikan dalam laporan situasi pada Kamis (8/10/2026) bahwa virus Bundibugyo telah menyebar ke zona kesehatan Alimbongo di Provinsi Kivu Utara. Peristiwa ini menandai pertama kalinya kasus Ebola dilaporkan di zona tersebut. Hingga Selasa (6/10/2026), otoritas mencatat empat kasus terkonfirmasi dan dua kematian di Alimbongo.
Secara nasional, virus telah terkonfirmasi di 64 zona kesehatan yang mencakup tujuh provinsi sejak awal wabah merebak. Provinsi Ituri di wilayah timur laut menjadi daerah yang paling terdampak, meski Kivu Utara mencatatkan proporsi kasus yang terus bertambah. Pembaruan data WHO per Selasa (6/10/2026) menunjukkan total 8.728 kasus terkonfirmasi, 4.205 kematian terkonfirmasi, dan 2.269 orang sembuh, dengan tingkat fatalitas kasus (crude case fatality ratio) sebesar 48,2 persen.
2. Pasien di Kenya meninggal usai perjalanan lintas negara

ilustrasi bendera Kenya (unsplash.com/engin akyurt) Otoritas Kenya mengonfirmasi kasus impor perdana penyakit virus Bundibugyo pada Selasa (6/10/2026). Pasien merupakan warga negara Kenya yang tinggal di RD Kongo dan sempat berobat di beberapa fasilitas kesehatan di negara tersebut saat jatuh sakit. Pasien kemudian menempuh perjalanan darat menuju Kampala, Uganda, sebelum akhirnya terbang menuju Nairobi pada Sabtu (3/10/2026).
Pasien diisolasi di sebuah rumah sakit di Nairobi dan dinyatakan positif mengidap virus tersebut, lalu meninggal dunia pada Senin (5/10/2026). Otoritas kesehatan Kenya telah mengidentifikasi 28 kontak erat yang meliputi anggota keluarga serta petugas kesehatan. Mereka juga melacak penumpang lain dan awak pesawat dalam penerbangan menuju Nairobi.
Gubernur Wajir County menyatakan dugaan kasus suspek lain di wilayahnya dinyatakan negatif berdasarkan hasil laboratorium awal pada Kamis (8/10/2026). Sementara itu, otoritas Uganda memantau para kontak yang sempat berinteraksi dengan pasien selama masa transit di negara mereka. Kasus impor ini menggarisbawahi pentingnya pengawasan dan koordinasi antarnegara di kawasan untuk mendeteksi penularan sejak dini.
3. Fasilitas perawatan di Kivu Utara beroperasi lampaui kapasitas

ilustrasi pemeriksaan medis (pexels.com/Anna Shvets) Lembaga amal medis Doctors Without Borders (MSF) pada Senin (5/10/2026) mengungkapkan Provinsi Kivu Utara menyumbang hampir 40 persen kasus baru nasional, meningkat dari 24 persen pada akhir Agustus. Pusat perawatan Ebola milik MSF di Kota Butembo dilaporkan beroperasi melampaui kapasitas. Akibat keterbatasan tempat tidur, sebanyak 34 persen pasien terkonfirmasi di seluruh negeri dirawat di fasilitas nonspesialis per Senin (28/9/2026).
Koordinator pusat perawatan Ebola MSF di Butembo, Stephanie Hoffmann, menegaskan kapasitas perawatan telah mencapai batas maksimal selama berminggu-minggu. Ketiadaan tempat tidur membuat petugas terpaksa merujuk pasien ke fasilitas lain yang standarnya belum tentu memadai. "Karena tempat tidur yang tersedia tidak cukup, kami terkadang terpaksa merujuk pasien Ebola terkonfirmasi ke tempat lain, terlepas dari risiko signifikan yang ditimbulkannya bagi masyarakat luas," ungkap Hoffmann.
4. Pelacakan kontak terhambat masalah keamanan dan penolakan warga

Sekjen PBB António Guterres kunjungi Pusat Perawatan Ebola Mangina, 2019. (MONUSCO Photos, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Upaya penanggulangan wabah di RD Kongo menghadapi kendala akibat situasi keamanan dan penolakan warga terhadap petugas kesehatan di kota-kota seperti Beni dan Butembo. Pelacakan kontak secara nasional masih berada di bawah target yang direkomendasikan sebesar 85 persen. Berdasarkan data WHO hingga Minggu (4/10/2026), tim tanggap darurat baru memantau 23.741 dari total 29.535 kontak yang teridentifikasi, atau sekitar 80,4 persen.
Kondisi ini diperberat ketiadaan vaksin atau pengobatan khusus yang disetujui untuk virus Bundibugyo, berbeda dengan wabah di RD Kongo pada 2018–2020 yang dipicu spesies virus berbeda dan menewaskan hampir 2.300 orang. Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, menekankan penanganan wabah memerlukan pelacakan menyeluruh hingga transmisi terakhir terputus.
"Untuk mengendalikan wabah ini, kita perlu mengetahui keberadaan setiap kontak, melacak mereka, dan cepat mengidentifikasi siapa pun yang menunjukkan gejala sebelum mereka menularkan virus kepada keluarga, komunitas, atau lintas batas," kata Kaseya.






















