Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump Pertimbangkan Venezuela Jadi Negara Bagian Ke-51 AS

Trump Pertimbangkan Venezuela Jadi Negara Bagian Ke-51 AS
Presiden AS, Donald Trump (Gage Skidmore from Peoria, AZ, United States of America, Creative Commons Attribution-Share Alike 2.0 Generic, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Donald Trump mempertimbangkan menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 AS setelah operasi militer berhasil menangkap Nicolás Maduro dan memperkuat pengaruh Washington di kawasan Karibia.
  • Pemerintahan sementara Delcy Rodríguez menolak gagasan status negara bagian AS, menegaskan komitmen menjaga kedaulatan dan kemerdekaan Venezuela meski belum menetapkan jadwal pemilu demokratis.
  • Pemerintah AS memasuki fase stabilitas dengan fokus pada kerja sama energi, pembukaan kembali kedutaan di Caracas, serta normalisasi hubungan diplomatik di tengah kritik internasional terhadap langkah tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengaku tengah mempertimbangkan secara serius kemungkinan menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 AS. Pernyataan itu disampaikan Trump kepada John Roberts, co-anchor Fox News, pada Senin (11/5/2026).

Wacana tersebut mencuat lima bulan setelah operasi militer AS pada Januari berhasil menangkap eks Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, bersama istrinya, Cilia Flores. Situasi itu kemudian memicu perhatian baru terhadap arah hubungan Washington dan Caracas.

1. Pemerintah AS memperluas pengaruh di Venezuela

ilustrasi kilang minyak
ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)

Sesudah Maduro ditangkap, AS terus memperbesar pengaruhnya di kawasan Karibia. Selain memperkuat armada laut untuk menekan perdagangan narkoba, pemerintahan Trump juga mulai memperluas langkah di sektor ekonomi.

Washington kini bekerja sama dengan sejumlah perusahaan energi dan pertambangan untuk mengelola infrastruktur minyak Venezuela. Pemerintah AS juga mendukung pemerintahan sementara yang dipimpin Penjabat Presiden Delcy Rodríguez.

Asisten Sekretaris Pers Gedung Putih, Olivia Wales, menyampaikan bahwa hubungan kedua negara berada dalam kondisi yang sangat baik.

“Hanya Presiden Trump yang bisa dikreditkan atas revitalisasi kemitraan baru ini – dan yang terbaik masih akan datang!” katanya kepada The Independent.

Wales juga menyebut aliran minyak Venezuela yang kembali berjalan diproyeksikan membawa pendanaan besar bagi masyarakat setempat. Pernyataan itu disampaikan di tengah peningkatan kerja sama ekonomi antara kedua negara.

2. Rodríguez menolak status negara bagian AS

Bendera Venezuela (pexels.com/Altamart)
Bendera Venezuela (pexels.com/Altamart)

Trump memberikan pujian besar terhadap operasi militer AS di Venezuela yang ia sebut sebagai military genius. Dalam wawancara bersama Sharyl Attkisson, Trump juga mengeklaim Venezuela kini menjadi negara yang lebih bahagia dan lebih tertata dibanding sebelumnya.

Trump turut menyoroti masuknya perusahaan-perusahaan minyak besar ke Venezuela. Ia memuji penggunaan peralatan rig yang disebutnya sebagai teknologi paling canggih.

Di sisi lain, Rodríguez menyampaikan sikap berbeda saat berada di Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda.

"Kami akan terus mempertahankan integritas kami, kedaulatan kami, kemerdekaan kami, sejarah kami," katanya dikutip USA Today.

Rodríguez juga menyatakan komitmennya menjaga kedaulatan, integritas, serta sejarah Venezuela. Meski menolak gagasan menjadi negara bagian AS, eks wakil presiden era Maduro itu belum menetapkan jadwal pemilu demokratis.

3. Pemerintah AS menjalankan fase stabilitas Venezuela

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Pemerintah AS kini memusatkan perhatian pada fase yang disebut Penasihat Energi Jarrod Agen sebagai stability phase. Tahapan itu berfokus pada kerja sama energi dan normalisasi aktivitas harian masyarakat Venezuela.

Secara diplomatik, kedutaan besar AS di Caracas kembali dibuka sejak Maret. Selain itu, rute penerbangan langsung antara kedua negara juga telah dipulihkan.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyampaikan pernyataan yang lebih hati-hati di depan Kongres AS. Rubio mengatakan kehadiran militer AS di Venezuela bersifat terbatas.

Rubio juga menegaskan bahwa personel militer yang terlihat di lapangan hanya penjaga Marinir di kompleks kedutaan besar AS. Pernyataan itu muncul di tengah perhatian internasional terhadap operasi Washington di Venezuela.

Meski Trump terus membahas status negara bagian Venezuela melalui media sosial Truth Social, proses hukumnya di AS tak berlangsung sederhana. Trump beberapa kali kembali mengangkat isu tersebut setelah kemenangan tim baseball Venezuela atas Italia.

Berdasarkan Pasal IV Konstitusi AS, penambahan negara bagian baru memerlukan persetujuan Kongres AS serta persetujuan dari wilayah atau negara terkait melalui badan legislatifnya. Ketentuan itu menjadi dasar hukum utama dalam proses pembentukan negara bagian baru.

Langkah tersebut juga menuai kritik dari komunitas internasional. Koalisi lebih dari 40 kelompok hak asasi manusia di Amerika Latin menyatakan rakyat Venezuela tetap berhak memperoleh transisi demokrasi yang sah.

Koalisi itu menilai penegakan hukum atas pelanggaran HAM masa lalu tak bisa digunakan untuk merusak tatanan internasional maupun membenarkan tindakan sepihak dari negara yang lebih kuat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More