Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pertemuan Trump-Xi Jinping, Mampukah Buat AS-China Berdamai?
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Trump dan Xi Jinping bertemu di Beijing untuk membahas arah baru hubungan AS-China setelah ketegangan panjang akibat perang dagang, isu Taiwan, dan rivalitas teknologi.
  • Iran serta konflik di Timur Tengah menjadi topik utama, dengan China berupaya menengahi agar stabilitas ekonomi global tidak terganggu oleh lonjakan harga minyak.
  • Selain perdagangan dan AI, isu Taiwan tetap sensitif karena tekanan militer China meningkat sementara sikap Trump terhadap Taipei dinilai berubah-ubah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Donald Trump datang ke China untuk bertemu Xi Jinping. Banyak tentara jaga di Beijing karena ini pertemuan penting. Mereka mau bicara soal perang di Iran, tentang Taiwan, dan juga dagang sama teknologi. Dulu mereka sering marah-marahan, tapi sekarang mereka mau coba bicara baik-baik supaya tidak berantem lagi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pertemuan Trump dan Xi di Beijing menunjukkan bahwa meski hubungan kedua negara tengah tegang, masih ada ruang bagi diplomasi dan dialog terbuka. Upaya China memainkan peran penengah dalam konflik Iran serta kesediaan kedua pihak membahas isu sensitif seperti Taiwan dan perdagangan mencerminkan keinginan menjaga komunikasi strategis demi stabilitas global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Keamanan di sekitar Lapangan Tiananmen, Beijing, diperketat selama beberapa hari terakhir. Rumor mengenai parade khusus dan acara besar yang dipersiapkan China untuk menyambut Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun beredar luas di media sosial.

Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) dalam kunjungan yang disebut sebagai salah satu pertemuan paling penting antara dua pemimpin dunia dalam beberapa tahun terakhir. Ini menjadi kunjungan pertama presiden AS ke China sejak kunjungan Trump sendiri pada 2017 silam.

Kala itu, Beijing memberikan sambutan mewah dengan tur pribadi ke Forbidden City hingga jamuan kenegaraan megah. Namun sembilan tahun kemudian, hubungan kedua negara berubah drastis setelah perang dagang, pandemi global, ketegangan Taiwan, hingga rivalitas teknologi memperburuk hubungan Washington dan Beijing.

Meski demikian, Presiden China Xi Jinping tampak ingin tetap menunjukkan kekuatan diplomasi China. Selain pembicaraan resmi dan jamuan makan malam, Trump dijadwalkan mengunjungi Temple of Heaven, kompleks kuil kekaisaran tempat para kaisar China dahulu berdoa untuk panen yang baik.

Pertemuan dua pemimpin negara dengan ekonomi terbesar dunia itu dipandang dapat menentukan arah hubungan AS-China dalam beberapa tahun ke depan, baik menuju kerja sama maupun konflik yang lebih dalam.

1. Iran dan Selat Hormuz jadi bahasan penting

potret bendera Iran yang rusak (unsplash.com/Javad Esmaeili)

Salah satu isu utama yang akan dibahas dalam pertemuan Trump dan Xi adalah perang di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran. Sebelum berangkat ke Beijing, Trump mengatakan dirinya akan melakukan pembicaraan panjang dengan Xi mengenai Iran.

China saat ini disebut mencoba memainkan peran sebagai penengah secara diam-diam bersama Pakistan dalam konflik antara AS, Israel, dan Iran. Beijing dan Islamabad sebelumnya mengajukan rencana lima poin untuk mendorong gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Di balik layar, pejabat China juga dilaporkan mendorong Iran agar kembali ke meja perundingan. Bagi Beijing, berakhirnya perang menjadi kepentingan besar karena konflik tersebut memperburuk tekanan terhadap ekonomi China yang tengah melambat.

Kenaikan harga minyak akibat perang membuat biaya produksi di China meningkat tajam. Sejumlah industri yang bergantung pada produk petrokimia disebut mengalami kenaikan biaya hingga 20 persen.

Meski China memiliki cadangan minyak besar dan unggul dalam energi terbarukan serta kendaraan listrik, perang tetap menjadi ancaman serius bagi ekonomi ekspor mereka.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bahkan sempat berkunjung ke Beijing pekan lalu, yang dipandang sebagai sinyal pengaruh China di Timur Tengah. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Washington berharap China dapat membantu menekan Iran.

