Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cadangan Minyak AS Menipis akibat Perang, Trump Tolak Batasi Ekspor

Cadangan Minyak AS Menipis akibat Perang, Trump Tolak Batasi Ekspor
Ilustrasi Donald Trump (commons.m.wikimedia.org/Gage Skidmore)
Intinya Sih
  • Donald Trump menolak usulan pembatasan ekspor minyak meski konflik AS-Iran membuat permintaan global melonjak, dengan alasan cadangan energi domestik masih mencukupi.
  • Ekspor minyak AS meningkat tajam hingga melampaui Arab Saudi, namun para ahli memperingatkan cadangan dalam negeri terus menurun dan harga bensin naik signifikan.
  • Sikap Trump mempertahankan ekspor tanpa batas dinilai mengubah kebijakan energi dan luar negeri AS serta berpotensi memengaruhi stabilitas harga minyak dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menolak usulan untuk membatasi ekspor minyak mentah dan bahan bakar jet. Keputusan ini diambil saat permintaan minyak dunia sedang naik akibat tertutupnya Selat Hormuz karena konflik antara AS dan Iran.

Trump menyatakan AS memiliki cadangan minyak yang cukup sehingga pemerintah tidak perlu ikut campur dalam pasar. Sikap ini menegaskan kebijakan pemerintah AS yang tetap mengekspor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi dunia yang sedang kekurangan pasokan.

1. Ekspor minyak AS naik dan jadi yang terbesar di dunia

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik membuat pengiriman minyak dari Teluk Persia terhenti. Hal ini membuat pembeli dari berbagai negara beralih mencari minyak ke AS, sehingga pengiriman dari Pelabuhan Texas, Louisiana, dan Alaska meningkat.

Selama sembilan minggu terakhir, AS telah mengirim lebih dari 250 juta barel minyak mentah ke berbagai negara. Jumlah ini membuat AS mengalahkan Arab Saudi sebagai pengekspor minyak mentah terbesar di dunia. Trump menyambut baik peningkatan ekspor ini.

"Ini bagus sekali. Jumlah minyak dan gas yang kita jual sekarang sangat banyak dan belum pernah terjadi sebelumnya," kata Trump, dilansir Moneyweb.

2. Ahli ingatkan batas kemampuan cadangan minyak AS

Meski pemerintah AS merasa yakin, beberapa ahli energi mengingatkan bahwa cadangan minyak AS sudah mendekati batas maksimal. Cadangan minyak dan bahan bakar di dalam negeri terus turun selama empat minggu berturut-turut dan berada di bawah rata-rata. Clayton Seigle, peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, memberikan analisisnya.

"Kita terlalu cepat menghabiskan cadangan yang ada. Setelah banyak minyak dikirim ke luar negeri, sisa pasokan kita pasti akan berkurang," kata Seigle, dilansir NDTV Profit.

Jay Singh, Kepala Riset Minyak dan Gas AS di Rystad Energy, juga mengingatkan bahwa AS bisa terkena dampak dari kondisi ini.

"AS memang aman, tetapi tetap bisa terkena dampak masalah energi dunia," kata Singh.

Ia menyebut harga bensin di AS sudah melewati 4,40 dolar AS (Rp77,05 ribu) per galon. Para produsen minyak lokal juga mulai kesulitan memenuhi permintaan ekspor karena ragu untuk membuka pengeboran baru. Kondisi pelabuhan di Gulf Coast turut membatasi jumlah minyak yang bisa dikirim secara rutin ke luar negeri.

3. Sikap Trump dan pengaruhnya pada pasar minyak dunia

Menanggapi peringatan dari para ahli, Trump tetap pada keputusannya dan menyambut baik banyaknya kapal tanker di pelabuhan AS.

"Kapal-kapal datang dari tempat yang dulunya menuju Hormuz. Ratusan kapal merapat ke Texas, Louisiana, dan Alaska, mengisi penuh, lalu kembali dan mendapat banyak uang," kata Trump.

Kevin Book, Direktur Pelaksana ClearView Energy Partners menilai, posisi AS sebagai pengekspor energi telah mengubah kebijakan luar negeri negara tersebut.

"Menjadi pengekspor energi telah mengubah kebijakan luar negeri kami di wilayah yang dipengaruhi oleh energi. Karena energi memengaruhi banyak hal, ini pada dasarnya mengubah kebijakan luar negeri kami," kata Kevin Book.

Sikap Trump yang menolak pembatasan ekspor diperkirakan akan memengaruhi harga minyak dunia dalam waktu dekat. Pasar kini menunggu sampai kapan pasokan AS bisa memenuhi kebutuhan konsumen dunia yang kehilangan akses minyak dari Timur Tengah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Related Articles

See More