“Saya berharap China mengatakan kepadanya apa yang perlu disampaikan. Bahwa apa yang Anda lakukan di Selat Hormuz membuat Anda semakin terisolasi secara global,” kata Rubio, dikutip dari BBC.

2. Taiwan masih jadi titik paling sensitif

potret bendera Taiwan (unsplash.com/Romeo A)

Selain Iran, isu Taiwan diperkirakan menjadi salah satu pembahasan paling sensitif dalam pertemuan Trump dan Xi. Pemerintahan Trump selama ini dinilai mengirim sinyal yang campur aduk terkait Taiwan.

Di satu sisi, AS menyetujui paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan. Namun di sisi lain, Trump beberapa kali mengurangi nada dukungannya terhadap Taipei.

“Ia menganggap Taiwan sebagai bagian dari China,” ujar Trump mengenai pandangan Xi Jinping.

Trump juga pernah mengatakan Taiwan tidak memberikan imbal balik yang cukup kepada AS atas jaminan keamanan yang diberikan Washington. Pernyataan-pernyataan tersebut memunculkan kekhawatiran di Taiwan dan negara-negara sekutu AS di kawasan Indo-Pasifik.

Sementara itu, China terus meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan dengan mengirim pesawat tempur dan kapal perang hampir setiap hari di sekitar pulau tersebut.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan Taiwan merupakan risiko terbesar dalam hubungan AS-China dan berharap Washington membuat pilihan yang tepat.

Meski begitu, sejumlah analis menilai Beijing kemungkinan tidak akan terlalu mempercayai pernyataan spontan Trump terkait Taiwan.

“Bahkan jika Trump mengatakan sesuatu yang terdengar seperti konsesi soal Taiwan, China tahu bahwa ia bisa mengubahnya lagi lewat unggahan Truth Social seminggu kemudian,” ujar John Delury dari Asia Society.

3. Perang dagang hingga AI membayangi pertemuan

Bendera Amerika Serikat dan China melambangkan ketegangan perang dagang antara kedua negara. (Foto: Pexels/Karola G) )

Di bidang ekonomi, Trump dan Xi juga akan membahas perang dagang yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama kedua negara.

Sepanjang 2025, AS dan China nyaris kembali masuk ke perang dagang besar setelah Trump berkali-kali menaikkan tarif impor barang China hingga lebih dari 100 persen. China membalas dengan membatasi ekspor mineral tanah jarang serta mengurangi pembelian produk pertanian AS, yang berdampak besar terhadap petani di negara bagian pendukung Trump.

Meski tensi sempat mereda setelah pertemuan keduanya di Korea Selatan tahun lalu, isu perdagangan tetap menjadi agenda penting dalam kunjungan kali ini.

Trump disebut akan mendorong peningkatan pembelian produk pertanian AS oleh China. Sementara Beijing ingin Washington menghentikan penyelidikan dagang baru yang berpotensi membuka jalan bagi tarif tambahan terhadap produk China.

Selain perdagangan tradisional, persaingan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI menjadi pertarungan besar berikutnya antara kedua negara. China saat ini berinvestasi besar-besaran dalam AI dan robot humanoid sebagai bagian dari strategi Xi Jinping membangun kekuatan produktif baru.

Namun AS menuduh China mencuri teknologi dan model AI Amerika untuk mempercepat perkembangan industrinya sendiri. “Babak awal perang dingin AI mulai muncul,” ujar Yingyi Ma dari Brookings Institution.

Di sisi lain, China memiliki posisi strategis dalam penguasaan mineral tanah jarang yang sangat penting untuk industri teknologi modern. China mengolah sekitar 90 persen pasokan mineral tersebut di dunia.

Situasi itu membuat sejumlah analis melihat kemungkinan kompromi baru antara kedua negara: akses AS terhadap tanah jarang China ditukar dengan akses China terhadap chip berteknologi tinggi buatan Amerika.

Kunjungan Trump ke Beijing memang hanya berlangsung singkat. Namun banyak pihak menilai pertemuan itu dapat menentukan arah hubungan dua negara adidaya tersebut dalam beberapa tahun ke depan.

Editorial Team